“Kenapa?” Erlangga menatap wajah Kirana dengan seksama, pasalnya selama perjalanan pulang wanita itu memilih diam, tidak bersuara sedikitpun. “Sakit?” Erlangga mendekatkan wajahnya, untuk memastikan kondisi istrinya. “Nggak,” Kirana menggeleng, bahkan berusaha tersenyum agar Lelaki itu yakin bahwa kondisinya baik-baik saja. “Kenapa diem aja?” “Nggak apa-apa,” senyumnya semakin lebar saja, kali ini Kirana pun memegang satu tangan Erlangga, sebagai bentuk meyakinkan. “Kalau ada apa-apa, bilang. Jangan diem kayak gitu, aku bukan peramal yang bisa tahu isi hati kamu.” Kirana mengangguk. “Nggak apa-apa, beneran.” Sesampainya di rumah, Kirana dan Erlangga merapikan bahan makanan dan segala kebutuhan rumah. Setelahnya, mereka memasak bersama. Sungguh menyenangkan bisa berbagi tugas sam

