Bab 10. Butuh kamu

1073 Kata
Erlangga terbangun dengan kondisi kepala sakit. Semalam masih baik-baik saja, tapi pagi ini terasa begitu berat dan suhu tubuhnya pun panas. Erlangga melirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul empat dini hari, baru dua jam ia tertidur, setelah pulang dari apartemen Kirana pukul dua belas. Bukan pulang, tapi lebih tepatnya di usir. Wanita itu berhasil mengusirnya dan Erlangga pun tidak punya alasan untuk tetap memaksa. Masih sangat pagi dan seharusnya ia melanjutkan tidur sampai pukul enam, tapi rasa kantuk hilang begitu saja berganti dengan sakit yang begitu nyeri dibagian kepala. Erlangga turun dari tempat tidur, lalu keluar untuk mencari minum dan obat. Setelah mendapatkan minum, Erlangga segera mencari kotak obat yang biasanya diletakkan Kirana di nakas. Sayangnya di dalam kotak obat tersebut tidak terdapat obat yang bisa meredakan nyeri kepala, hanya ada obat luka dan plester. “Aduh,,” Erlangga mengaduh, memijat pelipisnya. Menaruh kembali kotak tersebut ke tempat semula, lantas melangkah menuju kamar Kirana. Saat pintu itu terbuka, ia melihat situasi kamar yang sepi, dingin dan hampa. Tidak ada lagi wanita itu di sana. Satu Minggu berlalu tanpa kehadirannya di rumah dan Erlangga mulai merasakan kekacauan itu datang silih berganti. Biasanya saat kondisinya kurang sehat seperti saat ini, Kirana akan membuatkan sesuatu yang bisa mengurangi sakitnya dan jika masih belum reda, wanita itu akan dengan segera membelikan obat. Tapi sekarang wanita itu dan segala bentuk perhatiannya sudah tidak ada lagi. Kehilangan mulai menggerogoti hatinya, tapi ia tetap tidak mau mengakui. Sampai pukul tujuh pagi, sakit kepala yang dilaksanakannya belum juga reda. Malah tambah parah. Tidak bisa dibiarkan begitu saja, karena Erlangga yakin tidak mungkin sembuh tanpa diobati. Akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi ibunya, satu-satunya orang yang dianggap bisa menolongnya saat ini. “Bu, aku sakit.” Keluh Erlangga, setelah berhasil menghubungi ibunya. “Sakit ke rumah sakit lah, kenapa malah nelpon Ibu.” jawab wanita itu dengan nada ketus. Erlangga menjauhkan ponselnya untuk beberapa saat, tidak percaya dengan apa yang diucapkan ibunya. “Kepalaku sakit, Bu.” ucapnya lagi dengan suara merintih. Ia benar-benar kesakitan. “Beli obat, jangan manja!” Sepertinya Erlangga salah telah menghubungi ibunya. Bukannya mendapat pertolongan tapi malah justru pengabaian yang didapat. “Aku nggak bisa keluar, Bu. Kepalanya sakit banget.” “Kalau gitu panggil saja salah satu wanita yang kamu banggakan itu, Ibu ada acara sama Kirana, jangan ganggu!” Panggilan terputus secara sepihak. Erlangga tertegun menatap layar ponselnya yang sudah berubah hitam. Saat ini Kiana tengah bersama Ibunya, entah apa yang dilakukan wanita itu, tapi satu hal yang pasti, Kirana sedang menceritakan segala keburukannya pada Ibu, hingga ibu pun bersikap abai padanya. “Kirana benar-benar licik!” Keyakinannya semakin bertambah saja, bahwa wanita itu memang tidak sebaik yang dikira selama ini. Kirana memang diam saat Erlangga dengan sengaja menyakitinya, tapi wanita itu justru menunggu momen yang tepat untuk membalasnya, dan saat inilah ia memanfaatkan kesempatan terakhir sebelum benar-benar berpisah. Erlangga masih tidak percaya dengan apa yang dilakukannya selama satu minggu ini, membiarkan surat cerai itu ada di lemari kerjanya tanpa melanjutkan proses selanjutnya. Mungkin prosesnya akan lebih cepat jika ia bergerak sejak satu minggu lalu, tapi akibat keraguan yang ada dalam hatinya, ia pun mengurungkan niat dan membiarkan keadaan menjadi tidak terkendali seperti saat ini. “Lihat saja Kirana, aku akan segera memproses semuanya agar kamu tidak perlu bersandiwara di depan Ibu lagi.” Desis Erlangga. Pada akhirnya Erlangga pun memutuskan untuk menghubungi Niken, hanya wanita itu yang bisa diandalkan dan tentunya ia pun bersedia datang dalam waktu yang sangat singkat. “Tumben bolehin aku datang ke sini, Er.” Niken tiba membawa obat dan makanan yang dipesan Erlangga. Sebelumnya ia memang tidak memperbolehkan Niken datang ke rumahnya apapun alasannya, tapi untuk kali ini ada pengecualian. Ia butuh bantuan seseorang dan tidak mungkin menghubungi Kirana. Dimana harga dirinya jika harus memohon dan meminta wanita itu kembali. “Kamu bawa bubur yang kupesan?” Niken menggelengkan kepalanya. “Sejak kapan kamu suka bubur? Aku beli makanan kesukaan kamu aja.” Wanita itu menaruh paper bag di atas meja, mengeluarkan isinya secara bertahap. “Aku beli daging lada hitam, dan ayam pop. Kamu suka itu, kan?” Erlangga menghela, ia memang menyukai makanan itu jika kondisinya dalam keadaan sehat. Tapi, disaat seperti ini tentu saja bubur adalah pilihan terbaik. “Mana obatnya, aku mau minum obat dulu.” Ia mengulurkan tangan ke arah Niken. “Ini, aku beli beberapa macam. Pilih saja.” Wanita itu membeli beberapa macam jenis obat sakit kepala, Erlangga mengambilnya satu lantas segera menuju dapur untuk mengambil air minum. “Nggak makan dulu? Aku panaskan kalau mau.” Niken menawarkan makanan, “Ada nasi, kan? Soalnya aku nggak bisa masak nasi.” “Nggak ada nasi.” Setelah Kirana pergi, Erlangga tidak pernah sekalipun menyentuh dapur kecuali untuk minum atau menyeduh kopi Instan. Untuk makanan yang dikonsumsi, ia lebih memilih beli jadi atau makan di kantor sebelum pulang. Merepotkan diri dengan segala urusan dapur hanya akan membuatnya semakin terlihat mengenaskan, pasca ditinggal sang istri. “Gimana dong, mau beli online aja? Aku beneran nggak bisa masak nasi. Atau belajar saja dari YouTube.” Erlangga tidak menghiraukan saran Niken, yang terpenting sakit kepala yang dirasakannya bisa sedikit berkurang. Usai meminum obat, Erlangga merebahkan tubuhnya di sofa membiarkan Niken melakukan apa saja di dapur. Terdengar suara-suara dari arah dapur, cukup bising dan mengganggu. Tapi Erlangga tidak peduli, ia butuh istirahat setidaknya membiarkan obat yang dikonsumsinya bekerja. “Er, aku udah masak nasi nanti kita makan bersama, ya?” Niken menghampiri Erlangga dan duduk di sampingnya. “Kamu beneran sakit? Badan kamu panas loh,” Niken mengusap kening Erlangga dengan perlahan dan merasakan suhu tubuhnya lebih panas dari suhu tubuh normal. “Kita ke dokter aja, gimana?” Erlangga menggeleng, menolak tawaran Niken. “Aku mau tidur aja.” “Baiklah. Kamu tidur saja, nanti aku bangunin setelah nasinya matang.” Erlangga berusaha memejamkan kedua matanya, walau rasa sakit yang dirasakan semakin menjadi dan kepalanya seperti mau pecah. Jika sebelumnya hanya butuh obat dan sakit kepalanya reda dengan sendiri, tapi kali ini berbeda. Tubuhnya pun mulai terasa dingin, sementara suhunya kian meningkat.. “Er, kamu beneran sakit deh. Kita ke rumah sakit aja ya?” paksa Niken. “Kamu demam dan menggigil.” Nien mulai panik, ia tidak terbiasa mengurus seseorang hingga membuatnya kebingungan sendiri. “Aku nggak bisa jaga orang sakit, nggak tahu apa yang harus aku lakukan.” “Panggil Kirana.” Lirih Erlangga. “Apa?” “Panggil Kirana, aku butuh dia.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN