Pintu terbuka saat seorang wanita membuka pintu. Teti nyaris saja melabraknya.
Jika bukan karena Kirana menahan tangannya dengan begitu kuat, mungkin ia sudah memukul, menjambak bahkan mencakar wajahnya.
“Jangan, Bu.” ucap Kirana tenang.
“Erlangga sakit.” Lanjutnya.
Niken pun terkejut melihat kedatangan Teti, yang dihubunginya Kirana seseorang, tanpa diduga Teti pun ikut bersama.
“Pergi!” Ucap Teti, pelan namun penuh penekanan.
Tapi Niken tidak menuruti ucapan Teti, ia justru ikut bersama menghampiri Erlangga.
“Penyakitnya kumat, kalau nggak makan teratur atau kotor.” Kirana langsung menaruh tas di atas meja, menggulung pakaian lengan panjang yang dikenakannya.
“Aku buatkan dulu bubur, dia butuh asupan makanan dan obat.”
“Obatnya di mana? Ibu ambilkan.”
“Ada di nakas depan, dekat rak sepatu.”
Teti mengangguk, lantas segera menuju tempat yang dimaksud. Sementara itu Niken masih bersikap masa bodo dengan kehadiran dua wanita itu, alih-alih merasa canggung atau malu, ia justru duduk di samping Erlangga dan mengusap dahinya yang sudah basah oleh keringat.
“Ibu dan mantan istrimu datang, mereka akan menyiapkan makanan dan obat untukmu.”
Kedua mata Erlangga membulat sempurna saat mengetahui kedua wanita itu ada di rumah, sementara Niken pun ada di sampingnya.
“Apa? Kenapa kamu nggak pulang?” Bahkan lelaki itu pun langsung bangkit dan duduk.
“Pulang!” Usirnya.
“Kenapa? Mereka nggak keberatan aku disini.”
Erlangga memijat pelipisnya, “Pulang sekarang juga!” tegasnya.
Ia juga menoleh ke arah dimana Kirana berada, saat wanita itu tengah berkutat di dapur tengah membuat sesuatu disana. Selain itu, ia juga mencari dimana ibunya berada dan saat tatapannya menangkap sosok itu, ia mendapati wanita paruh baya tengah menatap tajam ke arahnya dengan kilatan emosi di kedua matanya.
“Pergi sekarang juga!” Erlangga mendorong Niken.
“Kamu kenapa sih?!” Protes Niken, merasa tidak terima dengan sikap Erlangga yang terus berusaha mengusirnya.
“Mereka aja nggak keberatan aku disini, lagipula udah waktunya mereka berdua tahu hubungan kita.”
“Pergi, sekarang juga!” Ucap Erlangga penuh penekanan, dengan sorot mata tajam.
Jika sudah seperti ini, Niken pun tidak dapat berbuat apa-apa. Ia hanya bisa menghela lemah dan menerima kenyataan bahwa ia harus segera pergi dari tempat itu.
“Aku pulang dulu, semoga lekas sehat sayang.” Ucap Niken, sebelum benar-benar pergi. Ia sengaja mengatakannya dengan suara yang cukup kencang, agar Kirana dan Teti mendengar.
“Ibu mau pulang?” tanya Kirana, menghampiri Ibu. Tahu jika wanita paruh baya itu pasti akan murka, setelah melihat putranya membawa wanita lain ke rumah.
“Ibu masih ingin disini,” ibu memegang erat tangan Kirana, “Ibu ingin bersamamu.”
Kirana tersenyum. “Ya sudah, tapi janji nggak marah ya?”
Enggan mengiyakan, tapi Teti tidak punya pilihan lain, selain mengangguk.
“Iya. Ibu tunggu di kamar, ya?”
Kirana mengangguk, “Nanti Kirana nyusul.”
Teti pun memilih untuk masuk kedalam kamar untuk menghindari ledakan emosi yang mungkin tidak dapat dikendalikannya.
Kini hanya tinggal Erlangga dan Kirana saja berdua. Dimana keheningan itu pun begitu terasa.
“Makan dulu, aku buatkan bubur. Setelah itu minum obat dan istirahat.” Kirana menyodorkan semangkuk bubur panas, segelas air dan dua butir obat yang diambilnya dari dalam kotak obat. Wanita itu berhasil menemukan obat yang dicarinya tadi, tapi anehnya Erlangga tidak dapat menentukan benda tersebut dan malah menyulitkan diri dengan menghubungi Niken. Jelas-jelas wanita itu tidak bisa menolongnya, justru malah menimbulkan banyak masalah. Selain dapur menjadi berantakan, juga masih yang terlalu lembek akibat terlalu banyak air. Wanita itu tidak bisa melakukan apapun, selain melayaninya di ranjang. Tapi Kirana justru bisa melakukan banyak hal untuknya.
“Makan dulu,” ulang Kirana, sebab Erlangga tidak menanggapi ucapannya.
“Nggak bisa makan,” jawabnya lemah.
“Kenapa? Nggak bisa nelen atau sakit?”
“Tanganku sangat lemas.”
Kirana menghela lemah, yang artinya ia harus menyuapi laki itu. Padahal kontak fisik adalah hal yang sangat dihindarinya, namun kondisi lelaki itu pun sangat lemah terlihat dari sorot matanya yang memerah dan berair.
“Baiklah.” ucapnya dengan lembut.
“Tapi, habiskan semuanya jangan sampai tersisa.”
Erlangga menganggukkan kepalanya, mengiyakan perintah Kirana. Untuk pertama kalinya ia tidak membantah apalagi mendebat Kirana.
Satu mangkok bubur berhasil dihabiskan, lanjut dengan dua butir obat yang juga harus dihabiskan Erlangga.
“Selesai, sekarang kamu istirahat.”
“Kirana, tunggu!” Langkahnya terhenti, saat Erlangga kembali memanggil.
Ia pun menoleh. “Kenapa? Butuh sesuatu?” Tanya Kirana lagi.
“Apa setelah ini kamu akan pergi?”
“Tergantung situasi. Jika kondisimu membaik, tentu saja aku akan pulang. Jika tidak, aku akan tetap disini.”
Dengan ragu, Erlangga mengatakannya. “Jangan pergi.” ucapnya dengan terbata-bata. “Malam ini saja,” lanjutnya. Saat ini lelaki itu sedang bertarung dengan egonya yang begitu tinggi, namun kehadiran Kirana jelas membuat kondisinya membaik dan tidak ingin saat terbangun sosok itu kembali menghilang.
“Aku tidak bisa memastikan.” Kirana tidak menjanjikan apapun, “Istirahatlah, kondisimu akan segera membaik.”
Kirana kembali melanjutkan langkahnya menuju dapur untuk membereskan segala kekacauan yang telah dibuat Niken.
Erlangga hanya bisa menghela lemah, menatap penuh sesal ke arah Kirana. Ia juga tidak berani menemui ibunya, untuk saat ini ia belum siap menerima amarah wanita yang telah melahirkannya itu. Erlangga pun memutuskan untuk masuk kedalam kamarnya dan beristirahat, berharap Kirana akan tetap berada di rumah saat ia terbangun nanti.
Obat dan kondisi perut yang sudah penuh, membuat kedua matanya memberat. Akhirnya Erlangga pun bisa tertidur selang beberapa menit ada di dalam kamar.
Sementara itu, Kirana segera menghampiri Teti setelah membersihkan dapur.
“Ayo, kita pulang Bu.” Ajaknya.
Wanita itu tengah menangis, meskipun bukan dirinya yang mengalami pengkhianatan itu, tapi sebagai seorang wanita ia bisa merasakan bagaimana sakitnya dikhianati dan juga sebagai ibu ia merasa gagal mendidik anaknya.
“Kirana, ibu sangat malu.” Lirihnya.
“Aku baik-baik saja kalu ibu mau tahu keadaanku dan akan semakin membaik setelah semua ini berlalu. Aku butuh dukungan ibu, tolong bantu aku.”
“Tantu, Nak. Ibu akan membantumu, ibu selalu ada untukmu sayang.” Teti pun memeluk Kirana dengan begitu kuat.
“Jikapun suatu hari nanti kau memilih menyerah, aku akan tetap menjadi ibumu. Aku bukan wanita yang melahirkanmu, tidak ada darahku yang mengalir di tubuhmu tapi aku adalah Ibumu. Aku tetap ibumu.” Teti kembali meyakinkan Kirana, bahwa dirinya bukan hanya sekedar ibu mertua untuknya tapi juga ibu kandungnya.
“Iya.” Kirana mengangguk, mengiyakan. Lantas setelah memastikan situasi aman dan Erlangga tertidur, Kirana dan Teti pun memutuskan untuk pulang.
Satu tahun yang berat dilalui Kirana, tapi tidak pernah sekalipun Teti mengetahui perilaku Erlangga pada Kirana, namun kecurigaannya muncul setelah seorang kepercayaannya mengatakan bahwa Kirana dan Erlangga sudah pisah rumah. Setelah tahu keadaan rumah tangga anaknya berada di ujung tanduk pun, Teti tidak tahu penyebab dan alasan yang membuat mereka memutuskan untuk berpisah, sampai satu hari ia melihat dengan mata kepala sendiri Erlangga bersama wanita di sebuah apartemen.