Bab 12. Cacat moral

1089 Kata
“Prosesnya masih belum berjalan?” Kirana menoleh ke arah suara, dimana seorang lelaki tampan tengah duduk di depannya. Mereka sedang menikmati makan siang bersama di salah satu restoran. “Belum.” jawabnya lemah. “Kenapa? Apa Erlangga berubah pikiran?” Kirana menghela, menaruh sendok dan garpu yang ada di kedua tangannya. “Aku rasa nggak. Hanya mengulur waktu saja, mencari kesalahanku.” Lelaki itu mengangguk, paham betul akan keadaan rumah tangga yang dijalani Kirana dengan suaminya Erlangga. “Mau aku bantu?” tanyanya lagi “Jangan. Biarkan kami menyelesaikannya, tanpa bantuan orang lain.” Tolak Kirana, sebab jika sampai lelaki itu turun tangan dan membantunya, Erlangga akan semakin mempersulit semuanya. “Dia akan menuduhku selingkuh.” Keluh Kirana, selama ini pun, Erlangga kerap menuduhnya seperti itu padahal tidak ada satupun bukti yang membuktikan bahwa dirinya selingkuh. “Bilang saja iya,” “Aku nggak mau membuat situasi semakin kacau,” balas Kirana, tidak setuju dengan saran dari lelaki itu. “Anggap saja impas, karena dia pun melakukan hal serupa. Selingkuh dengan banyak wanita.” “Adrian.” Keluh Kirana, sementara Adrian hanya terkekeh. “Faktanya memang seperti itu.” Meskipun apa yang diucapkan Adrian benar, tapi Kirana tidak mau bertindak gegabah. “Apa yang membuatmu bertahan sampai sejauh ini, Kirana? Apakah kamu mencintainya?” Kirana tidak lantas menjawab, ia menatap ke arah lain dan menghela lemah. “Ibu, hanya itu satu-satunya alasan yang membuatku bertahan.” “Bahkan kamu rela menghabiskan waktumu dengan b******n itu, karena Ibu?” pertanyaan bernada sindiran itu membuat Kirana meringis. “Iya.” “Kenapa?” Bahkan Adrian pun sangat menyesalkan keputusan Kirana, saat menerima perjodohan itu. “Sejak awal pun kamu tahu, Erlangga seperti itu. Tapi masih nekat menerimanya,” “Mungkin terdengar konyol, tapi dari Ibu Teti aku merasakan kasih sayang seorang Ibu. Aku tidak tahu seperti apa sosok ibuku, karena dia membuangku sejak masih bayi, hadirnya mengisi kekosongan dalam hatiku dan menghadirkan sosok Ibu yang selalu aku rindukan.” Kirana tersenyum samar. “Kamu nggak akan tahu rasanya seperti ada, sebab kamu terlahir dari keluarga utuh.” Adrian menatap sedih ke arah Kirana. Mengenal sosok wanita itu sejak keduanya masih remaja, dan terpaksa berpisah karena Adrian harus melanjutkan pendidikan di luar negri. Lelaki itu menyimpan rasa untuk Kirana, hanya saja ia tidak berani mengungkapkannya. Rencana ingin mengungkapkan isi hatinya setelah menyelesaikan pendidikan dan mulai meniti karir, namun sayangnya Adrian kalah cepat. Kirana sudah terlanjur menikah. “Aku selalu menawarkan kehangatan keluarga seutuhnya padamu, tapi kamu selalu menolak.” Adrian terkekeh pelan. “Adrian, aku menyesal karena telah melibatkanmu dalam masalah ini. Nggak seharusnya kamu menunggu, kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dariku.” Kirana menyesal, karena telah memberikan harapan pada Adrian yang membuat lelaki itu selalu menunggunya. Padahal kenyataannya tidak ada yang pasti dalam hubungan rumah tangga antara dirinya dan Erlangga. “Nggak apa-apa, aku masih sanggup nunggu. Berapa lama lagi? Satu tahun lagi? Atau dua tahun? Aku siap.” Tidak terlihat penyesalan di raut wajahnya, tapi sorot mata lelaki itu tidak bisa berbohong. Dia terlihat kecewa. Hidup memang pilihan dan sejak awal Kirana sudah memutuskan untuk menikah dengan Erlangga. Lelaki yang tidak mencintainya. Segala resiko dan kemungkinan terburuk sudah dipersiapkan Kirana, mengingat lelaki itu tidak pernah bersikap baik padanya. Tapi tidak hanya tentang segala sikap buruk Erlangga yang akan diterima, juga kemungkinan buruk ia akan jatuh cinta pada lelaki itu. Sulit mengendalikannya jika sudah melibatkan hati, bahkan hal-hal yang dianggap buruk pun tetap tidak akan menjadi alasan untuk pergi tapi justru memilih bertahan dengan harapan kesabaran akan membuahkan hasil. Namun Kirana tidak tahu kesabarannya selama ini apakah akan menghasilkan hasil sepadan atau hanya sia-sia saja. Ia belum bisa memastikan sebelum putusan hakim mengesahkan gugatan perceraian mereka berdua. “Udah makan siang?” Senyum Teti mengembang sempurna melihat kedatangan Kirana da Adrian. “Iya. Kami belikan juga untuk Ibu,” Adrian mengangkat satu tangannya, dimana terdapat kantong plastik berwarna putih, berisi makanan. “Wah,, terima kasih banyak Adrian. Kebetulan Ibu beluk makan.” Teti menerimanya dengan senang. “Mau masuk dulu? Minum teh bersama?” Ajek Teti. “Nggak usah, lain kali aja. Harus balik ke kantor lagi,” tolak Adrian dengan lembut dan sopan. “Baiklah kalau begitu, hati-hati di jalan.” Adrian mengangguk dan segera pamit. Kini hanya tinggal Kirana dan Teti berdua, yang masih menatap mobil Adrian hingga sosoknya tidak terlihat lagi. “Erlangga ada di dalam, mungkin sekarang lagi lihat kesini.” ucapnya dengan tatapan masih lurus ke depan. “Jangan nengok!” ucapnya lagi, saat Kirana nyaris menoleh ke arah butik. “Pergilah ke toko kain, ada barang yang harus kamu ambil di sana.” Teti memberikan nota berisi catatan barang apa saja yang harus dibeli. “Jangan kembali setelah membeli semua yang ada di catatan ini, pulanglah ke rumah.” Kirana tahu maksud dari Teti menyuruhnya ke toko kain, yakni untuk menghindari pertemuan dengan Erlangga. “Pergilah, Ibu akan kembali masuk.” Kirana hanya mengangguk patuh, bahkan ia pun menuruti keinginan Teti untuk tidak menoleh ke arah Butik dimana Erlangga tengah menatapnya dengan tatapan penuh amarah. Sementara itu Erlangga semakin dibuat kesal, saat melihat Kirana pergi tanpa menemuinya terlebih dahulu. Sulit sekali menemuinya akhir-akhir ini, bahkan saat ia sakit beberapa waktu lalu pun, Kirana tidak lagi datang untuk menjenguk atau merawatnya. Erlangga sempat memohon, dengan mengirim banyak pesan padanya, namun Kirana menolak. Alasan sakit pun tidak lantas membuat Kirana datang, bahkan saat Erlangga meminta dibuatkan sop buntut kesukaannya pun, Kirana lebih memilih untuk mengirimkan makanan tersebut melalui ojek online daripada harus datang ke apartemen Erlangga. “Mamah kenal selingkuhan Kirana?” tanya Erlangga dengan tatapan penuh amarah. “Kenal.” jawab Teti dengan ekspresi tenang. “Ibu membiarkan Kirana berselingkuh.” Teti menaruh makanan pemberian Adrian di atas meja, lantas menatap tajam ke arah Erlangga. “Tentu. Memangnya kenapa? Salah gitu?” “Salah lah, Bu!” Sentak Erlangga, namun ia menyadari bahwa nada suaranya sudah terlalu tinggi. “Maaf, bukan begitu maksudnya.” Ia kembali merendahkan nada bicaranya. “Kirana masih punya suami, Bu. Aku tahu Ibu sayang sama dia, tapi bukan berarti membiarkan perbuatannya seperti itu. Kirana nggak sebaik yang Ibu kira, dia hanya memanfaatkan Ibu dan mengincar harta aja.” “Lalu apa bedanya denganmu? Kamu pun selingkuh, semua wanita yang kamu kencani pun mengincar harta dan uang yang kamu punya, lantas kenapa kamu protes? Seharusnya kamu berkaca, apa kesalahanmu selama ini, bukan hanya menyalahkan orang lain.” balas Teti. “Nggak habis pikir kenapa aku bisa membesarkan anak seperti kamu.” Tatapan Teti semakin tajam. “Cacat moral!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN