Bab 13. Syarat baru

1143 Kata
“Aku rasa kamu salah masuk rumah,” Kirana menatap kesal ke arah Erlangga, saat lelaki itu masuk dengan paksa ke rumahnya. Jangan tanya bagaimana Erlangga bisa ada di rumahnya, sebab lelaki itu bertamu dengan tidak sopan nya. Bahkan saat Kirana ingin mengusirnya, lelaki itu menerobos paksa dan nyaris membuat Kirana terjatuh. “Biar aku antar kamu ke tempat Fani sekarang.” Kirana bersiap hendak mengusir lelaki itu, walaupun pada akhirnya tetap penolakan yang akan didapatnya. “Jadi, selama ini kamu sudah berhasil membuat Ibu ada di pihakmu? Dengan menceritakan semua keburukanku padanya, agar Ibu bersimpati dan memihakmu.” Tuduhnya dengan mata menatap tajam. “Aku tidak akan mengelak, tidak juga membela diri, terserah kamu saja.” Kirana menghela, “Sekarang lebih baik kamu ke tempat Fani saja, aku mau Istirahat.” “Istri macam apa yang lemparin suaminya ke cewek lain?” Kirana terdiam sejenak, tidak bisa mendebat. “Kamu memang sudah merencanakan semuanya tanpa sepengetahuanku. Kamu memang licik, Kirana!” Kilatan amarah terlihat jelas di sorot mata Erlangga. “Jadi, selama ini kamu hanya berakting menjadi istri yang baik, padahal aslinya kamu licik! Bahkan baru saja kamu mengusir suamimu sendiri, melemparnya ke tempat perempuan lain!” “Tapi, sekarang situasinya udah beda. Kita udah sepakat bercerai, hubungan kita sudah selesai.” Kirana mundur perlahan, saat Erlangga melangkah maju mendekatinya. “Aku masih suami kamu!” Kirana terdiam, sadar bahwa waktu yang berlalu begitu saja tidak lantas membuat kejelasan pada hubungan mereka. Erlangga tersenyum penuh arti, yang membuat Kirana mulai curiga. “Suratnya?” “Suratnya belum kemana-mana, masih ada padaku.” Erlangga terkekeh. Kirana memang sudah mulai curiga, tapi ia tidak menyangka Erlangga akan mempersulit hal yang dulu sangat diinginkannya, bahkan dulu Erlangga terlihat begitu bersikeras menginginkan perceraian itu terjadi. “Kenapa?” tanya Kirana berkerut dahi menuntut penjelasan. “Kenapa suratnya belum diajukan?” Erlangga tidak lantas menjawab, membuat Kirana menunggu. “Atau jangan-jangan kamu berubah pikiran?” tanya Kirana dengan hati-hati, sadar jika pertanyaan tersebut sangat berpotensi ditertawakan oleh Erlangga. “Apa yang akan kamu lakukan kalau aku berubah pikiran?” Erlangga balik bertanya dengan tatapan serius. “Kalau begitu, aku yang akan mengajukan gugatan.” jawab Kirana dengan tenang. Erlangga tersenyum masam. “Kamu beneran mau menikah dengan lelaki tadi setelah kita berpisah?” “Ini masalah kita berdua, nggak ada hubungannya dengan Adrian.” Kirana menghela “Nggak ada campur tangan orang luar pun, hubungan kita udah nggak sehat.” lanjut Kirana. “Tahan dulu gugatannya,,” “Aku nggak perlu persetujuan kamu,” Kirana memotong ucapan Erlangga, “Semua yang kamu lakukan selama satu tahun ini sudah cukup buat dijadikan alasan lolosnya gugatan aku.” lanjut Kirana. Hening beberapa saat. Kirana rasa suaminya itu tidak bisa lagi mengelak, apalagi dengan segala bukti yang memang terpampang jelas dan Kirana pun menyaksikan sendiri, bukan hanya sekedar gosip atau kabar burung saja. “Kamu mau, kalau misalkan kita mulai semuanya dari awal?” Alih-alih menjawab, Kirana justru memalingkan wajah dan berjalan perlahan menuju ke dapur untuk mencari sesuatu yang bisa membasahi tenggorokannya. Entah serius atau tidak, tapi ajakan lelaki itu berhasil menggoyahkan pertahanannya. “Aku nggak berharap kamu serius dengan ucapanmu barusan, kamu nggak pernah serius sama aku. Sejak dulu,” balasan yang tenang itu membuat Erlangga kesal, ia pun bergegas mendekati Kirana. “Aku serius.” Erlangga berusaha meyakinkan, bahkan tanpa Kirana tahu hatinya kini dilanda rasa nyeri yang tiba-tiba saja muncul, sesaat setelah ucapan Kirana terlontar begitu saja. Bukan karena ketahuan bohong yang menjadi penyebabnya, melainkan ia melihat kekecewaan yang begitu besar tersirat di setiap kata yang terucap. “Kamu tidak tertarik?” “Aku akan tetap ajukan surat gugatannya.” “Segampang itu?” Erlangga tersenyum masam setengah tidak percaya. “Kita nggak punya apa-apa, nggak ada kenangan atau yang lainnya.” Jawab Kirana. “Nggak ada yang perlu aku pertahanin dari kamu.” Cara Kirana mengucapkan dengan tenang membuat membuat kata-kata itu terdengar lebih dingin dan tega. “Bagaimana dengan Ibu? Dia pasti kecewa.” “Jangan bawa-bawa Ibu,” Erlangga tersenyum licik, saat melihat ekspresi tidak senang yang terlihat di wajah Kirana. Akhirnya Erlangga berhasil menemukan kelemahan wanita itu. “Aku nggak tahu jenis hubungan apa yang terjadi diantara kalian berdua, tapi aku yakin kamu sudah berhasil membuat Ibu berada di pihakmu sekarang.” Kirana kembali menatap ke arah Erlangga. “Itu urusanku dan Ibu, nggak ada hubungannya sama kamu.” “Jelas ada, aku suami kamu bahkan aku jauh lebih berhak atas diri kamu dibandingkan Ibu. Apa kamu lupa?” Kirana menghela lemah karena ia tidak bisa menyangkal. “Kenapa kau jadi kayak gini? Kemarin kamu sendiri yang minta aku menandatangani surat itu, teruse sekarang-” “Satu bulan.” Potong Erlangga, menjentikkan jari telunjuknya. Kirana mengerutkan kening tidak paham. “Syarat terakhir sebelum aku ajukan surat cerainya.” jelas Erlangga. “Syarat?” Tanya Kirana tidak percaya. “Syarat buat apa? Kalau kamu nggak mau ajukan surat itu, biar aku saja. Aku nggak butuh persetujuan dari kamu buat itu. Aku yakin, tanpa persetujuan dari kamu pun, semua prosesnya akan mudah.” “Lakukan demi Ibu,” kata Erlangga dengan raut serius. “Nggak,” “Penuhi hak aku selama satu bulan dan setelah itu buat aku yang urus perceraiannya.” “Apa? Hak?” Kirana semakin dibuat tidak mengerti. “Aku sudah melakukannya sejak satu tahun lalu, dan kamu masih menuntut hak?” Berharap ia salah dengar. “Selama ini aku selalu memenuhi kewajibanku sebagai suami, penuh tanpa kurang sedikitpun. Jadi, nggak ada salahnya kalau aku menuntut hakku selama satu bulan ini.” “Tapi, bukan aku yang nggak mau kasih hak kamu, tapi kamu yang selalu menghindar. Kamu yang pergi, bahkan nggak pernah pulang dan memilih bersama wanita lain.” “Dan sekarang, hak itu aku minta.” Potong Erlangga. Kirana tercengang, kehabisan kata-kata. Keduanya beradu pandang, tapi Erlangga terlihat bersikeras dengan keinginannya. “Hanya satu bulan, untuk satu tahun yang terbuang sia-sia. Aku ingin merasakan bagaimana rumah tangga yang sesungguhnya.” Kirana memalingkan wajah, ia terlihat kesal. Situasinya kembali hening, untuk beberapa saat. Kirana Mash terlihat berpikir, sementara Erlangga merasa berhasil telah membuat Kirana bimbang. “Satu bulan dan setelah itu aku urus perceraiannya.” Erlangga memperjelas kesepakatannya. Kirana menatap lelaki itu dengan seksama, mencari kebohongan yang tersirat di sorot matanya. Tapi Erlangga terlalu serius hingga membuat Kirana tidak bisa menemukan kebohongan di sana. “Aku setuju.” Akhirnya Kirana setuju. “Tapi dengan syarat, selama satu bulan kamu nggak boleh melakukan hal itu dengan perempuan lain. Begitu kamu gagal, aku akan langsung mengajukan gugatannya.” “Setuju! Itu hal mudah.” balas Erlangga dengan percaya diri. “Mudah?” Kirana mengulang dengan nada tidak percaya. “Bahkan aku nggak yakin kamu sanggup melewati satu bulan tanpa mereka.” “Mudah saja, karena aku punya istri disini, yang bisa memenuhi semua kebutuhanku, termasuk ranjang.” Bisik Erlangga dengan nada menggoda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN