Bab 19. Aturan konyol

1127 Kata

Desah masih bersahutan di tengah jam makan siang. Kirana mencengkram sandaran sofa kuat-kuat saat Erlangga memasukinya dari belakang. “Erlangga,,” Kirana tidak bisa menahan tubuhnya yang mulai terasa lemas di tengah hentakan keras yang terus bertubi-tubi. Suaminya itu melakukannya dengan sedikit keras dan kasar, tapi Kirana justru merasa seperti ada sensasi lain yang kini menjalar dalam dirinya. Panas dan liar. “Er, aku.” “Aku juga,” sahut Erlangga tersengal. Ditahannya pinggang Kirana dan bergerak lebih cepat lagi. Kirana mengeratkan cengkraman tangannya, menahan nafas untuk mengimbangi ketegangan suaminya yang semakin mendekati puncaknya. Hujaman kuat di susul desah lega Erlangga membuat Kirana pun menghela lega walaupun dengan nafas tersengal. Ia ambruk di sofa saat Erlangga me

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN