Zidan datang lebih awal. Bukan karena disiplin, tapi karena sejak siang dia tidak bisa duduk diam di rumahnya. Jam di pergelangannya menunjukkan pukul enam kurang sepuluh, sedangkan janji bertemunya pukul enam lewat tiga puluh. Dia sudah berkeliling dermaga dua kali, sudah menyalakan rokok yang tidak dia hisap, lalu mematikannya. Kafe itu berdiri di ujung dermaga Nexford—bangunan kaca setengah lingkaran menghadap teluk. Senja memantul di air. Lampu-lampu kecil tergantung di rangka besi hitam, memberi cahaya hangat yang terlalu romantis untuk pertemuan bisnis. Naira yang memilih tempat ini. Lebih dari seminggu mereka tidak bertemu di proyek. Tidak ada inspeksi mendadak. Tidak ada rapat lapangan. Hanya pesan formal dan email dingin. Anehnya, jarak itu tidak meredakan apa pun. Setiap kali

