Zidan sedang membilas gelas terakhir di dapur kecil rumahnya ketika ponselnya bergetar di meja. Dia tidak langsung mengangkatnya. Nama Naira di layar. Rahangnya mengeras—bukan karena marah, tapi karena jantungnya tiba-tiba lupa cara berdetak dengan wajar. Air masih mengalir. Zidan mematikannya, menaruh gelas terbalik, lalu mengelap tangannya perlahan di handuk, seolah memberi waktu untuk dirinya sendiri. Telepon itu berhenti. Dua detik kemudian bergetar lagi. Zidan mengangkatnya. “Ya?” “Zidan. Aku tidak mengganggu, kan?” “Tidak. Ada apa?” tanyanya datar, meski suaranya terdengar lebih rendah dari biasanya. “Aku butuh bantuan kecil.” Zidan bersandar ke meja dapur. “Kamu salah orang.” “Malam ini ada pesta ulang tahun seorang pebisnis senior. Undangannya plus one.” Zidan diam s

