Acara diadakan di ballroom hotel. Lampu gantung besar menggantung rendah, lantai marmer memantulkan kilau gaun-gaun malam dan sepatu kulit mahal. Musik mengalir pelan—cukup untuk mengisi ruang tanpa mendominasi. Gelas anggur beradu. Senyum-senyum tipis bertukar. Percakapan berhenti sebelum terlalu dalam. Begitu Naira dan Zidan melangkah masuk, beberapa kepala menoleh. Zidan langsung merasakannya. Bukan tatapan penasaran, melainkan tatapan menimbang—berapa nilainya, pantaskah dia berada di sini. Dia menyesuaikan manset kemeja putihnya tanpa sadar. Celana hitamnya rapi. Sepatunya bersih. Tapi tanpa jas, dia tampak terlalu berbeda. Naira tidak melepaskan lengannya. Pegangannya ringan. Tidak posesif. Tapi cukup tegas untuk mengatakan: dia bersamaku. Beberapa orang menghampiri. "Selamat m

