Bab 28: Kepulangan Sang Penyintas Bandara Internasional Soekarno-Hatta tidak pernah terasa sedingin ini. Meskipun pendingin ruangan berdesis pelan, Aurora merasa seolah embun beku dari Alpen masih menempel di tulang-tulangnya. Ia berjalan menyusuri garbarata dengan pengawalan ketat dari tim gabungan Interpol dan unit khusus kepolisian Indonesia. Tidak ada gaun sutra. Tidak ada riasan tebal. Aurora mengenakan kemeja putih polos dan celana hitam, rambutnya yang kini pendek sebahu membingkai wajahnya yang tampak lebih tirus, namun matanya memancarkan ketenangan yang mematikan. Di luar gerbang kedatangan, ribuan kamera wartawan sudah menunggu, kilatannya menyerupai badai petir yang siap menyambar. "Tetap menunduk, Nona Aurora," bisik seorang petugas di sampingnya. "Tidak," jawab Aurora teg

