BAB 62

2021 Kata

Sepi dan dingin. Pagi yang berselimutkan embun tengah menjatuhkan diri di atas rerumputan dan dedaunan. Hawa dingin itu kian menggigit karena sang surya belum juga menampakkan wajah. Luna menatap ke luar jendela yang terbuka. Embusan angin pagi menerpa wajahnya yang muram dan kuyu, seolah paras ayu itu tertutup jelaga. Ia menghirup napas dalam-dalam, menikmati wangi rumput, dedaunan, dan tanah basah yang memenuhi udara. Lalu mata Luna sedikit basah. Kenangan yang baru saja muncul tanpa diminta membuat dadanya amat sesak dan menjadikan hatinya bergemuruh penuh haru biru. Betapa Tuhan menggenggam semua doa, baik yang kita ucapkan dalam gurauan ataupun yang kita panjatkan dengan penuh keyakinan, semua diwujudkan-Nya pada saat yang tidak pernah kita duga. Saat yang paling indah, menurut wakt

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN