“Kamu suka nggak nama yang tadi?” tanya Alaric sambil duduk di samping Luna yang sedang menonton acara televisi sambil melahap selada buah yang dibawakan oleh ibunya. Luna tetap sibuk makan dan seolah tidak mendengar pertanyaan yang Alaric ajukan. “Kalau kamu punya nama lain juga nggak apa-apa. Itu kan cuma usul. Kita cari aja namanya sama-sama.” “Nggak tahu, tanya aja sama si Kakak, dia suka nama itu apa nggak,” sahut Luna sambil terus mengunyah. Di luar dugaan, Alaric menundukkan wajahnya dan dengan hati-hati mencium perut Luna. Hati Luna berdesir dibuatnya. Ia tidak menyangka Alaric akan memberinya perlakuan semanis ini. “Kakak sayang, Kakak suka nggak nama pemberian Ayah? Kamari Laveandra,” tanya Alaric dengan suara lembut. “Belakangnya tentu aja ditambah Baratajaya, karena Kakak

