Koridor Menuju Coffee Shop, Pukul 15.00 WIB Sejak mendengar pernyataan Marco malam itu, Raras malah menarik diri bukannya segera memberi jawaban pasti. Entahlah, dia masih marah pada Marco. Alasannya tetap sama, kenapa Marco masih bernapas sedangakan Rangga tidak? Raras berjalan cepat, langkahnya pendek-pendek dan terburu-buru. Kepalanya menunduk, matanya fokus pada ujung sepatu flat shoes-nya, seolah sedang menghitung ubin lantai. Dari arah berlawanan, terdengar suara bariton yang sangat ia kenal sedang tertawa lepas. Tubuh Raras menegang dengan radar menyala, memintanya menjauh. Tanpa pikir panjang, Raras berbelok ke kanan, masuk ke lorong farmasi dan bersembunyi di balik tiang yang ada dispenser air minum. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena dia merasa getaran asmara tapi kar

