Lobi RS Mazaya, Pukul 21.45 WIB Layar ponsel Raras menampilkan lingkaran berputar yang tak kunjung berhenti sejak lima belas menit lalu. Mencari pengemudi… “Hufft…, kenapa pada gak mau sih? Apa karena hujan ya, jadi macet dimana-mana?” gumam Raras pada diri sendiri. Raras menghela napas panjang, uap putih tipis keluar dari mulutnya. AC lobi rumah sakit malam ini terasa dua kali lebih dingin dari biasanya, atau mungkin karena tubuhnya yang hanya dibalut kemeja kerja tipis sudah kehabisan energi setelah lembur empat jam ekstra. Pesan w******p dari ayahnya masih terbuka di notifikasi: “Maaf ya Nduk, Bapak nggak bisa jemput. Mobilnya mogok lagi, fanbelt-nya putus, naik taksi saja. Hati-hati naik taksi ya.” Raras kembali membaca pesan itu. Duar! Petir menyambar di langit malam Jakarta,

