Part 21. Bila Memang...?

1881 Kata

...jangan paksakan... * Raras regangkan pinggang dan lehernya yang sudah pegal sedari tadi. Peregangan otot itu terasa sungguh enak, membuat lehernya yang sempat kaku kembali lemas. “Ras, sudah jam delapan. Aku pulang duluan ya, adikku sudah jemput.” Kata Siska, satu-satunya rekan lab. tersisa malam ini. Raras mengangguk, menjawab tanpa suara. Lima bulan terakhir, Raras menjadikan preparat jaringan tumor dan sampel darah sebagai obat untuk melupakan nestapa yang dia rasakan. Dia menenggelamkan diri dalam dunia mikroskopis agar tidak perlu menghadapi dunia nyata yang terlalu besar dan kosong, tanpa Rangga dan calon anak mereka. “Kamu beneran mau nyelesein sampel biopsi Pak Hadi malem ini? Itu kan deadline lusa." Kata Siska, yang sudah berada di depan meja Raras. Raras mengangkat waja

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN