Waktu serasa lambat berjalan. Desau angin menerbangkan anak rambut Nada menutupi sebagian wajah cantik itu menyembunyikan setitik kristal bening yang melesat tanpa permisi. Jantung Nada seperti dihujam belati berkarat, baru saja ia menyemai impian yang indah akan pernikahan dan masa depannya bersama Gibran. Lantas, apa artinya perhatian manis pria itu selama ini jika Gibran kini memintanya untuk melepas cincin pernikahan mereka. "Hei, kenapa malah menangis?" Gibran menangkup kedua belah pipi Nada, memperhatikan lekat manik mata wanita itu. Bukannya terhenti, tangis Nada justru semakin menjadi-jadi. Nada tergugu begitu Gibran merengkuhnya dalam dekapan hangat yang selama ini mampu membuatnya merasa aman dan nyaman. Sayangnya, Nada tak pernah merasa setiap perhatian Gibran padanya adalah