“Kalau masih sore sih saya bisa pulang sendiri, Pak. Kayaknya Bapak enggak perlu nganter saya pulang.” “Nanti saya antar. Saya enggak tega lihat kamu pulang sendirian. Lagian saya juga akan merasa lebih tenang kalau lihat kamu sampai rumah dengan selamat.” Deva tahu Rizki pasti selalu memaksa untuk mengantarnya pulang ke rumah. Dia pun tahu akan sulit menolaknya. “Sampe depan komplek aja, Pak. Jangan sampai depan rumah.” “Ok.” Selesai makan siang, Rizki merapikan meja dan Deva ikut membantunya menumpuk piring di meja. “Deva, kamu duduk aja di ruang tengah, biar saya aja yang bawa semua piring ini ke dapur. Enggak akan lama kok. Nanti saya nyusul kamu ke ruang tengah.” “Enggak apa-apa kok, Pak. Saya bantuin aja ya.” Deva merasa tidak enak sudah diberi makan gratis, tetapi tidak