Umar membuang muka. Tidak ingin melihat wajah sang sahabat yang dipenuhi oleh air mata. Ternyata semalam saat ia dan Ammar bicara, Amira mendengar ucapan mereka. Pagi ini setelah semua orang bangun, Amira mengajak semua orang untuk pulang. “Lo tau kenapa lo jadi khawatir berlebihan gini?” tanya Umar pada Amira. “Karena selama ini yang kena masalah itu selalu elo. Jadi saat kembaran lo yang selalu jadi anak baik itu menuai yang dia tanam, lo berpikir untuk langsung nyelametin dia.” Umar bertanya kemudian ia menjawab sendiri pertanyaannya. “Umar..” panggil Amira lagi, ia begitu memohon agar Umar mau pulang dengannya. Umar berdecak tidak sabar kemudian meninggalkan Amira begitu saja. “Divya masih istri lo, ‘kan? Kalian udah kenal dari lahir juga,” Amira bangkit untuk menyusul sang sahaba

