“Apa sih?” tanya Umar garang. Jujur saja, ia hanya om dari anak yang Amira kandung tapi sejak mengetahui sahabatnya itu hamil, Umar merasa dirinyalah yang sering moody-an. Umar dan Nena akan pulang dulu. Mereka akan menjemput barang-barang yang Amira perlukan tapi si ibu hamil ini malah mengulur waktu. Amira mengaku ingin minta dibawakan sesuatu yang spesifik. Spesifik katanya, pandai pula Amira menggunakan kata yang satu itu. Umar sudah menunggu hampir lima menit tapi Amira masih saja menutup mulutnya. “Anu..” “Yang jelas anunya!” bersamaan dengan bentakannya barusan, Umar merasakan cubitan pada pinggangnya. Nena ini benar-benar minta si suntik mati nih.. tiap hari kerjaannya hanya membela Amira saja. Muka Amira memerah. Otaknya mencoba mengingatkan Amira bahwa ini Umar yang selalu m

