Sarah membuka pintu ruang bawah tanah perlahan. Tangannya menggenggam sebuah mangkuk besar yang masih mengepulkan aroma ayam betutu. Aroma rempah khas Bali menyebar memenuhi tangga sempit menuju ruang tahanan itu. "Fiona," panggil Sarah lembut dari ujung tangga. Dari dalam jeruji, Fiona yang tengah duduk bersandar di dinding dingin itu langsung mendongak. Matanya memerah. Rambutnya acak-acakan. Tapi begitu melihat wajah Sarah, dia menyipitkan mata dengan tatapan sinis. "Apa lagi yang kau mau?" suaranya serak dan kasar. Sarah menuruni tangga dengan hati-hati, membawa mangkuk ke dekat jeruji. Dia berjongkok dan menggeser kursi kecil kayu untuk duduk di hadapan Fiona. Dia menghela napas sebelum berkata, "Aku bawa makanan untukmu. Ayam betutu. Kamu suka, kan?" Fiona mendengus. "Lucu. Seka