“Kamu bisa jadi maminya Ara kalau kamu mau menikah sama aku.” Yang hanya bisa Adrian ucapkan di dalam hati. Adrian merasa belum pantas bila menyuarakan kalimat itu karena tahu Aruna masih terluka karenanya. “Uhuk … uhuk ….” Tiba-tiba Aruna tersedak. Tangan Adrian refleks menyodorkan gelas berisi air putih yang sengaja ia siapkan sebelumnya untuk Aruna. “Uhuk … uhuk ….” Adrian sampai melepaskan sendok dan garpunya lalu berdiri dari kursi. Dia memutar setengah bagian meja hanya untuk menepuk-nepuk pundak Aruna dengan lembut. “Udah …,” kata Aruna menarik tangan Adrian yang masih menepuk punggungnya. Ia genggam dua jemari Adrian ketika menjauhkannya dari punggung. Lalu melepaskannya ketika mendongak dan mata mereka bertemu. “Makannya pelan-pelan …,” tegur Adrian dengan suara le