Bab 8 Positif Garis Dua

1055 Kata
"Lagian Zalina aneh deh. Masa minta aku yang belikan. Pasti orang-orang akan menuduhku." Ziva bermonolog sendiri dan dia berusaha untuk melakukan sesuatu. Dia membeli tes kehamilan itu dengan santai. Dia bersembunyi secara diam-diam karena takut akan ada yang memergoki dirinya dan malah salah paham. "Permisi, saya akan beli tes kehamilan 3 yah." Ziva mengatakan itu pada pegawai minimarket yang ada di tempat ini. Bersamaan dengan itu, ada seorang pria yang akan memesan juga alat pengaman pria. Orang tersebut menaikan sebelah alisnya ketika melihat Ziva. "Saya beli alat pengaman," ucap pria tersebut. Ziva yang kenal dengan suara tersebut seketika menoleh. "Doni yah?" ingat Ziva. "Hai," Doni hanya melirik kearah Ziva. Mereka berdua saling kenal karena memang sering kencan malam. Kalian paham sendiri lah kencan malam yang dimaksud seperti apa. Tidak ada yang tahu kalau mereka sering menghabiskan waktu diluar. Bukan hal aneh jika melihat pria itu membeli pengamanan. "Ini tes kehamilan nya." Pegawai minimarket itu memberikan itu pada Ziva. Lalu Ziva mengeluarkan uangnya dengan cepat. Tidak mau pria yang ada disebelahnya malah curiga. "Lo hamil? Apa itu anak gue?" tanya Doni mengingat mereka berdua sering menghabiskan waktu berdua tanpa ada hubungan yang jelas. "Eh." Ziva melihat kearah Doni ketika sudah membayar ini. Dia bingung harus menjawab apa. Pasalnya ini bukan untuk dirinya melainkan untuk Zalina. "Kalau benar juga gak papa, gue mau tanggung jawab." Doni mengatakan itu dengan santai, seolah tidak ada beban sama sekali. Tapi Ziva menggelengkan kepalanya. Ini bukan tes milik dirinya. Lagian Ziva juga tidak mungkin berkomitmen dengan pria yang selalu menghabiskan malam bersama dengan banyak wanita. "Bukan punya gue. Ini buat teman gue." "Gue kira punya lo." Doni nampak kecewa ketika mendengar ucapan Ziva. Lalu dia kembali menetralkan ekspresi wajahnya. "Bukan, kalau begitu gue duluan yah." Ziva langsung pergi dari tempat ini. Dia benar-benar dibuat malu sekarang. Kenapa juga dia harus bertemu dengan orang yang memang sering kencan malam dengannya. Membuat dia jadi merasa malu saja. Ziva langsung mengendarai mobilnya dan dia akan datang ke rumah milik Zalina. Dia akan memberikan tes pack kehamilan ini untuk mengecek keadaannya. *** Ziva sudah sampai di tempat yang menjadi tujuannya. Dia mengetuk pintu kamarnya dengan cepat karena dia harus memastikan sendiri kalau memang kecurigaan dirinya benar. "Zalina," panggil Ziva ketika tidak menemukan wanita itu. Lalu dia masuk ke dalam kamarnya. "Udah?" tanya Zalina melihat Ziva yang terlihat aneh. "Ini alatnya. Kamu sudah membuat aku malu. Tadi aku ketemu dengan teman kencan ku. Dan dia malah mengira kalau aku yang hamil," cerita Ziva. Zalina yang mendengar itu malah tertawa. Dia bahkan tidak yakin atas apa yang sudah terjadi dengan dirinya. Dia tidak menyangka atas apa yang sudah terjadi. "Jangan malah tertawa!" "Lagian aku malah merasa lucu. Sini biar aku cek dulu." Dia hanya diam sejenak, Zalina melihat kearah Ziva dan dia langsung pergi ke kamar mandi. Dia hanya ingin memastikan saja. Ziva hanya menunggu Zalina saja. Semoga saja ini akan menjadi hal yang baik untuk dirinya. Tidak bisa dia buktikan kalau semuanya malah jadi begini. "Semoga hasilnya salah," gumam Ziva. Dia menunggu Zalina yang memang sedang melakukan tes. Ziva akan merasa bersalah jika memang benar. Berati kalau memang benar itu adalah anak dari pria yang kencan dengan Zalina waktu itu. Ziva berpikir, biasanya orang yang ada di club suka main aman. Contohnya saja pria seperti Doni. Ziva menggelengkan kepalanya ketika dia yang malah ingat dengan pria itu. "Ah sial, kenapa otakku malah memikirkan pria itu," maki Ziva sambil memukuli kepalanya sendiri. Sampai pada akhirnya Zalina keluar dari kamar mandi. Ziva langsung menghampirinya karena dia yang merasa penasaran. "Bagaimana hasilnya?" Ziva mengatakan itu dan Zalina yang memberikan hasilnya pada Ziva tanpa mengatakan apapun. Ziva membulatkan matanya ketika melihat hasilnya seperti ini. Benar-benar tidak menyangka sama sekali kalau hasilnya akan begitu. "Positif," cicit Ziva. "Aku bahkan tidak tau ayahnya siapa," gumam Zalina yang memang tidak tau. "Kita harus mencari tahunya Zalina." Zalina berpikir sejenak. Apa dia harus mencaritahunya. Lagian dia yakin kalau ayah dari bayi yang dia kandung tidak akan bertanggung jawab sama seperti David pada Vivian. "Tidak perlu. Aku bisa membesarkan bayi ini sendiri." Zalina mengatakan itu dengan tegas. Tanpa ada seorang pria disampingnya juga bisa. "Lalu bagaimana dengan kedua orangtua mu?" tanya Ziva. Mengingat kedua orangtuanya Zalina memang kadang begitu posesif pada anaknya. Pasti akan sangat marah mendengar hal ini. Ziva juga menyesal waktu itu menyuruh Zalina untuk datang ke sebuah club malam kalau pada akhirnya hasilnya akan seperti ini. "Aku bisa mengurusnya. Kamu tenang saja. Mereka akan datang ke Indonesia besok." Ziva hanya mengangguk saja, lalu dia menatap Zalina dengan pandangan sendunya. "Aku minta maaf Zalina. Semuanya gara-gara aku. Andai saja aku tidak mengajak dirimu ke club malam waktu itu. Mungkin saja sekarang tidak akan seperti ini." "Aku tidak keberatan. Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Kita sudah dewasa," ucap Zalina. Ziva lalu meluk Zalina dengan erat tanda persahabatan mereka. "Terima kasih banyak." "Kalau begitu aku pulang dulu." Ziva mengatakan itu dan dia memutuskan untuk pulang karena memang sudah malam. Zalina hanya mengangguk saja melihat kepergian dari Ziva. Zalina handak akan kembali masuk ke dalam kamarnya. Namun ada seorang pembantu yang memanggil Zalina. "Non Zalina," panggil seorang wanita paruh baya pada Zalina. "Iya, kenapa Bi?" tanya Zalina menatap kearah asisten rumah tangganya. "Nyonya dan Tuan datang ke sini, apa itu artinya Den Samuel sudah bangun dari komanya?" tanya Bi Inah yang memang sangat khawatir dengan anak majikannya itu. "Belum bi. Aku juga gak tau kapan Kak Samuel akan bangun," ucap Zalina sendu. Dia bahkan tidak yakin atas apa yang sudah terjadi. Samuel masuk rumah sakit dan koma karena kecelakaan. "Bibi berharap Den Samuel akan segara bangun untuk menyelesaikan semua yang sudah dilakukan," gumam Bi Inah membuat Zalina menaikan sebelah alisnya. Dia sama sekali tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Bi Inah. "Maksud Bi Inah apa yah?" tanya Zalina yang memang masih belum paham. "Eh anu non," Bi Inah terlalu gelagapan membuat Zalina malah tertekan. Dia tidak yakin atas apa yang sudah terjadi padanya. "Kenapa Bi?" Zalina menatap Bi Inah dengan pandangan heran. Entah kenapa dia malah merasa curiga kalau ada sesuatu yang disembunyikan oleh pembantunya. "Bukan apa-apa Non. Lebih baik istirahat sekarang karena Nyonya dan Tuan juga akan segara datang." "Iya, kalau begitu aku ke kamar dulu." Zalina sebenarnya merasa sedikit kecewa tapi pada akhirnya dia hanya menuruti saja. Setidaknya dia sudah melakukan hal yang baik. "Apa aku harus mengatakan semuanya pada mereka?" bingung Zalina. BERSAMBUNG
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN