Bab 7 Zalina Muntah

1036 Kata
David membersihkan jasnya dan melepaskannya, dia heran sendiri dengan Zalina yang malah memuntahkan isi perutnya. "Ada apa dengan Zalina?" tanya David. Saat ini David sedang bersama dengan Doni. Mereka berdua ada di dalam ruangan kantor. "Kocak banget bro," ledek Doni ketika melihat David. "Kenapa dia jadi aneh, padahal dia tadi sedang marah setelah mengetahui kalau aku yang mengirimkan dia bunga," cerita David. Dia berpikir kalau bisa saja Zalina alergi bunga. Namun, tidak mungkin sampe mual seperti itu. "Menurutmu, kenapa Zalina bisa kaya gitu?" ucap Doni. "Iya mana aku tau!" David mengatakan itu tapi Doni malah tertawa ketika mendengar jawaban dari David barusan. Dia bahkan tidak yakin atas apa yang sudah terjadi saat ini. "Dia lagi bunting!" David membulatkan matanya ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Doni barusan. Menurut dirinya ini memang sangat konyol. "Masa sih?" David terlihat tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Doni barusan. Tapi jika memang benar adanya maka itu adalah hasil dari hubungannya waktu itu. "Kita tunggu waktunya saja. Apa benar dugaan ku." Doni mengatakan itu dengan santai. Sedangkan David mengulas senyuman manisnya jika memang Zalina akan hamil anaknya. Ini akan memudahkan dia untuk menikah dengan Zalina. Apa Zalina akan mencari dirinya nanti? Mengingat sepertinya Zalina juga tidak tau dengan orang yang tidur dengan dirinya. **** Zalina sudah kembali ke dalam kantornya. Dia merasa heran sendiri ketika tadi yang tiba-tiba muntah ketika menghirup bau parfum David. "Kok bisa kamu sampai muntah gitu?" tanya Ziva. Zalina menceritakan semuanya pada Ziva karena dia merasa malu. Dia bahkan tidak yakin kenapa kehidupannya malah jadi begini. "Aku juga tidak tau. Kenapa juga bisa kaya gini." "Apa yang menyebabkan kamu bisa muntah begitu?" tanya Ziva yang memang saat ini kepo dengan apa yang sudah terjadi. Dia juga sebenarnya merasa penasaran dengan apa yang sudah terjadi. Bahkan dia tidak yakin atas apa yang sudah terjadi saat ini. "Aku sendiri juga tidak tau. Tapi aku tidak suka dengan wangi parfum yang dipakai David," ucap Zalina membuat Ziva malah mengerenyitkan dahinya. "Tidak mungkin bukan jika David pakai parfum yang sembarang? Dia pakai parfum mahal pasti, lalu kenapa kamu bisa muntah?" tanya Ziva. "Iya mana aku tau. Lebih baik kamu belikan aku pecel lele yang ada di pinggir jalan. Aku ingin makan itu sekarang!" perintah Zalina pada Ziva. "Apa kamu gila? Tante Rina sama Om Lukman bisa marah jika kamu makan sembarang di pinggir jalan kaya gitu!" ucap Ziva mengingat kedua orangtuanya Zalina begitu posesif pada anak perempuannya. "Persetan dengan mereka berdua. Lagian mereka juga masih ada di Singapura menjaga Kak Samuel. Aku ingin makan itu sekarang." Ziva memutar bola matanya jengah ketika melihat Zalina yang kini malah memerintah. "Kamu ini kaya orang lagi ngidam aja, sudah kalau begitu aku akan ke bawah dan nyuruh OB untuk membelikannya." Ziva berdiri dan dia langsung pergi keluar. Mendengar apa yang diucapkan oleh Ziva barusan membuat Zalina terdiam sejenak. Ngidam? Apa dia saat ini sedang mengidam? Ingatkan Zalina tiba-tiba tertuju pada malam itu. Dia ingat waktu itu kencan dengan orang yang memakai topeng. Dia bahkan lupa menanyakan nama pria itu. "Tidak, ini tidak mungkin. Mungkin hanya kebetulan saja!" Zalina berbicara sendiri ditengah pikirannya yang kini malah bercampur aduk. Dia tidak tahan atas apa yang ada di dalam pikirannya. Tidak yakin kenapa semuanya malah jadi rumit. Sampai pada akhirnya, ponselnya berdering tanda ada orang yang mengubungi nya saat ini. Zalina terdiam lalu dia memutuskan untuk mengangkat teleponnya. "Hallo Mah." "Kamu apa kabar sayang di Indonesia?" tanya Rina pada anaknya. "Aku baik-baik saja, kenapa mah?" tanya Zalina. "Mamah akan pulang sama Papah Indonesia. Ada hal yang memang ingin kita bicarakan," ucap Rina membuat Zalina menaikan sebelah alisnya heran. Kenapa dengan kedua orangtuanya? Apa ini menyangkut dengan Samuel? Kakaknya masih juga koma di rumah sakit dan belum sadarkan diri. "Mamah dan Papah akan pulang ke Indonesia. Kok gak bilang, lalu siapa yang akan menjaga Kak Samuel?" tanya Zalina. "Kamu tenang saja. Kita tidak akan lama kok. Ini semuanya keinginan kekasihmu. Mungkin saja dia ingin segara meminang mu." Perkataan Rina sukses membuat Zalina membulatkan matanya. Dia lupa memberitahu kedua orangtuanya kalau memang hubungan dia dengan David sebenarnya memang sudah berakhir sedari dulu. Setelah pria itu mengkhianatinya. Bahkan dia tidak akan bisa melupakan kejadian yang membuat dia merasa sangat sakit. Zalina tidak akan bisa melupakannya. "Mah, hubunganku dengan David sebenarnya sedang tidak baik-baik saja." Zalina berbohong, dia sengaja mengatakan itu hanya untuk alasan saja. "Oh yah? Papah mu bilang perusahaan kita sudah melakukan kerja sama dengan perusahaan milik keluarga David. Kalian pasti sering ketemu bukan? Lalu masalah apa yang kamu hadapi ini nak?" tanya Rina. Ingin sekali Zalina berteriak kalau David sudah mengkhianatinya dulu dan punya anak dengan wanita lain. Tapi rasanya memang tidak bisa dia jelaskan untuk saat ini. "David sudah mengkhianati,ku" ujar Zalina. "Hahaha kamu ini bicara apa, David tidak mungkin seperti itu. Sudah jangan menghindari terus. Mamah dan papah akan pulang besok. Bye." Sambungan langsung diputuskan, Zalina menghela nafasnya kesal. Kenapa lagi-lagi kedua orangtuanya tidak ada yang percaya dengan apa yang dia jelaskan. Sudah tau kalau David itu bukan orang yang baik. Pria itu sudah menghamili wanita lain. "Ah sial!" Zalina hanya berteriak sendiri, hingga tak lama kemudian. Ziva datang sambil membawa pecel lele yang diinginkan oleh Zalina. "Ini pecel lele nya." Zalina meliriknya saja setelah melihat Ziva menaruhnya di meja. "Kenapa tuh muka, kusut amat!" ujar Ziva melirik kearah Zalina. "Aku sedang kesal, kamu tau kalau papah dan mamah akan datang ke Indonesia." "Lah kok kesal! Harusnya senang dong. Kalian akan berkumpul kembali." "Bukan itu masalahnya Ziva. Tapi mereka malah akan ketemu dengan keluarga David juga pasti. Mereka ah.." Zalina kesal sendiri ketika akan menceritakan semuanya. Ziva sekarang paham apa yang dikhawatirkan oleh Zalina. "Sudah lebih baik kamu makan dulu. Nanti kita bahas lagi tentang ini. Kamu kan tadi lapar." Zalina mengangguk lalu dia mencoba makan pecel lelenya yang terlihat enak. Dia memikirkan perkataan ibunya, harusnya memang dia mengatakan sejak awal kalau hubungan dia dengan David memang sudah putus sedari dulu. Sekarang dia yang kesusahan sendiri untuk menjelaskan semuanya. "Ziva, nanti kamu belikan aku tes pack yah." "Kamu hamil?" tanya Ziva membulatkan matanya. Tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Zalina. "Sut! Hanya ingin memastikan saja. Semoga salah." Zalina mengatakan itu dengan santai, entah kenapa Zalina jadi penasaran dengan hasilnya. Semoga saja salah. BERSAMBUNG ____________________
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN