Bab 6 David Menggoda Zalina

1074 Kata
Zalina sudah dibuat kesal dengan David. Kenapa dia harus bertemu kembali dengan mantannya yang sudah membuat dia marah. Beruntung saat ini dia sudah bisa kabur dari David. Tiba-tiba Zalina merasa pusing kepalanya. Entah kenapa dia akhir-akhir ini malah sering merasa mual. Kenapa dengan dirinya saat ini. "Kamu sakit Zalina?" tanya Ziva yang menatap Zalina dengan pandangan khawatir. "Tidak, hanya saja aku memang akhir-akhir ini sering merasa pusing dan mual," jujur Zalina pada temannya. Ziva menatap Zalina dengan pandangan curiga, rasanya ada yang aneh dengan temannya itu. Dia yakin kalau ini bukan hanya sakit biasa. Zalina tidak pernah mengeluh sakit seperti ini sebelumnya. "Apa kamu sudah mencoba untuk periksa ke dokter?" tanya Ziva pada Zalina. "Aku hanya sakit bisa saja. Lagian aku tidak perlu dokter juga sepertinya." Zalina malah mengatakan itu. Dia yakin kalau memang tidak sakit. Lalu tiba-tiba ada OB yang datang ke ruangan Zalina sambil membawa bunga lagi. "Permisi Bu..." Belum sampat orang itu mengatakan apapun, Zalina sudah lebih dulu memotong pembicaraan. Dia paham kalau orang tersebut akan mengirimkan dia bunga. Sudah sering sekali orang misterius itu mengirimkan dia bunga. "Taruh saja si meja." "Baik Bu," ucap orang tersebut dengan sopan. Zalina menatap orang yang kini ada dihadapannya. Ziva menyuruh OB tersebut untuk kembali keluar. Karena Ziva ingin berbicara serius dengan Zalina. "Kamu boleh keluar lagi." "Baik Bu Ziva." Ziva melihat orang tersebut pergi lalu fokusnya kini tertuju pada sebuah bunga. Dia sama sekali tidak menyangka dengan bunga tersebut. Menurutnya ini terlalu berlebihan. "Siapa yang sudah mengirimkan bunga ini?" tanya Zalina dengan heran. "Kamu ini, dari kemarin aku sudah menyuruhmu untuk menyelidikinya namun, kayanya kamu tidak suka. Kenapa?" tanya dia dengan heran. "Aku tiba-tiba penasaran saja!" Zalina mengatakan itu karena memang dia merasa penasaran. Tiap hari selalu saja ada orang yang mengirimkan ini bunga. Dia sendiri bahkan tidak tau dari siapa. "Menurutmu siapa orangnya?" "Bagaimana kalau kita tanya ke orang yang selalu menerima bunga ini," ucap Ziva. Zalina hanya mengangguk, lalu dia berdiri bersama dengan Ziva, berjalan menuju kearah luar dan memang karena dia merasa penasaran. Sampai di bawah, mereka berdua sama-sama mencari OG yang selalu menerima bunga. "Hei kamu!" panggil Zalina. Dia memang lupa nama OG tersebut tapi ingat wajahnya. "Iya Bu," ucap orang tersebut sopan. "Kamu tau siapa orang yang selalu mengirimkan bunga ini untuk saya?" Zalina menatap orang yang ada dihadapannya, dia hanya penasaran dengan orang yang sering mengirimkan dia bunga. Dia bahkan tidak yakin atas apa yang sudah terjadi dengan dirinya saat ini. "Saya tidak tau Bu Zalina. Yang saya tau hanya itu titipan dari teman saya yang bekerja di Perusahaan Livingstone." Zalina membulatkan matanya ketika mendengar nama perusahaan yang memang tidak asing di telinga nya itu. Sudah tidak bisa diragukan lagi kalau memang ini adalah dia. Sungguh dia sudah dibuat kesal atas semuanya. Siapa lagi yang bisa mengirimkan ini untuk dirinya. "Sepertinya memang dugaan ku benar Zalina," ucap Ziva. Zalina mengerucutkan bibirnya, dia harus datang menemui David sekarang. Agar pria itu tidak mengirimkan bunga lagi untuk dirinya. "Sial, aku harus datang ke kantornya." Zalina mengatakan itu dan dia berjalan menuju kearah luar. Ziva akan mengikutinya namun, Zalina sudah lebih dulu kehilangannya. "Kamu di sini saja. Urus kantor, biar aku datang sendiri untuk menemui David." "Kamu yakin Zalina?" tanya Ziva sambil menaikan sebelah alisnya. Biasanya Zalina selalu meminta dia ketika ingin menemui David. "Iya aku yakin." Zalina mengatakan itu lalu dia keluar menuju kearah parkiran. Dia menaiki mobilnya untuk datang ke kantor Perusahaan milik keluarga David. *** Zalina saat ini sudah sampai di kantor milik David. Dia melihat kearah resepsionis yang ada di tempat ini. Dengan angkuh Zalina berjalan menuju kearah sana tanpa memperdulikan para karyawan menatap dirinya dengan pandangan anehnya. "Bu Zalina, apa ingin menemui Pak David?" tanya resepsionis ini yang memang sudah kenal dengan dirinya. Itu semuanya karena memang Zalina sudah sering datang ke sini. Perusahaan David dan juga Zalina memang bekerja sama. Semua orang sudah tau Zalina hanya saja mungkin orang yang ada di sini tidak tau kalau dia dan Zalina pernah ada sesuatu. "Iya, apa dia tidak serang sibuk?" tanya Zalina. "Sebentar Bu, saya telepon dulu." Dia hanya mengangguk saja, apa yang dia pikirkan untuk saat ini. Zalina sudah kesal dengan David sekarang, untuk apa pria itu sering mengirimkan dia bunga terus. "Kata Pak David, ibu bisa datang ke ruangannya." Zalina mengangguk dan dia masuk ke dalam lift. Dia baru masuk ke dalam lift tapi ternyata ada pria yang tidak asing di matanya. Dia adalah teman David dulu. "Kau teman David bukan?" tanya Zalina mencoba mengingatnya. "Iya, aku Doni," ucap orang tersebut mengulurkan tangannya pada Zalina. Zalina hanya tersenyum dengan sekilas, dia mengulurkan tangannya dan memperkenalkan dirinya. "Zalina." Doni melepaskan tangannya, lalu tersenyum dengan penuh arti pada Zalina. "Apa kamu akan menemui David?" "Iya tentu saja, kenapa?" tanya Zalina melirik orang yang ada disampingnya. "Selamat bersenang-senang." Lift terbuka setelah Doni mengatakan itu pada Zalina. Dia sendiri bahkan tidak yakin atas apa yang sudah terjadi dengan dirinya. Apa yang dia pikirkan untuk saat ini. Kehidupannya malah akan semakin buruk dari apa yang dia pikirkan saat ini. Zalina diam sejenak, hingga orang itu pergi dan Zalina tetap maju ke lantai atas. Sampai pada akhirnya dia sudah ada di depan pintu milik David. Di sana ada sekertaris David yang dia ketahui namanya Tiana. Wanita yang waktu itu terlihat dekat dengan David. "Apa Pak David ada di dalam?" tanya Zalina dengan wajah angkuhnya. "Ada Bu, silahkan ke dalam," ucap Tiana mempersilakan Zalina masuk ke dalam ruangannya. Zalina hanya mengangguk lalu dia membuka pintu ruangan David tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Pria itu terlihat angkuh berdiri sambil memasukan tangan ke dalam saku celana. Zalina menatap tajam kearah David. "Apa maksud kamu mengirimkan bunga tiap hari ke kantorku?" kesal Zalina. David menoleh kearah Zalina sambil bertepuk tangan. Dia tersenyum miring ketika melihat Zalina yang kini baru menayangkan tentang hal ini padanya. "Kamu baru menyadarinya sayang?" David berjalan kearah Zalina membuat wanita itu mundur. Zalina menutup hidungnya seolah menjauhi David. "Jangan mendekat!" usir Zalina. "Kenapa?" David yang tidak paham malah terus mendekati Zalina. Merasa aneh dengan Zalina yang malah menutup hidung dan juga mulutnya. "Menyingkir!" usir Zalina. "Apa kamu takut kalau aku akan menciummu lagi hm?" "Hueekkk..." Zalina malah muntah pada jas yang digunakan oleh David saat ini. Dia merasa malu tapi mau bagaimana lagi. "Maaf, aku tidak suka dengan bau parfum mu." Zalina mengatakan itu lalu dia langsung pergi meninggalkan David. Membuat David yang ingin marah tapi dia tahan. Bukannya dulu Zalina suka dengan wangi ini, lalu kenapa dia muntah. BERSAMBUNG __________________
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN