Zalina terdiam di dalam toilet, dia sebenarnya kesal telah bertemu dengan David. Apalagi melihat dia bersama dengan wanita lain. Zalina merasa kasian dengan Vivian.
Wanita itu pasti sudah melahirkan anaknya David, tapi pria itu tidak mau bertanggung jawab. Zalina malah merasa kasian dengan Vivian. Pasti wanita itu sekarang harus menjadi singel mom. David memang pria berengsek.
"Kamu makin cantik saja sayang."
Zalina menoleh kearah belakang dan dia terkejut ketika melihat David yang ternyata mengikutinya dari belakang. Dia sama sekali tidak menyangka akan hal ini. Baru juga memikirkannya malah pria itu hadir. Dia merasa takut sekali kalau sudah begini.
"Kamu!" tunjuk Zalina pada David dengan rasa marah.
Dia bahkan tidak yakin atas apa yang sudah terjadi dengan dirinya saat ini. Sudah lama tidak bertemu dengan David dan kini pria itu malah kembali muncul didalam kehidupan dirinya.
"Kenapa kamu terkejut sekali sayang," ucap David dengan seringai jahatnya.
"Jangan pernah panggil itu! Kamu adalah pria berengsek yang tidak bertanggungjawab!" ketus Zalina merasa kesal.
David berjalan mendekati Zalina, kali ini dia menatap wanita itu dengan pandangan tajam.
"Sudah berapa kali aku katakan kalau anak yang dikandung oleh Vivian bukan anakku. Aku tidak pernah melakukan itu dengannya! Kamu tidak pernah percaya padaku!" kesal David.
Dia tidak suka jika Zalina membahas tentang masa lalu mereka yang menyebabkan hubungannya hancur dulu. Dia tidak terima dengan hal itu.
Lagian David berani bersumpah kalau anak yang dikandung oleh Vivian bukan darah daging dirinya. David berusaha untuk mencari bukti dan melakukan tes DNA pada anak Vivian namun, sampai saat ini wanita yang bernama Vivian dan juga anaknya itu hilang bak ditelan bumi.
Tidak ada yang tau kalau David hampir saja frustasi karena tidak bisa membuat Zalina percaya padanya. Akibat kesalahpahaman di masa lalu ini yang membuat hubungan keduanya hancur.
"Kamu pikir aku akan percaya dengan ucapan kamu David."
"Aku tau kamu tidak percaya padaku," ucap David yang kini berjalan menghampiri Zalina.
"Kau mau apa David?"
Zalina panik ketika melihat David yang kini berjalan kearah dirinya. Pria itu dengan seringai devil nya menatapnya. David memiringkan kepalanya ketikan melihat Zalina tidak bisa lagi berlari karena posisinya sudah terpojokan.
Sebisa mungkin, Zalina mencoba untuk mundur karena memang dia tidak tahan dengan semuanya. Dia berusaha untuk mundur namun kini sudah mentol di ujung wastafel. Dia tidak bisa mundur lagi.
David tersenyum miring lalu menarik pinggang Zalina agar mereka bisa dekat.
Grap!
David menarik pinggang ramping milik wanita itu. Membuat Zalina ini berusaha untuk memberontak. Zalina tidak mau berada di dalam posisi yang seperti ini.
"David! Jangan kurang ajar kamu!" maki David yang merasa kesal.
Dia bahkan tidak yakin atas apa yang sudah terjadi saat ini. Kenapa dia bahkan tidak yakin atas semuanya. David terdiam sejenak, lalu membisikkan sesuatu pada telinga Zalina.
"Aku merindukanmu."
"Berengsek! Lepaskan aku!"
Zalina sebisa mungkin berusaha untuk memberontak saat ini. Dia benar-benar marah karena pria itu malah mendekati dirinya.
"Aku tidak akan pernah melepaskan kamu," bisik David di telinga dirinya.
"Toll..."
Zalina berusaha untuk berontak namun, bibirnya sudah lebih dulu dibungkam oleh David. Dia bahkan tidak yakin atas apa yang terjadi padanya.
David memberikan sentuhan pada bibir milik Zalina. Mencekal tengkuk Zalina untuk memperdalam sentuhan dibibir nya.
Sampai pada akhirnya Zalina hampir saja kehabisan nafasnya dan dia memukul pundak David.
Menyadari hal tersebut, akhirnya David melepaskan sentuhan itu dan dia menatap kearah Zalina.
"Manis."
Zalina kesal dengan David yang main nyosor seperti itu.
"Berengsek!"
"Kamu adalah milikku Zalina. Selamanya akan menjadi milikku."
Zalina tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh David. Dia langsung keluar dari toilet ini setelah kejadian di mana David mencium bibirnya. Membuat dia malah menjadi kesal saat ini.
***
Zalina kembali ke kursi tempat dirinya tadi berada. Lalu dia menatap kearah Ziva.
"Apa semuanya sudah?" tanya Zalina yang sebenarnya ingin segara pergi dari tempat ini. Dia sudah tidak merasa nyama. Apakah dengan David yang tadi tiba-tiba malah mencium dirinya. Dengan bodohnya dia tadi malah membalas sentuhan ini.
"Belum, btw bibirnya kenapa?" bisik Ziva ketika menyadari lipstik yang digunakan oleh Zalina sedikit berantakan.
Zalina mengambil kaca yang ada di dalam tasnya dan dia mencoba untuk memeriksa wajahnya. Ini semuanya gara-gara David yang tadi berusaha untuk menyentuhnya. Ini sangat membuat dirinya jadi malu.
Ziva menatap kearah Tiana yang masih ada di sini dan tampaknya Tiana sedang konsentrasi membaca berkas.
Hingga tak lama kemudian, David datang ke tempat ini. Dia duduk dengan mata melihat kearah Zalina sekilas.
"Pak David kenapa bibirnya merah seperti habis digigit gitu?" tanya Tiana ketika melihat bibir David seperti berdarah.
"Ini tadi ada yang gigit," jawab David pada Tiana dengan pandangan matanya melirik kearah Zalina.
Tiana menaikan sebelah alisnya heran. "Gigit?"
"Kegigit bibir saya," jelas David.
Ziva yang ada di sana melirik kearah David dan kembali menatap kearah Zalina. Dia bukan wanita polos seperti Tiana. Ziva sudah bisa nebak dari ciri-ciri dua pasangan mantan kekasih itu. Dia yakin kalau memang sudah terjadi sesuatu.
"Pak David, berkasnya bisa anda baca dulu. Saya masih banyak pekerjaan di kantor!"
Zalina sengaja mengatakan itu pada David. Dia sebenarnya kesal dan marah pada David. Bahkan dia tidak yakin atas apa yang sudah terjadi tadi bersama dengan David didalam ruangan ini.
"Baiklah, besok saya akan datang ke kantor anda untuk memberikan hasilnya."
David mengatakan itu dengan tenang. Dia masih punya kesempatan untuk bertemu dengan Zalina. Hal ini tidak akan pernah dia sia-siakan.
"Tidak usah Pak David repot-repot datang ke kantor saya! Anda bisa suruh sekertaris anda saja yang datang. Bukannya anda adalah orang yang sibuk!" sindir Zalina.
Sebenernya dia sudah tidak mau bertemu dengan David lagi. Ciuman pria itu saja tidak pernah dia lupakan. Dan tadi dengan bodohnya dia malah membalas lumutan dari ciumannya.
"Saya selalu ada waktu untuk anda Bu Zalina."
David mengatakan itu dihadapan Zalina. Sedangkan Tiana yang mendengar itu malah terkejut dengan bosnya. Tidak biasanya bosnya itu berani mengatakan itu pada kliennya. Apalagi itu adalah seorang wanita.
"Saya permisi dulu!"
Zalina mengambil tasnya dan dia bersama dengan Ziva yang mengikutinya dari belakang. Mereka berjalan kearah luar. Sampai pada akhirnya Ziva membuka suaranya setelah mereka jauh.
"Kamu habis ciuman dengan David?"
"Jangan berisik!" kesal Zalina yang kesal. Kenapa Ziva malah pake acara membahasnya segala.
"Jadi benar? Kamu masih cinta dengan dia?"
Deg...
BERSAMBUNG
_________________