"Bagaimana? Sudah kamu kirimkan?"
"Iya Pak David, saya sudah mengirimkan itu untuk anda," ucap orang suruhannya.
David mengulas senyumannya, pasti Zalina akan menyukai bunga yang sudah dia kirim itu. Sudah tidak sabar dia ingin bertemu dengan Zalina, tapi dia masih menahannya karena Zalina masih membencinya.
"Bagus, ini uang untukmu."
David memberikan dua lembar uang kertas berwarna merah pada orang tersebut.
"Terimakasih Pak David. Ternyata anda orang sangat romantis juga," gumam orang tersebut memujinya.
"Sama-sama."
Orang itu hanya tersenyum manis, dia tau apa yang akan terjadi dengan dirinya saat ini. Membiarkan waktu yang akan membuktikan semuanya.
David terdiam sejenak, apa yang harus dia lakukan untuk saat ini.
"Kalau begitu saya permisi dulu Pak David," pamit orang itu.
David hanya menganggukkan kepalanya saja. Dia masih punya rencana lain untuk menemui Zalina. Wanita itu memang gengsi ketika bertemu dengan dirinya.
David mengirimkan pesan pada Pak Lukman, semoga saja ini akan menjadi hal yang baik untuk dirinya.
"Kita akan bertemu," gumam David yang merasa sangat bahagia.
David berjalan menemui sekertaris nya untuk mengatur jadwal pertemuannya dengan Zalina. Wanita itu tidak akan menolak pertemuannya pasti.
"Tiana!"
"Iya Pak David?" tanya Tiana yang melihat kearah David.
"Kamu sudah mengatur jadwal untuk pertemuan dengan PT Mitra Grup!"
"Sudah Pak David."
David mengelus senyumannya, sebentar lagi dia akan bertemu dengan Zalina. Wanita itu pasti tidak akan menolaknya untuk bertemu.
"Bagus kalau begitu. Kapan mereka bisanya?" tanya David.
"Nanti setelah makan siang," ucap Tiana.
"Di mana?" tanya David.
"Di Restoran Alfaso."
David hanya mengangguk lalu kembali ke ruangannya. Entah dia akan persiapan dulu untuk bertemu dengan mantan kekasihnya itu.
Zalina tidak tau kalau perusahaan mereka melakukan kerjasama karena David sendiri yang mengajukannya pada ayahnya Zalina kemarin. Wanita itu hanya mengurus perusahaan saja, semua keputusan akhir memang ada di tangan Lukman ayah dari Zalina. Apalagi yang David tau, kalau Kakak Zalina yang bernama Samuel itu masih koma. Jadi belum bisa menggantikan perusahaannya.
****
Zalina sedang diam, tiba-tiba Ziva datang menghampiri dirinya.
"Zalina."
"Kenapa?" tanya Zalina melirik kearah Ziva yang memanggil dirinya.
Dari raut wajahnya yang seperti itu pasti sedang ada masalah.
"Nanti kita akan meeting dengan perusahaan Livingstone," gumam Ziva.
"Sudah kamu atur jadwalnya?"
"Kita habis makan siang di restoran Alfaso."
Zalina mengangguk lalu dia berpikir sejenak, dia merasa tidak asing dengan nama perusahaan itu. Setelah Zalina mengingatnya lalu matanya langsung membulat.
"Kamu bilang perusahaan Livingstone?"
"Iya Zalina," gumam Ziva membenarkan ucapannya itu.
"Itu bukannya perusahaan milik keluarga David bukan?"
Zalina hanya ingin memastikan saja, kenapa perusahaan mereka bisa melakukan kerjasama. Apa ini semuanya karena ayahnya. Apa dia harus bertemu dengan David nanti.
Ziva memperhatikan kepanikan yang ada di dalam diri Zalina. Wanita itu pasti belum bisa move on dari David, makanya raut wajahnya kini sudah berubah ketika mengetahui tentang hal ini.
"Kamu belum bisa move dari David?" tebak Ziva hati-hati.
"Aku tidak mau bertemu dengan pria itu!" tolak Zalina yang memang tidak mau.
"Lalu kamu menyuruhku untuk menemuinya sendiri?" ujar Ziva.
"Iya. Aku tidak mau bertemu dengan pria berengsek itu," ujar Zalina.
Ziva menatap kearah Zalina dengan pandangan yang penuh arti, bahkan dia merasa sangat marah atas apa yang sudah terjadi saat ini. Bahkan dia tidak yakin kenapa semuanya jadi berubah.
"Kalau kamu tidak mau bertemu dengannya maka, orang-orang akan mengira kalau kamu tidak bisa move on darinya. Ayolah buktikan kalau kamu bisa move on!"
Zalina terdiam, apa yang dikatakan oleh Ziva memang benar adanya. Dia harus membuktikan kalau sudah bisa melupakan semuanya tentang David.
"Kamu benar, nanti aku akan menemuinya."
Zalina mengatakan itu sambil tersenyum dengan penuh arti. Dia sudah bisa nebak apa yang akan terjadi padanya. Dia akan menemui David.
***
Zalina bersama dengan Ziva saat ini sudah berada di sebuah restoran. Rasanya memang bahagia ketika semuanya sudah jadi lebih baik.
Ziva terdiam sejenak, dia memikirkan apa yang akan dia lakukan. Bertemu kembali dengan David sungguh diluar rencananya.
"Jangan gelisah seperti itu," gumam David.
"Iya aku paham. Memangnya siapa yang terlibat gelisah," elak Zalina.
Dia mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Hingga tak sengaja matanya malah tertuju pada David. Zalina sebisa mungkin membiasakan ekspresi wajahnya.
"Sudah lama?" tanya David yang kini datang menghampiri Zalina dan duduk dekat dengan wanita itu.
"Tidak, silahkan duduk bersama dengan Pak David."
David datang bersama dengan seorang wanita. Zalina memperhatikan wanita yang ada di samping David. Dia tidak tau siapa wanita itu.
Menyadari wanita yang ada disebelahnya diperhatikan. David akhirnya memutuskan untuk memperkenalkannya pada Zalina.
"Ini Tiana, sekertaris saya."
David mengenalkan wanita yang ada disebelahnya. Lalu Tiana mengulurkan tangannya pada Zalina.
"Sut itu..." Ziva menyenggol tangan Zalina ketika melihat ekspresi wajah wanita itu malah diam saja.
"Eh iya. Aku Zalina."
Zalina memperkenalkan dirinya sendiri pada wanita yang ada dihadapannya.
Tiana tersenyum ramah lalu mereka berdua saling melepaskan tangannya. Selanjutnya dilanjutkan dengan Ziva yang bersalaman dengan Tiana dan juga David.
"Bisa kita mulai?" tanya David dengan menatap Zalina. Ada pandangan kerinduan di sana.
"Iya, Ziva kamu buka file nya," perintah Zalina.
"Baik Bu Zalina."
Ziva membuka laptopnya dan dia memperlihatkan semuanya pada Tiana.
Sedangkan David dan juga Zalina malah saling tatap satu sama lain. Zalina tidak bisa mengendalikan dirinya ketika merindukan David seperti ini.
Ziva menyadari akan tatapan itu sampai dia sengaja berdehem.
"Ekhem."
Zalina menatap kearah Ziva yang berbatuk seperti itu. Zalina tau pasti Ziva sengaja berbatuk seperti itu. Wanita memang selalu benar dan dia yang selalu salah.
"Gak usah batuk kaya gitu!"
"Iya aku paham."
Dia hanya mengangguk lalu menatap kearah lain. Apa yang dia pikirkan untuk saat ini. Zalina sebenarnya tau apa yang sudah terjadi padanya.
"Bagaimana Tiana?" tanya David langsung menanyakan hal itu pada Tiana.
"Silahkan Pak David baca dulu. Sepertinya ini memang bagus," puji Tiana.
Zalina tersenyum ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Tiana. Wanita yang ada dihadapannya memang sangat pintar.
David membacanya, dia tidak melirik kearah David. Zalina malah melihat kearah Ziva sekilas.
"Dia makin tampan bukan?" bisik Ziva membuat Zalina langsung menginjak kaki Ziva.
"Aw.." ringis Ziva.
Zalina bahkan tidak tahan kalau melihat David yang terus saja dekat dengan Tiana. Melihat interaksi mereka membuat Zalina mengepalkan tangannya.
"Saya permisi dulu ke toilet," ujar Zalina.
David menaikan sebelah alisnya, kenapa Zalina tiba-tiba pergi ke toilet. Dia tidak boleh kehilangan kesempatan ini.
Setelah Zalina pergi, baru disaat ini David juga ikut berpamitan untuk pergi dari tempat ini.
"Saya pamit juga keluar dulu sebentar," ucap David beralasan. Tujuan utamanya yaitu mengikuti Zalina.
"Baik Pak David."
David pergi menyusul Zalina, dia tersenyum dengan penuh arti.
"Kamu pikir bisa jauh dariku sayang," gumam David.
BERSAMBUNG