"Kamu tidak ingin menceritakan pengalaman pertamamu padaku Zalina?"
Ziva malah menatap Zalina dengan pandangan tidak sabar, wanita itu terlihat kepo sekali dengan kehidupannya. Zalina sampai memutar bola matanya jengah.
"Sudah, aku bahkan tidak tau siapa pria nya," ucap Zalina.
"OMG! Kamu serius tidak ingat sama sekali? Jangan-jangan orang itu membius kamu lagi," sergah Ziva yang langsung mendapat toyoran di kepala oleh Zalina.
"Ngaco kamu. Aku bukan dibius, saat itu aku mabuk dan pria itu pakai topeng warna hitam yang menutupi matanya."
Protes Zalina pada temannya, yang dia tau hanya baju dan aromanya saja. Ketika melakukan itu pun yang dia ingat hanya David, tapi Zalina tidak ingin membahas ini dengan Ziva. Bisa-bisa yang ada nanti temannya itu akan semakin meledeknya dan mengatai dirinya sebagai wanita yang gagal move on.
"Tapi kamu gak merasa aneh gak sih, untuk apa juga orang itu malah pake topeng segala?" ujar Ziva yang berpikir heran.
"Aku tidak peduli, yang jelas sekarang aku sudah menuruti keinginan kamu bukan? Gak jadi perawan tua karena sudah tidak perawan!"
Lagian Zalina tidak ingin membahas tentang pria yang tidur dengan dirinya. Pria itu tidak ada artinya dalam kehidupan Zalina.
"Yaudah kalau begitu. Kamu kembali kerja saja," ucap Ziva yang tau kalau temannya itu tidak ingin diganggu.
Zalina mengangguk dan dia tidak mau ambil pusing, dia hanya mengerjakan apa yang menjadi tugasnya saja. Apalagi dia yang memang ditugaskan menjadi seorang CEO oleh ayahnya. Entah kepercayaan yang diberikan ini untuk dirinya.
Apalagi semenjak Kakaknya yang bernama Samuel itu pergi. Pria itu koma dan masih belum juga bangun setelah insiden kecelakaan 2 Tahuan lalu.
"Permisi Bu Zalina."
Ada seorang office girl datang kearah dirinya sambil membawakan sebuah bunga. Zalina menaikan sebelah alisnya ketika melihat bunga yang dibawa oleh seorang office girl itu.
"Kenapa?" tanya Zalina melirik sekilas saja. Padahal dia sebenarnya merasa penasaran dengan orang tersebut
"Maaf Bu, saya hanya ingin memberikan ini saja," ucap orang tersebut sambil memberikan bunga pada Zalina.
Bunga mawar berwarna pink kesukaan dirinya. Siapa orang yang sudah memberikan ini padanya? Tidak banyak orang yang tau kalau dia suka dengan bunga mawar warna pink.
Mengingat semuanya entah kenapa dia malah memikirkan David, dulu sekali, pria itu selalu memberikan itu padanya.
"Dari siapa?" tanya Zalina yang menerima bunga tersebut.
"Saya tidak tau Bu, dia hanya bilang suruh memberikannya pada Ibu. Kalau begitu saya permisi untuk kembali bekerja."
Setelah orang itu pergi dari tempat ini, Zalina malah berpikir sejenak, siapa orang yang sudah mengirimkan ini untuk dirinya. Tidak mungkin ini dari David bukan?
Wanita itu mencari sebuah note, siapa tau menemukan orang yang sudah mengirimkan ini padanya. Namun sayang, tidak ada pengirimnya dan dia hanya menemukan sebuah kata di sana.
"Semangat Bekerja."
Zalina hanya membacanya, menurutnya ini adalah hal yang konyol. Siapa juga orang yang kurang kerjaan mengirimkan ini untuk dirinya.
"Wah bunga dari siapa itu?"
Entah datang dari mana, Ziva tiba-tiba datang menghampiri Zalina yang kini sedang membawa bunga ditangannya. Dia yakin kalau itu dari orang yang spesial. Soalnya tadi pas dia datang ke sini tidak menemukan apapun juga.
"Menurut kamu, ini dari siapa?" tanya Zalina balik.
Siapa tau Ziva memang mengetahui orang yang sudah mengirimkan ini padanya. Karena di sana memang tidak ada nama pengirimnya.
"Jadi kamu tidak tau orang yang sudah memberikan ini?" ucap Ziva.
Zalina menggelengkan kepalanya, lagian yang memberikan ini adalah seorang office girl. Dia sama sekali tidak tau tentang hal ini.
"Nggak."
"Menurut mu, siapa orang yang akan memberikan ini padamu? Apalagi hanya segelintir orang yang tau kamu suka dengan mawar warna pink," ucap Ziva.
Ucapan dari Ziva memang benar adanya, hanya kedua orangtuanya, Samuel, Ziva dan juga David yang mengetahui dia suka dengan bunga ini.
Samuel tidak mungkin memberikan ini karena dia sedang koma, kedua orangtuanya tidak akan memberikan dia bunga kecuali kalau hari spesialnya saja seperti hari ulang tahunnya.
"Kamu yang memberikan ini untukku?" tanya Zalina menatap Ziva dengan pandangan serius.
Ziva menaikan sebelah alisnya, dia tidak akan bertanya kalau memang memberikan ini pada Zalina. "Nggak lah. Untuk apa aku memberikan bunga ini padaku."
Kalau bukan Ziva yang memberikan ini berarti artinya David yang memberikan ini padanya. Karena hanya pria itu yang tau. Tapi bisa saja kalau ada yang lain juga bertanya tentang bunga kesukaannya.
"Mungkin saja itu dari menata mu."
Ziva mengatakan itu karena melihat Zalina yang melamun. Sepertinya memang dari David karena setahu Ziva, David masih mengejar Zalina sampai saat ini. Walaupun Zalina terus saja menghindarinya karena memang rasa kecewa di masa lalu.
"Aku akan membuangnya kalau memang ini dari David," ucap Zalina dengan penuh emosi.
Zalina masih merasa sakit ketika mengingat penghianatan oleh David yang menghamili seorang wanita. Pria yang tidak mau bertanggung jawab karena pada kenyataannya sampai saat ini David tidak menikahi wanita yang tengah dia hamili.
"Segitu bencinya kamu sama David? Bukannya kadang kamu masih sayang padanya," goda Ziva.
Rasanya memang hanya Ziva yang tau tentang Zalina saat ini. Dia paham kalau tidak semudah itu akan menjadi nyata. Dia mencoba untuk melakukan hal yang baik untuk dirinya sendiri.
"Kata siapa! Aku benci dengan pria itu, sampai saat ini. Kamu lupa dengan penghianatan dia itu."
"Kita belum tau kalau itu benar anak David, buktinya sampai saat ini wanita itu tidak pernah muncul lagi bukan? Dia sudah melahirkan dan takut tes DNA pasti, makanya memilih untuk kabur dari sini."
Wanita yang mengakui hamil oleh David itu malah pergi dan menghilang seperti ditelan bumi. Tidak pernah muncul lagi, tapi tetap saja Zalina masih tidak terima dengan David.
"Aku tidak peduli Ziva! Aku sudah terlalu benci dengan David."
"Kamu benci padanya, tapi kenapa kamu malah bilang pada kedua orangtuamu kalau kalian masih pacaran? Kamu lucu sekali," ledek Ziva yang memang tau semua rahasia tentang Zalina.
"Jika kamu datang ke sini hanya untuk meledekku saja, lebih baik kamu kembali ke ruangan mu sekarang!"
"Santai dong, aku hanya bercanda. Yaudah aku kembali ke ruangan ku."
Ziva akhirnya memutuskan untuk keluar dari ruangan Zalina. Dia tidak ingin melihat Zalina malah semakin marah nanti. Padahal dia hanya meledeknya saja. Apalagi sebenarnya Ziva juga penasaran dengan pengiriman bunga untuk Zalina. Apa mungkin dari David? Karena setahu dirinya selama ini David masih mencintai Zalina. Walaupun pria itu sudah menghamili wanita lain.
Mawar pink ini memang sangat bagus, Zalina melihatnya dengan sekilas. Entah kenapa dia malah belum bisa melupakan semuanya.
"Apa David yang mengirimkan ini?" gumam Zalina yang berbicara sendiri.
BERSAMBUNG
______________________