Zalina terbangun sambil memegangi kepalanya. Rasanya memang pusing sekali, lalu dia tiba-tiba teringat akan sesuatu. Dia memang bersama dengan Ziva datang ke club untuk melepaskan keperawanannya.
Zalina menyadari bajunya yang berserakan dan dia memegangi kepalanya yang sakit. Lalu dia melihat kearah samping.
"Tidak ada orang," gumam Zalina.
Kenapa dia lupa dengan orang yang tidur dengan dirinya. Kenapa dia malah tidak ingat sama sekali. Lalu dia ingat menari dengan pria yang memakai topeng.
"Ada dia adalah pria yang sudah tidur denganku," gumam Zalina pelan.
"Bodo amat deh. Lagian untuk apa kamu memikirkan pria itu," ucap Zalina yang menggelengkan kepalanya.
Dia juga tidak akan apa-apa. Zalina juga yakin kalau pria itu pasti pake pengamanan jadi tidak akan terjadi sesuatu dengannya. Dia harus melakukan sesuatu untuk sekarang.
Zalina kembali memakai bajunya dan dia melihat kearah ponselnya. Dia mengambilnya karena ada suara deringan dari ponsel.
"Hallo Zalina, kamu di mana?"
Suara Ziva terdengar sangat khawatir padanya. Pasti karena memang dia pergi keluar dari club semalam.
"Aku baik-baik saja, kenapa Ziva?"
"Syukurlah kalau begitu. Bagaimana semalam? Apa kamu sudah melakukannya?"
"Iya tentu saja. Aku sudah melakukannya. Tapi aku tidak tau siapa orang yang sudah tidur denganku," ucap Zalina.
"Serius? Apa kalian tidak kenalan dulu sebelum melakukan itu?" todong Ziva yang memang terdengar penasaran.
"Aku lupa," jawab Zalina.
"Tapi dia tampan bukan? Kamu tidak memilih memberikan itu pada pria bangkotan kan?"
"Kamu gila, tentu saja aku memberikan pada orang yang bagus. Tapi dia menggunakan topeng, aku tidak bisa melihat wajahnya."
"Kamu serius? Kok aku merasa aneh yah?" ucap Ziva
"Sudahlah Ziva, aku akan mandi dan membersihkan diri dulu. Jangan bahas lagi dengan pria itu."
Dia sudah mengatakan itu semuanya. Jadi apa yang dia khawatirkan saat ini, lagian dia tidak akan apa-apa.
"Baiklah. Aku paham."
Zalina memutuskan untuk mematikan sambungan teleponnya. Lalu dia mengambil bajunya dan memakainya. Dia ingin membersihkan dulu tubuhnya.
Kenapa semuanya terasa rumit, Zalina meringis merasakan sakit di bawah sana. Dia berusaha untuk menahannya sementara. Berjalan dengan tertatih setelah membersihkan dirinya sendiri. Kenapa dia malah menjadi sulit sekali.
"Ah sial, aku bahkan merasa kesal."
Zalina memaki dirinya sendiri, dia bahkan tidak tau pria yang tidur dengan dirinya tadi malam. Yang dia ingat hanya pria yang pakai topeng saja.
Dia mengubungi seseorang untuk menjemputnya dari ini. Jangan sampai ada orang yang memperhatikan dirinya yang sedang berantakan ini. Bisa sangat malu jika memang benar.
***
Sementara itu.
David tersenyum dengan penuh kemenangan. Akhirnya apa yang dia inginkan sudah bisa tercapai. Yaitu dengan tidur bersama dengan Zalina.
"Kau terlihat senang David, apa semalam berhasil?" tanya Doni melihat kearah David dengan senyuman penuh arti.
"Menurutmu?" balas balik David sambil tersenyum dengan penuh arti.
"Aku bisa melihat dari raut wajahmu yang berbinar ini, sepertinya kamu sudah berhasil mendapatkannya."
"Tidak ada yang tidak mungkin untuk seorang David Ardito Livingstone!"
David tersenyum dengan penuh arti, dia sudah berhasil mendapat apa yang diinginkan. Membuat Zalina yang tidur dengannya. Sesungguhnya dia tidak ingin melakukan itu tapi karena melihat Zalina datang ke club dengan baju yang sangat seksi jadi dia merasa ingin menghukum wanita itu.
"Hebat kamu bro, ada dia melihatmu tadi pagi?" tanya Doni.
David menggelengkan kepalanya, tentu saja dia tidak akan membiarkan Zalina tau semuanya. Wanita itu akan memaki dirinya dan akan semakin membencinya jika tau pria yang sudah tidur dengannya adalah dirinya. Mantan kekasihnya.
"Tentu saja tidak! Dan aku ingin kamu tidak memberitahu Zalina tentang orang yang memesan hotel itu!"
Yah hotel yang dia pakai semalam adalah milik Doni. Kebetulan sekali David diberikan ruang khusus VIP oleh Doni sebagai tempat spesial yang hanya dikhususkan untuk pria itu.
Dani yang paham hanya mengangguk saja. "Iya tentu saja. Aku akan merahasiakan ini."
"Bagus, aku pegang ucapan kamu Dani!"
Dani hanya mengangguk, doa sangat paham sekali dengan karakter David. Apalagi dengan kesalahpahaman di masa lalu yang membuat pria itu dengan Zalina menjadi jauh.
"Oh yah, Vivian bagaimana? Apa kamu sudah menemukan wanita itu?" tanya Doni.
David hanya menggelengkan kepalanya, wanita bernama Vivian itu yang sudah membuat dia dan juga Zalina putus. Vivian datang kepada David dan mengaku kalau dia hamil anaknya. Sehingga membuat Zalina memutuskan hubungannya dengan David.
Padahal David tidak pernah sama sekali menyentuh Vivian, wanita itu sengaja melakukan itu untuk membuat hubungannya hancur dengan Zalina.
"Aku tidak ingin membahas tentang hal itu, saat ini aku hanya ingin fokus pada Zalina."
Yang ada di pikiran David saat ini adalah Zalina, dia akan melakukan apapun juga agar Zalina menjadi miliknya kembali. Bahkan tanpa Zalina ketahui, dia sudah menemui kedua orangtuanya Zalina untuk meminta restu.
Apalagi ternyata Zalina tidak pernah mengatakan kalau dia sudah putus dengan dirinya pada kedua orangtuanya. Ini memudahkan dia untuk meminta restu padanya.
"Kalau begitu, aku keluar dulu."
Doni berpamitan pada David karena masih banyak urusan yang memang harus dia lakukan.
David hanya mengangguk, sampai pada akhirnya ada yang menghubunginya. David mengangkat telepon dari orang itu.
"Hallo."
"Maaf Tuan David, saya hanya ingin memberitahu anda kalau orang yang semalam tidur bersama dengan anda kini sudah keluar dari kamar hotelnya," ucap orang tersebut.
David tersenyum dengan seringainya, syukurlah kalau Zalina sudah keluar dalam keadaan baik-baik saja. Apa dia menanyakan tentang pria yang tidur dengannya.
"Ada dia datang menemui resepsionis dan menanyakan identitas ku?" tanya David.
"Tidak Tuan, dia malah terlihat terburu-buru keluar dari hotel ini," jelas orang yang di sebrang telepon itu.
David menaikan sebelah alisnya heran, Zalina tidak menanyakan dengan siapa dia tidur? Apa tadinya Zalina memang sengaja melakukan one night stand dengan pria random? Tapi kenapa Zalina malah melakukan itu? Bahkan dia tau kalau semalam itu adalah hal yang pertama untuk wanita itu.
"Tapi dia sudah pulang sekarang?" tanya David.
Kalau Zalina belum pulang maka dia yang akan datang untuk menjemputnya nanti. Dia hanya khawatir dengan Zalina yang pasti keluar dengan kaki yang memapah.
"Iya Tuan! Dia sudah pulang karena ada mobil berwarna hitam, sepertinya menjemputnya."
"Baiklah kalau begitu."
David langsung menutup ponselnya, setidaknya sekarang dia merasa tenang karena Zalina sudah pulang. Tapi David masih penasaran dengan Zalina, kenapa dia sampai melakukan hal one night stand seperti ini? Setahu dia, Zalina adalah orang yang polos dan juga lugu. Apa ini adalah pengaruh dari temannya?
"Teman yang buruk!"
BERSAMBUNG