1. Gangguan dari Mantan Suami
“Jangan ganggu aku lagi, buat apa kamu datang ke sini? Sekarang kamu pergi!” usir seorang wanita cantik yang memiliki tubuh tinggi seratus enam puluh lima senti dan berkulit putih bersih.
Wanita yang menyandang status single parent itu bernama Isabela Faranisa atau yang akrab disapa nyonya Isabel.
Usianya baru menginjak tiga puluh tahun, namun sayangnya ia sudah menyandang status single Mom.
Pernikahannya dengan pria yang kini sedang berdiri di hadapannya itu kandas di usia pernikahan mereka yang menginjak ke lima. Padahal, mereka sudah dikaruniai seorang anak laki-laki yang saat ini sudah berusia empat tahun.
“Isabel, aku mohon sama kamu, maafkan semua kesalahanku dan kita kembali seperti dulu lagi. Kasihan Lingga, dia masih kecil, anak kita butuh peran ibu dan ayahnya,” tutur seorang pria bertubuh tinggi dan tegap, pria itu berusia tiga puluh tahun dan ia adalah mantan suami Isabel.
“Tidak perlu, aku bisa menjadi peran ayah sekaligus ibu untuk Lingga,” balas Isabel dengan angkuh.
“Jawaban yang tepat, berarti kamu tidak ada niatan untuk mencarikan ayah yang baru untuk Lingga. Hmmm … baguslah, dengan begitu berarti kamu belum bisa melupakan aku.” Leonardo tersenyum devil dengan kedua mata yang menatap intens ke arah Isabel.
Isabel terdiam sejenak, sial sekali ia salah memberikan balasan untuk ucapan Leonardo.
“Kata siapa? Jangan terlalu percaya diri.” Wanita cantik itu menyingkap rambut panjangnya ke belakang, ia bersedekap d**a dengan wajah angkuh.
“Aku tahu Isabel, buktinya sudah hampir satu tahun kita berpisah, tapi kamu masih belum menikah. Itu artinya apa? Kamu belum bisa melupakan aku. Ayolah kembali padaku Isabel, aku akan memperlakukanmu seperti seorang ratu.” Leonardo tersenyum merekah, pria itu merentangkan kedua tangannya dengan penuh percaya diri.
“Kembali padamu? Hmmm … itu sebuah kemustahilan. Cepat pergi dari sini sebelum aku memanggil security!” usir Isabel sekali lagi sambil menunjuk ke arah gerbang rumahnya.
Saat ini, mereka sedang berada di teras rumah, karena Leo memaksa untuk masuk ke dalam rumah mewah yang ditempati Isabel.
Itu adalah rumah peninggalan orang tua Isabel, karena ketika menikah ia dan Leo tinggal di rumah yang berbeda, akan tetapi setelah mereka berpisah, Isabel kembali ke rumah peninggalan kedua orang tuanya.
“Baiklah, kali ini aku mengalah. Tapi aku mengalah bukan berarti aku kalah, Isabel. Aku akan kembali sambil membawa penghulu untuk kita rujuk kembali.” Leonardo tersenyum semrik, setelah itu ia membalikkan badan lalu berjalan ke arah mobilnya yang terparkir di halaman rumah Isabel.
“Stres! Dia pikir aku masih mau kembali padanya. Dasar laki-laki tidak ada harga dirinya, sudah ku gugat cerai juga masih saja berani mengajak balikan. Dia pikir aku ini wanita yang paling membutuhkan dia? Aku bisa mendapatkan sepuluh laki-laki yang lebih baik dari kamu Leo,” gerutu Isabel sendiri yang benar-benar merasa kesal kepada mantan suaminya itu.
Ia memperhatikan mobil Leo yang keluar dari gerbang rumahnya dan perlahan semakin menjauh.
“Nyonya Isabel …” panggil seseorang dari belakang yang membuat Isabel terkejut karena tadi ia sedang melamun.
“Ya ampun, Bu Widi, ngagetin aja.” Isabel membalikkan badannya sambil mengelus d**a.
“Maaf, Non. Saya tidak tahu kalau Non sedang melamun,” ucap seorang wanita paruh baya yang bekerja di rumah itu.
Namanya bu Widi, buruh cuci gosok yang sudah beberapa bulan ini bekerja di rumah Isabel. Namun, wanita berusia lima puluh tahun itu tidak menginap di sana, ia datang pagi hari dan pulang disaat sore.
Itu juga tidak setiap hari, kadang bu Widi datang seminggu tiga kali, karena kerjaannya hanya mencuci dan gosok pakaian saja.
“Saya tidak melamun, Bu,” elak Isabel.
“Oalah, yang tadi itu siapa, Nyonya? Ganteng juga,” celetuk bu Widi yang membuat kedua mata Isabel langsung terbuka lebar setelah mendengar ucapan wanita paruh baya itu.
“Ganteng? Dia itu mantan suami saya, Bu. Percuma ganteng, kalau hobinya selingkuh,” jawab Isabel dengan nada kesal.
Ia bukan kesal pada bu Widi, akan tetapi Isabel kesal ketika mengingat mantan suaminya.
“Oalah, mantan suami Nyonya ternyata. Pantesan agak mirip Den Lingga. Maaf ya, Nyonya, soalnya saya gak tahu. Baru kali ini saya melihat papanya Den Lingga secara langsung, Nyonya,” tutur wanita paruh baya itu lagi.
“Sudahlah, saya gak mau bahas dia lagi. Emmmm … lebih baik sekarang Ibu bantu saya carikan calon suami,” celetuk Isabel.
“Loh, kok minta dicarikan ke saya, Nyonya. Wong saya juga janda.” Bu Widi terkekeh di akhir kalimatnya.
“Hmmm … gak majikan, gak pekerjanya, sama saja nasibnya jadi janda. Ya pokoknya Ibu bantu saya carikan calon suami, karena saya sudah tidak betah terus diganggu sama mantan suami saya.” Isabel terdengar memaksa.
“Walah … walah, Nyonya. Yang benar saja Nyonya minta dicarikan calon suami sama saya. Saya ini cuma buruh cuci gosok, Nyonya. Paling kenalannya juga sama tukang kebun, tukang sapu jalan, tukang jagal, tukang gali kubur ….”
“Ya gak tukang gali kubur juga kali Bu, bisa-bisa kalau ada masalah, saya dikubur hidup-hidup. Gak ada yang lebih okehan dikit gitu?”
“Lagian kenapa Nyonya gak mencari sendiri aja? Pasti banyak yang mau lah sama Nyonya. Kan Nyonya cantik, kaya, pasti di luar sana banyak laki-laki yang ganteng dan juga kaya yang mau sama Nyonya, bahkan mungkin banyak yang antri juga. Kalau nikah sama orang biasa, gak ada duitnya Nyonya, emang Nyonya mau, pagi dikasih makan kangkung, sorenya makan genjer sama sambel,” tutur bu Widi.
“Saya gak butuh uang dari laki-laki, Bu. Saya sudah pernah menikah sama laki-laki yang mapan, kaya, tapi tingkahnya kayak setan. Lebih baik saya menikah dengan laki-laki biasa saja, tapi dia bisa memperlakukan saya dengan sangat baik. Gak papa dia gak kerja juga, Bu, yang penting orangnya baik, bisa menghargai saya, bisa menerima saya dan juga anak saya. Terus bonusnya kalau bisa, dia itu perjaka, hahaha ….” Isabel tertawa di akhir kalimatnya.
“Walah … walah, saya juga mau dapat Perjaka, Nyonya.” Bu Widi ikut tertawa karena Isabel sangat ramah.
Terdengar suara motor berhenti di halaman rumah Isabel yang membuat mereka menghentikan tawa dan menoleh ke arah seorang pemuda yang turun dari motornya sambil membuka helm.
Isabel terdiam sejenak, ia menatap ke arah pemuda yang berusia sekitar dua puluh lima tahun.
Pemuda itu memiliki tubuh yang tinggi tapi sedikit kurus, kulitnya putih bersih, hidungnya mancung, alisnya tebal dan bibirnya sedikit berisi yang terlihat seksi.
Pemuda yang memakai kaos hitam dan dipadukan dengan kemeja kotak-kotak berwarna maroon itu berjalan ke arah Isabel.
“Kurir ya?” tanya Isabel ketika melihat pemuda itu melangkah semakin mendekat ke arahnya.
“Bukan, saya mau jemput ibu saya,” jawab pemuda itu sambil menunjuk ke arah bu Widi yang berdiri di samping Isabel.
“Whatttt ….”