2. Brondong Target

1219 Kata
“Bu, ini beneran anak Ibu?” refleks Isabel bertanya seperti itu, karena jujur saja baru kali ini ia melihat pemuda tersebut. Isabel hanya tahu anak perempuan bu Widi yang bernama Zizi, karena gadis yang masih berkuliah semester tiga itu pernah datang ke rumahnya bersama bu Widi. “Hehehe … iya, Nyonya. Ini putra pertama saya, namanya Lintang Samudra, tapi biasa dipanggil Samudra atau saya lebih sering manggil Tatang.” Bu Widi terkekeh di akhir kalimatnya tadi. “Bu, privasi!” protes pemuda itu yang sepertinya merasa malu. “Hah? Dari Lintang Samudra jadi Tatang?” Isabel menatap ke arah Samudra yang seketika menundukkan kepalanya karena malu. “Itu panggilan dari Almarhum Mbahnya dulu, Nyonya. Ya tapi Nyonya jangan ikut-ikutan manggil Tatang.” Bu Widi kembali terkekeh. “Panggil Sam saja, Bu.” Samudra mengangkat kepala dan memberanikan diri menatap ke arah Isabel sambil tersenyum kikuk. “Bu … Bu, anak saya aja manggil Mommy,” sinis Isabel yang merasa tak terima ketika dipanggil ibu oleh Samudra. “Iya Mommy,” celetuk Sam yang membuat Isabel langsung menatap tajam ke arahnya. “Kenapa kamu jadi manggil saya Mommy? Emangnya saya Mommy kamu?” Isabel kembali terdengar ketus yang membuat Samudra merasa bingung sendiri, bahkan pemuda itu sampai menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Sam, panggil Nyonya ya. Ini Nyonya Isabel, majikan Ibu. Mohon maaf ya, Nyonya, karena Sam kurang sopan,” tutur bu Widi. “Iya, Bu. Ya sudah, Ibu mau pulang sekarang? Hati-hati ya, besok ke sini lagi.” “Baik Nyonya, saya permisi dulu ya.” Bu Widi sedikit membungkukkan tubuhnya sebagai rasa hormat kepada sang majikan. “Mari, Bu ….” Samudra ikut berpamitan. “Sekali lagi kamu manggil Bu, saya masukkan kamu ke kandang hamster!” kesal Isabel dengan kedua mata yang menatap tajam ke arah pemuda itu. “Buset, cantik-cantik galak banget,” ucap Sam dengan nada pelan. “Hussss … Sam gak boleh gitu, ayo kita pulang!” Bu Widi menarik tangan putranya agar segera berjalan ke arah motor dan meninggalkan tempat itu. Isabel masih berdiri di tempat yang sama, ia memperhatikan Samudra yang kini telah naik ke atas motornya dan melaju seraya membonceng bu Widi. Entah apa yang saat ini ada di dalam pikiran wanita itu sampai membuatnya memperhatikan Samudra secara detail. *** Malam telah tiba, Isabel masuk ke dalam kamar setelah ia menidurkan putranya. Wanita itu merentangkan kedua tangannya, ia meregangkan otot yang terasa kaku karena tadi menemani Lingga rebahan cukup lama. Ia keluar dari kamar setelah putranya benar-benar tidur pulas. Isabel berjalan ke arah ranjang berukuran king size dan memiliki kasur yang sangat empuk. Wanita itu merebahkan tubuhnya sampai membuat gaun tidur tipis yang dikenakannya sedikit tersingkap dan memperlihatkan paha mulusnya. Ia menoleh ke arah ponsel yang tergeletak di atas nakas, benda canggih itu beberapa kali berbunyi menandakan ada panggilan dan pesan masuk. Namun, Isabel mengabaikannya, banyak orang tidak jelas yang menghubunginya. Terlebih lagi, ketika orang-orang tahu kalau ia sudah resmi bercerai dengan Leonardo, banyak laki-laki yang mendekatinya. Namun, Isabel tidak tertarik, meskipun laki-laki itu kaya dan mapan. Seperti apa yang ia ucapkan kepada bu Widi, bahwa dirinya tidak membutuhkan uang dari laki-laki, karena uang miliknya sendiri sudah sangat lebih dari cukup untuk menghidupi ia dan juga Lingga. Isabel adalah penerus perusahaan kedua orang tuanya, siapa yang tidak kenal dengan pengusaha cantik itu. Jadi, ketika ia bercerai dengan Leo, tentu saja dirinya langsung menjadi rebutan. Ponselnya tak berhenti berdering, ia kembali menoleh ke arah benda canggih itu. Ada panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal, namun ia yakin itu adalah nomor Leo. Meskipun ia sudah beberapa kali ganti nomor dan memblokir nomor Leonardo, tapi herannya pria itu selalu saja bisa menghubunginya lagi. “Pokoknya aku harus nikah lagi, kalau aku nikah lagi, Leo pasti akan berhenti menggangguku. Tapi aku tidak mau menikah dengan laki-laki yang memiliki segalanya seperti Leo, karena dia akan menyetir hidupku dan membuatku merasa tertekan. Aku sungguh trauma dengan laki-laki seperti itu. Tapi, dimana aku bisa menemukan laki-laki yang baik, tidak banyak menuntut, tidak banyak aturan, yang terpenting tidak suka main perempuan dan tentu saja dia harus lebih ganteng dari Leo …” oceh Isabel sendiri, tiba-tiba saja ucapannya terhenti ketika ia mengingat seseorang. “Hmmmm … menarik,” sambungnya dengan bibir yang tersenyum tipis. Entah apa yang akan direncanakan wanita itu selanjutnya. *** Di tempat yang berbeda, Samudra sedang duduk termenung pada jendela kamarnya. Pemuda itu sengaja membuka kaca jendela kamarnya, agar ia bisa duduk di sana sambil menatap langit yang menghitam karena ditelan gelapnya malam. Seperti hidupnya yang terasa gelap, semenjak bapaknya meninggal tiga tahun yang lalu, kehidupannya berubah drastis. Bahkan, ia sempat beberapa kali off kuliah karena terhalang biaya, sampai teman-teman seangkatannya sudah lulus, sementara dirinya belum. Saat ini, ia juga sedang menjalani skripsi yang tentu saja membutuhkan biaya besar. Ibunya terpaksa menjadi buruh cuci gosok demi menghidupi ia dan adiknya serta membiayai kuliah dirinya dan juga Zizi. Samudra tidak diam saja melihat kondisi ekonomi keluarganya yang terpuruk seperti itu, ia juga bekerja di bengkel motor pada siang hari sepulang kuliah sampai sore, malamnya ia bekerja di cafe sampai larut. Bahkan terkadang sampai pagi. Namun, sayangnya itu semua masih belum bisa menutupi kebutuhan keluarganya. Terlebih lagi, orang tuanya masih memiliki hutang bekas berobat bapaknya sebelum meninggal dunia. Mereka meminjam uang pada orang yang salah, sehingga semakin lama bunganya malah semakin besar. Di tengah-tengah lamunannya, tiba-tiba ponsel yang sedari tadi ia letakkan di sampingnya itu berdering menandakan ada panggilan masuk. Samudra segera mengambil ponsel yang layarnya sudah retak itu, ia mengangkat panggilan telepon dari sebuah kontak yang bernama My Love Laura. Sebenarnya bukan Samudra yang memberi nama kontak seperti itu, akan tetapi seorang gadis bernama Laura sendiri yang memberi nama seperti itu pada ponsel Samudra. Ya, Samudra dan Laura memiliki hubungan spesial sejak enam bulan yang lalu. “Halo!” ucap Sam seraya menempelkan benda canggih itu pada telinganya. “Sayang, kamu kenapa gak ke rumahku? Aku nungguin kamu dari sore, tapi sampe sekarang jam dua belas malam kamu masih gak ke sini, padahal aku mau ngajak kamu keluar,” oceh gadis itu yang membuat telinga Samudra langsung terasa panas. “Aku kerja, ini aku baru pulang kerja dan baru bisa duduk santai.” “Ck … kerja terus, sampai gak ada waktu buat aku. Semua teman-temanku nonton konser sama pacarnya, cuma aku aja yang nggak.” “Kenapa kamu gak pergi sendiri aja? Kamu kan tahu aku kerja. Aku juga gak bilang sama kamu kalau aku mau nonton sama kamu.” Sam masih berbicara dengan nada santai meskipun ucapan Laura cukup menjengkelkan. “Kamu gak ngertiin aku banget sih, aku tuh mau nonton konser sama kamu terus dibeliin tiketnya sama kamu. Emang dasar ya, kamu itu gak ada effortnya buat aku.” Laura terdengar kesal. “Ra, jangankan buat beliin kamu tiket konser, buat beli makan ibu sama adikku aja aku harus kerja dari siang sampai larut malam. Coba kamu ngertiin posisi aku, kondisi ekonomi aku sedang tidak baik-baik saja.” Samudra semakin merasa jengkel, ini bukan pertama kalinya Laura meminta dibelikan sesuatu padanya. Gadis itu sering banyak permintaan. “Dasar cowok miskin!!!” Setelah mengatakan itu, Laura langsung mematikan sambungan teleponnya secara sepihak tanpa menunggu Samudra kembali berbicara lagi. Mendengar ucapan Laura barusan, jantung Samudra terasa remuk, ia memang miskin, tapi tidak sepantasnya juga ia mendapat hinaan seperti itu, apalagi dari kekasihnya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN