Pagi ini, seperti biasa Isabel sudah dandan cantik dan rapi, bahkan wanita itu memakai MUA khusus beserta hair stylist khusus yang mendandani dan juga menata rambutnya sebelum ia berangkat ke kantor.
Isabel adalah orang yang sangat menjaga penampilannya, jadi pantas saja jika di usianya yang sudah menginjak tiga puluh tahun, wanita itu masih terlihat seperti usia dua puluh lima tahun.
Wanita penuh karisma itu berjalan dengan anggun, ia menuruni anak tangga sambil menenteng tas berwarna hitam yang senada dengan blazer yang saat ini dikenakannya.
Tentu saja tas berukuran tidak terlalu besar itu memiliki harga yang cukup fantastis.
“Mommy! Good morning!” ucap seorang anak laki-laki yang sudah memakai seragam TK.
Anak laki-laki yang memiliki kulit putih dan mata sipit itu adalah Lingga, putra Isabel.
Akan tetapi, wajah Lingga sangat mirip dengan Leo, terutama di bagian matanya yang sipit dan bentuk hidungnya yang mancung.
Hal tersebut yang terkadang membuat Isabel merasa kesal, apalagi jika ia menatap Lingga disaat anak itu sedang tidur.
“Hai gantengnya Mommy! Are you ready for school?” Isabel sedikit membungkukkan tubuhnya ketika berhadapan dengan Lingga.
Ia mengusap pipi putranya dengan lembut.
“Of course, Mommy!” balas anak itu dengan penuh semangat.
“Pinter! Ya udah, kamu berangkat dulu ya, hati-hati Sayang.” Isabel mencium kedua pipi putranya.
“Bay Mommy!” Lingga melambaikan tangannya sambil berjalan keluar dari rumah. Langkah anak itu diikuti oleh seorang wanita yang menjadi pengasuh Lingga sejak bayi.
Setelah tiba di halaman rumahnya, Lingga tak langsung masuk ke dalam mobil, anak itu menghentikan langkahnya ketika melihat sebuah motor masuk ke dalam gerbang rumah dan berhenti di dekatnya.
“Daddy! He is my Dad?” ucap Lingga sambil menunjuk ke arah Samudra yang turun dari motor bersama dengan bu Widi.
“Mom, Daddy is back!” teriak Lingga dengan jari telunjuk tertuju ke arah Samudra yang masih memakai helm.
Isabel yang mendengar teriakan putranya langsung keluar dari rumah.
“Apa? Leo datang lagi? Kurang ajar dia!” Isabel keluar dengan wajah kesal.
Wanita itu mengambil ember yang berisi air kotor bekas pel lantai.
“Nyonya, itu air kotor,” ucap seorang ART yang merasa terkejut ketika melihat majikannya mengambil air kotor itu.
“Biarin, saya mau nyiram muka orang itu!” balas Isabel dengan geram.
Wanita itu berjalan dengan cepat dan ….
Byurrrr!!!!
Tanpa basa-basi lagi, ia langsung menyiramkan satu ember air kotor tadi pada pria yang kini sedang berdiri di depan rumahnya.
Karena sedang dilanda emosi, Isabel tidak memperhatikan orang itu.
Padahal, jika dilihat dari segi fisik, sangat berbeda dengan Leo yang tubuhnya lebih berisi dan sedikit lebih pendek dari Samudra.
“Anjir, air apaan ini?” Samudra langsung membuka helmnya.
“Ya ampun, Nyonya!” Bu Widi refleks berteriak ketika melihat Samudra disiram oleh Isabel.
“Hah? Loh, kok kamu?” Isabel benar-benar terkejut setelah ia melihat wajah Samudra.
“Nyonya kenapa siram anak saya?” Bu Widi terlihat tegang, ia takut Isabel marah kepada Samudra, maka dari itu anaknya disiram dengan air kotor secara tiba-tiba.
“Kalau marah ngomong napa, jangan main nyiram aja. Dikira saya ini pohon kangkung apa, pake disiram air kotor segala,” oceh Samudra yang merasa tak terima, bahkan almamater yang dikenakan pemuda itu sampai basah kuyup.
“Sorry … sorry … saya gak tahu kalau itu kamu.” Isabel terlihat bingung, wanita itu menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Mom, ternyata ini bukan Daddy,” ucap Lingga dengan wajah sedih, anak itu merasa kecewa karena yang datang bukankah ayahnya.
“Emmmm … Lingga, kamu berangkat dulu ya, nanti telat. Sus, bawa Lingga ke mobil ya!” titah Isabel yang tak ingin Lingga melihat dan mendengar kejadian selanjutnya.
“Bu Widi, saya benar-benar minta maaf, saya kira tadi yang datang daddynya Lingga, makanya tadi saya langsung ambil air itu dan siram. Sekali lagi maaf ya. Buat kamu juga, saya minta maaf, saya benar-benar tidak sengaja.” Isabel sampai mengatupkan kedua tangannya sambil menatap ke arah Samudra yang masih terdiam dengan keadaan basah kuyup.
“Bu, gimana ini? Aku bisa-bisa gak dimasukin kelas kalau pake almet basah apalagi kotor kayak gini.” Samudra menoleh ke arah bu Widi yang malah menggerakkan kedua bahunya.
“Emmmm … gini saja, kita masuk dulu ke dalam, nanti biar saya bantu bicara dengan dosen kamu agar hari ini kamu diizinkan untuk tidak masuk kuliah dulu. Bu Widi, ayo masuk!” ajak Isabel yang benar-benar merasa bersalah.
Tanpa basa-basi lagi, Samudra langsung mengikuti langkah Isabel untuk masuk ke dalam ruang mewah itu.
“Sam, kamu pulang aja ya!” ucap bu Widi dengan suara pelan sambil memegang lengan putranya.
“Gak, Bu. Kapan lagi bisa masuk ke rumah yang full granit kayak gini.” Dengan tengiinya, Samudra langsung masuk ke dalam rumah itu.
Bu Widi mengikutinya dengan langkah ragu. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan Isabel setelah ini. Tapi, bu Widi merasa takut kalau Isabel akan memecatnya.
“Wih, ni rumah luasnya melebihi lapangan pekerjaan,” ucap Samudra sambil memperhatikan sekeliling.
“Sam, jangan kayak gitu!” tegur bu Widi.
“Ayo sini!” Isabel memanggil Samudra agar mendekat ke arahnya yang kini sudah berada di sebuah ruangan. Di sana ada sofa yang menghadap ke arah televisi berukuran besar.
Tanpa ragu, Samudra langsung menghampiri Isabel.
“Emmmm … karena almamater dan baju kamu kotor, boleh dibuka saja biar dicuci dulu di sini,” titah Isabel sedikit ragu.
“Hah? Buka baju? Sama celana juga?” tanya Samudra frontal.
“Opsional,” jawab Isabel singkat.
“Waduh, nanti keperjakaan saya kelihatan dong Tante.” Samudra malah nyengir sendiri.
“Siapa yang nyuruh kamu buat manggil saya Tante?” Isabel memelototi pemuda di hadapannya.
“Ya udah maaf, Nyonya. Ini beneran saya harus buka baju? Atau buka semuanya aja gak sih?” Samudra sama sekali tidak terlihat canggung. Padahal wanita cantik yang kini sedang berdiri di hadapannya itu adalah majikan dari ibunya sendiri.
“Jangan kurang ajar ya! Lebih suhuan saya daripada kamu!” Isabel memasang wajah ketus, akan tetapi hal tersebut malah membuat wajahnya semakin terlihat cantik.
“Masa? Ajarin dong suhu.” Samudra semakin berani.
“Cepat buka baju kamu, atau saya yang bukain?” Isabel menatap tajam ke arah pemuda itu.
Ia merasa bersalah karena telah menyiram Samudra dengan air kotor, akan tetapi ia merasa kesal ketika melihat wajah tengil pemuda itu.
“Buka aja, Tante. Buka ….” Samudra malah membusungkan dadanya ke arah Isabel seolah menantang.
Isabel yang melihat itu semakin merasa kesal, ia menarik almamater yang dikenakan Samudra sampai terlepas.
Setelah itu, ia memegang ujung kaos yang dikenakan Samudra dan mengangkatnya ke atas untuk membuka kaos tersebut.
Namun, seketika ia terdiam saat melihat bagian d**a Samudra. Tubuh pemuda itu memang tidak terlalu berisi, akan tetapi bagian d**a dan perutnya terlihat kekar.
Isabela yang sudah berpengalaman, terlebih lagi ia sudah lama menjanda, tentu saja merasakan reaksi yang berbeda pada tubuhnya ketika melihat hal tersebut.