Isabel menelan ludah, seperti ada sesuatu yang berbeda di dalam hatinya, ia sedikit menengadahkan kepala, menatap wajah Samudra yang memiliki tubuh lebih tinggi darinya.
Samudra malah tersenyum ketika Isabel menatapnya.
Senyuman itu membuat wajahnya semakin terlihat tampan, Isabel akui kalau Samudra memiliki wajah yang tampan, meski penampilannya sederhana.
Bahkan, pemuda itu lebih tampan dari Leo, mantan suami Isabel.
"Tante ..." panggil Samudra yang membuat Isabel langsung mengerjapkan matanya.
Ia mengalihkan pandangan ke arah lain agar Samudra tidak merasa curiga kalau sedari tadi ia sedang memperhatikan wajahnya.
"Saya bukan Tante kamu. Sekarang kamu duduk di sini, saya ambilkan baju ganti." Isabel segera beranjak dari hadapan Samudra, wanita itu berjalan ke arah sebuah kamar.
Samudra memperhatikan Isabel dari belakang, tubuhnya yang indah terlihat cukup menggoda.
Namun, Samudra sadar diri, ia dan Isabel bagaikan langit dan bumi, wanita itu sangat mapan dan kaya raya.
Selain itu juga, ada satu hal yang terus terngiang di kepala Samudra, bahwa Isabel adalah seorang janda.
"Katanya, kalau janda itu udah longgar," ucapnya pelan, entah ia mendapat pikiran itu dari mana.
Samudra masih berada di ruang tamu, sementara ibunya sudah mulai bekerja di laundry room.
Tak lama kemudian, ponselnya berdering, menandakan ada panggilan masuk.
Samudra mengambil benda canggih itu dari dalam tas, sebuah nama terpampang nyata.
My Love Laura ....
Samudra menghela napas pelan sebelum menggeser layar berwarna hijau.
Ia masih terngiang ucapan Laura semalam yang memaki dirinya gara-gara ia tak bisa menemani gadis itu nonton konser.
Pagi ini Samudra sengaja tidak menghubunginya, dan benar saja kini Laura menghubungi dirinya terlebih dahulu.
Ini bukan sekali atau dua kali, sering terjadi. Terkadang, Samudra sudah merasa malas dengan hubungannya, bukan karena ia merasa bosan kepada Laura, tapi sikap gadis itu yang membuatnya malas berhubungan.
Ponselnya terus berdering, Laura beberapa kali menghubunginya.
Akhirnya, Samudra mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Sayang, kamu dimana? Kok gak datang-datang? Aku nungguin kamu dari tadi!" Suara Laura terdengar manja dan merengek.
Samudra kembali menghela napas sebelum berbicara.
"Hari ini aku gak jadi ke kampus, ada gangguan mendadak. Kamu berangkat aja dulu, nanti telat," balas Samudra dengan nada pelan.
"Hah? Enteng banget kamu bilang kayak gitu? Padahal aku udah nungguin kamu dari pagi. Emang ada gangguan apa? Jangan-jangan kamu lagi sama cewek lain?"
Samudra memejamkan matanya untuk meredam rasa kesal.
Selalu saja begitu, Laura selalu melempar tuduhan padanya.
"Aku lagi malas debat, hari ini aku gak bisa jemput kamu dan hari ini juga aku gak bisa ke kampus."
"Dasar gak guna!" Panggilan diakhiri dengan makian.
Samudra menggenggam erat-erat ponselnya, selama ini ia selalu mengalah dan jarang marah, tapi karena sikapnya yang seperti itu, justru malah disalah artikan oleh Laura.
Ia yang selalu mengalah, malah dianggap lemah.
"Kenapa?" Suara itu membuat Samudra langsung menoleh.
Isabel sudah berdiri di sampingnya sambil membawa sebuah kaos berwarna putih.
Samudra terdiam, ia tak langsung menjawab pertanyaan wanita itu.
"Siapa yang telepon?" tanya Isabel lagi, sorot mata wanita itu tertuju pada ponsel yang masih dipegang oleh Samudra.
"E-enggak, bukan siapa-siapa kok." Samudra buru-buru memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas.
"Oh, pake ini." Isabel menyerahkan kaos yang sedari tadi dipegangnya itu kepada Samudra.
"Makasih, Tan ...." Samudra tersenyum, Isabel hanya menatapnya sekilas lalu memalingkan wajah ke arah lain.
"Bajunya kamu bawa pulang aja," ucap Isabel selajutnya.
"Beneran? Sekali lagi, makasih, Tan. Sering-sering aja siram aku kalau gitu," balas Samudra dengan tak tahu diri.
"Sam, jaga etika!" bentak bu Widi yang tak sengaja mendengar ucapan putranya barusan.
"Santai, Bos. Ya udah, kalau gitu aku izin pulang aja ya, karena hari ini gak jadi kuliah, aku mau masuk bengkel aja, lumayan." Samudra menatap ke arah bu Widi.
"Kamu masuk bengkel? Apanya yang dibengkel?" Isabel menatap Samudra dari atas sampai bawah dengan wajah heran.
"Samurainya, Tan." Samudra mengarahkan sorot mata pada bagian bawahnya, Isabel yang sudah dewasa, tentu saja memahami apa maksud dari pemuda itu.
"Sam! Lebih baik kamu pulang sekarang!" usir bu Widi yang merasa tak enak kepada Isabel atas tingkah putranya.
"Iya, Buk. Aku pulang dulu, Tan. Assalamualaikum." Samudra keluar dari rumah itu dengan langkah lebar.
Isabel memperhatikannya sampai pemuda itu benar-benar menghilang dari pandangan dan terdengar suara motor yang berjalan meninggalkan rumah itu.
"Nyonya, maaf atas sikap Samudra yang kurang baik ya," ucap bu Widi sedikit menunduk.
"Gak papa, Bu." Isabel tersenyum.
"Kalau begitu, saya pamit ke belakang lagi, Nyonya. Mau jemur baju," pamit wanita paruh baya itu dengan santun.
"Bu Widi ..." panggil Isabel yang langsung menghentikan langkah wanita itu.
Bu Widi membalikkan badan, menghadap ke arah Isabel.
"Iya, Nyonya, ada yang harus saya kerjakan lagi?" tanyanya santun.
"Ah, tidak. Saya cuma mau ngobrol sebentar sama Ibu. Ayo kita duduk dulu sini." Isabel mengajak bu Widi untuk duduk di atas sofa.
Bu Widi mendekat, ia menundukkan kepala, wajahnya terlihat tegang, wanita paruh baya itu takut kalau Isabel akan memecatnya.
Isabel duduk dengan anggun, ia menunggu bu Widi untuk duduk di sampingnya.
Namun, wanita paruh baya itu malah duduk di atas lantai, di dekat kaki Isabel.
"Eh, jangan duduk di situ, Bu. Sini di sebelah saya." Isabel menunjuk ke arah lahan kosong di sebelahnya.
"Tapi, Nyonya ...."
"Sudah, duduk sini, Bu." Isabel memegang tangan bu Widi dan meminta wanita paruh baya itu untuk berpindah tempat.
Bu Widi duduk di samping Isabel, wajahnya masih terlihat tegang dan takut.
"Santai saja, Bu. Saya cuma mau ngobrol sebentar. Emmmm ... Kalau boleh tahu, Samudra itu ke bengkel mau apa ya, Bu?" Isabel penasaran.
Bu Widi terdiam sejenak, kenapa tiba-tiba majikannya bertanya seperti itu.
"Nyonya, maaf ya, pasti gara-gara jawaban Samudra tadi, Nyonya jadi berpikir aneh-aneh. Sam memang agak sinting, ditanya bener-bener tapi jawabnya ngasal." Bu Widi mengomel, bibir wanita paruh baya itu sudah tak sabar untuk mencaci maki putranya.
"Gak papa, Bu. Santai saja." Isabel tersenyum.
"Jadi gini, Nyonya. Samudra itu sebenarnya kerja di bengkel, biasanya dia masuk setelah pulang kuliah, pulangnya kadang jam tujuh malam, terus dia lanjut kerja di kafe, kadang pulang larut malam atau sampe pagi kalau hari libur. Saya tahu dia pasti capek, tapi mau gimana lagi, sejak bapaknya meninggal, ekonomi kami semakin menurun, Nyonya. Saya sendiri tidak sanggup memenuhi biaya hidup kami bertiga, kuliah Sam dan juga adiknya. Sam sempat off kuliah beberapa kali dan akhirnya sekarang dia belum selesai. Eh, maaf Nyonya, saya bukan bermaksud adu nasib." Bu Widi menundukkan kepala, wajahnya terlihat sendu.
Isabel mengangguk, ia menyimak baik-baik setiap kalimat yang diucapkan oleh wanita paruh baya itu.
"Bu, bagaimana kalau saya memberikan tawaran untuk Ibu dan juga Sam. Ini bukan tawaran pekerjaan, ini tawaran lebih dari itu ...."