5. Mau Menikah?

1110 Kata
Bu Widi sangat terkejut setelah mendengar penawaran dari Isabel, bahkan ia sampai tak percaya wanita itu memberinya penawaran yang sangat tidak masuk akal. Tapi, jika dipikir-pikir, alasan Isabel cukup tepat dan jika ia menerima tawaran itu, bu Widi yakin hidupnya dan juga anak-anaknya pasti berubah. Sesuai apa yang dijelaskan oleh Isabel. Namun, ia tidak bisa mengambil keputusan sendiri, bu Widi juga butuh persetujuan dari Samudra, itu yang sangat penting. Saking bingungnya, sore ini bu Widi tidak meminta dijemput oleh Sam, ia pulang sendiri jalan kaki, meskipun jarak dari rumah Isabel dan rumahnya cukup jauh. *** Di tempat lain, lebih tepatnya di sebuah bengkel motor tempat Samudra bekerja. Pemuda itu sedang sibuk dengan alat-alat bengkel, kedua telapak tangannya hitam karena oli. Keringat bercucuran dari pelipis dan keningnya. Ponsel yang ia letakkan di atas kursi, sedari tadi tak berhenti berdering menandakan ada panggilan telepon masuk, tak hanya panggilan telepon, kini berganti dengan panggilan video. Samudra hanya melirik sekilas, ia tahu siapa yang menghubunginya, siapa lagi kalau bukan Laura. "Sam, hp lo dari tadi bunyi terus tuh, pacar lo lagi kangen kayaknya," celetuk Rusli, teman Sam di tempat kerja. Pria itu berbicara dengan nada meledek. "Biarin aja, betina suka gitu, gak tau aja tangan gue penuh sama oli," sahut Samudra yang menanggapi ucapan temannya dengan guyonan. Ia sedang malas menerima panggilan dari Laura, karena ia tahu ujung-ujungnya pasti mereka berdebat lagi. Lebih baik ia diamkan saja, apalagi saat ini dirinya sedang berada di tempat kerja, Laura hanya akan menggangu fokusnya saja. Ia akan menghubungi gadis itu kembali, setelah longgar. Dua motor berhenti di depan bengkel, Sam mengangkat kepala dan melihat ke arah dua pemuda yang baru turun dari motor. Ia langsung berdiri ketika menyadari dua sahabatnya datang ke sana. "Sam, benerin motor gue dong," ucap Cakra, sahabat Samudra, mereka satu kampus dan juga satu fakultas, serta satu nasib belum lulus. Bedanya, Samudra belum lulus karena pernah off kuliah terhalang biaya dan masalah ekonomi yang mengharuskan dirinya bekerja lebih keras lagi. Sementara Cakra, ia memang sengaja menunda skripsi karena masih ingin berkuliah, alasannya ia malas bekerja, dunia perkuliahan lebih asyik karena ia masih dibiayai oleh orang tuanya. "Motor lo kenapa lagi?" Sam berdiri di hadapan kedua sahabatnya. Bedanya, penampilan kedua sahabatnya bersih dan wangi, sementara dirinya kotor dan bau oli serta bensin. "Kenalpotnya meletup-letup kalau di gas kayak suara kentut," jawab Cakra. "Karma buat orang yang suka kentutin orang lagi vcs," timpal Gifary, atau lebih akrab disapa Gufron. "Kampret! Lagian, lo vcs sama janda, mana minta spil ukuran Joni lo berapa senti," balas Cakra yang membuat Sam langsung memecahkan tawanya. "Congor lo! Gue bilang aja, pendek kok, kalau mau nyampe harus disambung," timpal Gifary yang membuat mereka tertawa serentak. "Lagian, lo ada-ada aja pacaran sama janda, emang enak? Kayak gak ada perawan aja." Samudra menimpali. "Yeee ... Lo gak tahu aja gimana rasanya lapis legit, awas lo ketagihan janda," ledek Gifary. Kehadiran mereka membuat suasana semakin rame, karena mulut ketiga pemuda itu terkadang memang rusak. *** Setelah selesai kerja di bengkel Samudra tidak langsung pulang ke rumah, ia lanjut kerja di kafe hingga larut malam. Tubuhnya capek dan pegal, ia sampai tidak mempunyai waktu untuk membuka ponsel, ia yakin banyak pesan masuk dari Laura. Hal itu sudah biasa, tapi Sam lebih mengutamakan pekerjaannya. Pemuda itu pulang sekitar jam setengah dua belas malam. Ia membuka pintu rumah dan yang pertama ia lihat adalah ibunya. Wanita paruh baya itu duduk di sofa yang terlihat sudah kusut, bahkan ada beberapa bagian yang sudah bolong karena ditelan usia. "Kok belum tidur, Buk?" Samudra mendekat, ia mencium punggung tangan sang ibu. Pemuda itu menatap wajah ibunya yang terlihat gelisah. "Duduk dulu." Bu Widi menarik tangan Sam agar duduk di sampingnya. Sam menurut, ia mengedarkan pandangannya, rumah itu sepi, lampu kamar depan sudah padam, adiknya sudah tidur. Pandangannya berhenti pada sebuah foto, sebuah foto yang terpampang pada dinding usang itu selalu membuat dadanya terasa sesak. Foto keluarga mereka ketika masih utuh, ibu dan bapaknya duduk di kursi, sementara ia dan Zizi berdiri di belakang kedua orang tuanya. "Ada apa, Buk? Ada yang nagih lagi?" Pikiran Samudra langsung tertuju pada rentenir yang hampir setiap hari datang ke rumah. Semakin hari, hutang bekas biaya berobat bapaknya semakin bertambah, bukan karena tak dibayar, tapi karena bunganya semakin lama semakin naik. Bahkan, ia dan ibunya hanya bisa mencicil bunganya saja. Bu Widi menarik nafas perlahan, lalu menggeleng, "bukan." Samudra merasa lega, tapi raut wajah ibunya masih tegang. "Biaya kuliah Zizi?" Sam kembali menebak. Tapi, lagi-lagi bu Widi menggeleng. Sam terdiam, ia membiarkan ibunya menjelaskan. "Kamu mau nikah kan?" Pertanyaan itu singkat, tapi membuat Sam mengerutkan kening. "Nikah? Sama Laur ...." "Bukan!" potong bu Widi cepat. "Terus nikah sama siapa? Ibuk ada-ada aja, kayaknya ibuk ngelindur. Lanjut tidur lagi aja, Buk." Sam akan bangkit dari duduknya, namun bu Widi segera menahan tangan Sam yang membuat pemuda itu tak jadi berdiri. "Ibuk serius, Sam. Ibuk dapat tawaran, bukan ibuk, lebih tepatnya kamu ...." "Tawaran apa, Buk? Kerja di rumah Tante itu? Apa hubungannya dengan nikah?" Sam membuang nafas kasar, ia sudah tak sabar ingin membersihkan diri dan tidur. "Tawaran kamu nikah dengan Nyonya Isabel," jawab bu Widi yang membuat Sam membeku sejenak. "Ibuk jangan aneh-aneh deh." Sam akan berdiri lagi, namun bu Widi menggenggam tangannya dengan erat. "Ibuk serius, Sam. Nyonya Isabel meminta kamu untuk menikahinya. Dia juga menawarkan banyak keuntungan, dia tidak akan menuntut apapun dari kamu. Dia akan membiayai kuliah kamu sampai seiasai, membiayai kuliah adikmu, jika Zizi mau, sampai S3 juga bisa. Dan yang terpenting, melunasi semua hutang dan menjamin hidup kita, Sam." "Terus Ibuk setuju gitu aja? Tanpa curiga kalau dia akan menjadikan aku tumbal keperjakaan?" Sam bangkir dari duduknya. Bu Widi yang merasa kesal atas ucapan putranya, langsung melempar bantal sofa ke arah pemuda itu. Sam tak menghiraukan ibunya, ia langsung masuk ke dalam kamar. *** Di rumahnya yang mewah, Isabel duduk di ruang televisi. Layar lebar di hadapannya menyala, tapi suara dari televisi itu nyaris tak terdengar karena suara ponselnya yang sedari tadi berbunyi. Banyak panggilan masuk, ia meraih benda canggih itu dan membaca beberapa pesan masuk dari nomor yang sama. +62****** Angkat telepon aku, aku kangen sama kamu. Aku kangen Lingga, anak kita. Ayok kita balikan aja, aku janji aku akan berubah. Aku gak akan pernah berhenti neror kamu. Angkat telepon aku atau aku datangi kamu sekarang! Isabel menggeram, ingin rasanya ia membanting ponsel tersebut. Leo terus menerornya, "aku harus cepat nikah lagi! Biar dia berhenti neror aku!" Pikirannya langsung tertuju pada seorang pemuda, dan juga pada obrolannya tadi siang dengan bu Widi. Ia menunggu jawaban dari mereka, ia sudah memberikan penawaran yang sangat menarik. Ia juga tidak tahu kenapa pilihannya tertuju pada pemuda yang baru kemarin ia kenal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN