Yuri melangkah memasuki rumah besar suaminya. Sebuah kenyamanan yang dia rasa, seolah melenyapkan semua beban pikiran yang mendera. Bohong jika Yuri masih merasa baik-baik saja ketika hampir semua orang kantor memandangnya sebelah mata. Luarnya saja Yuri tampak tegar. Tak perduli dengan omongan orang. Namun, di sudut terkecil hatinya, ia selalu memprotes pada Tuhan. Kenapa dirinya dilahirkan hanya untuk menjadi bahan hinaan dan sering direndahkan oleh orang. Apakah karena dia adalah yatim piatu dan berasal dari keluarga sederhana? Yuri membuang napas panjang. Di tengah keruwetan isi pikirannya, perempuan itu juga tak hentinya bersyukur karena Tuhan telah mempertemukannya dengan keluarga Candra. Setidaknya ada kakek Erwin dan Erik yang kini mau menerimanya dengan tangan terbuka. Memberikan