Hujan turun lagi malam itu, mengetuk lembut kaca jendela kamar Rania. Di luar, langit gelap, hanya diterangi cahaya remang dari lampu jalan yang memantul di genangan air. Namun di dalam kamar, cahaya lampu meja jatuh lembut di atas selembar kertas yang Rania tatap sejak tadi.
Di atas kertas itu, ia menggambar. Bukan wajah — karena wajah itu tertutup masker. Bukan nama — karena ia tidak pernah menanyakannya. Ia hanya menggambar garis yang tegas dan kokoh: sebuah punggung. Bahu yang lebar, postur yang tegap, cara berdiri yang seakan menanggung seluruh dunia. Dan di sampingnya, ia menggambar bintang kecil — samar, namun tak bisa dihapus.
"Siapa kau sebenarnya?" bisiknya pada gambar itu, suara hujan menyamarkan getar di nadanya.
Pertanyaan itu sudah ribuan kali terucap di dalam hatinya. Namun malam ini, pertanyaan itu terasa lebih berat, lebih mendesak. Karena semakin lama ia bersama Kenzy, semakin ia merasa terbagi dua. Di satu sisi, hatinya tertumbuk pada pemuda lembut yang duduk di sampingnya setiap hari, yang mendengarkan dengan sabar, yang tersenyum malu-malu saat dipuji, yang selalu ada saat ia membutuhkan seseorang. Namun di sisi lain, ada suara kecil yang terus berbisik — bukan dia. Pahlawanmu lebih kuat. Lebih gagah. Lebih berani.
Tapi bisik itu juga diragukan oleh hatinya sendiri. Lalu mengapa setiap kali Kenzy berada di dekatku, aku merasa aman? Mengapa saat ia berjalan di depanku, aku merasa terlindungi? Mengapa punggungnya... persis sama?
Rania menutup matanya, menarik napas panjang. Ia tidak bisa terus begini. Keraguan ini perlahan memakan dirinya. Ia harus tahu. Bukan karena tidak percaya pada Kenzy — tapi karena ia tidak percaya pada dirinya sendiri, pada ingatannya, pada perasaan yang semakin hari semakin sulit ia pungkiri.
Keesokan paginya, Rania tidak langsung menemui Kenzy seperti biasanya. Ia berjalan menuju perpustakaan pusat kampus — tempat yang tenang, penuh buku, dan juga penuh arsip. Ada sesuatu yang sudah lama ia pikirkan, namun baru hari ini ia berani melakukannya.
Ia mencari daftar mahasiswa baru tahun ini, mencari nama Kenzy. Namun yang ia temukan hanyalah nama itu, tanpa alamat asal, tanpa sekolah sebelumnya, tanpa informasi apa pun yang bisa menuntunya ke mana-mana. Seakan Kenzy muncul dari ketiadaan — tiba-tiba ada di sini, tanpa jejak masa lalu.
Rania duduk di sudut perpustakaan, menatap layar yang menampilkan nama itu. Hatinya terasa sesak. Mengapa dia menyembunyikan asal-usulnya? Apakah ada sesuatu yang begitu kelam di masa lalunya sehingga ia takut untuk mengingatnya? Atau... apakah ia menyembunyikan identitasnya karena alasan yang sama sekali berbeda?
"Kau mencari seseorang?"
Suara lembut terdengar dari samping. Rania menoleh — seorang petugas perpustakaan menatapnya dengan senyum ramah namun penuh tanya.
"Ah... tidak... hanya mencari referensi," jawab Rania buru-buru menutup halaman itu, pipinya memerah.
Petugas itu mengangguk pelan lalu pergi. Namun hati Rania tidak tenang. Dia tahu — dia tahu ada sesuatu. Dan ketidaktahuan itu justru membuat perasaannya semakin dalam, semakin menyakitkan. Karena ia menyadari: ia jatuh cinta pada seseorang yang bahkan tidak ia kenal sepenuhnya.
Siang itu, mereka bertemu seperti biasa di kantin. Namun suasana di antara mereka berbeda. Rania lebih diam dari biasanya. Matanya sesekali menatap Kenzy, lalu cepat-cepat memalingkan wajah saat tatapan mereka bertemu. Ada sesuatu yang tertahan di antara mereka — sesuatu yang berat, namun tak terucap.
"Kau hari ini berbeda," kata Kenzy pelan, setelah keheningan yang cukup lama. "Ada yang mengganggumu?"
Rania menatapnya. Di balik kacamata tebal itu, matanya terlihat tulus khawatir. Sejujurnya, terlalu tulus. Bagaimana seseorang bisa berpura sepeduli ini? Atau... apakah semua keraguannya sia-sia?
"Aku hanya... banyak berpikir," jawab Rania lembut.
"Tentang apa?"
"Tentang masa lalu. Tentang orang-orang yang pernah kita temui. Tentang bagaimana seseorang bisa berubah begitu banyak sehingga orang yang mengenalnya dulu pun tidak akan mengenalnya lagi."
Kenzy terdiam. Sendok di tangannya berhenti bergerak. Wajahnya tidak berubah, namun Rania melihat — melihat bagaimana jemarinya sedikit menegang, bagaimana napasnya tertahan sejenak sebelum ia menjawab.
"Perubahan itu bisa terjadi karena kebutuhan," ucapnya akhirnya, suaranya rendah namun tenang. "Kadang kita berubah bukan karena ingin melupakan siapa kita... tapi karena kita ingin menjadi seseorang yang lebih baik. Seseorang yang tidak akan menyakiti orang lain."
"Dan kau... apakah kau berubah?" tanya Rania, berani menatapnya lekat-lekat.
Kenzy menatapnya lama. Ada sesuatu di matanya — kesedihan yang dalam, penyesalan yang tak terucap, dan juga ketakutan yang ia coba sembunyikan sekuat tenaga.
"Aku berubah, Rania," jawabnya pelan. "Tapi bukan karena aku malu pada siapa aku dulu. Aku berubah karena aku ingin melindungi orang-orang yang aku sayangi. Bahkan... meskipun itu berarti menyembunyikan sebagian dari diriku."
Jantung Rania berdegup kencang. Kata-kata itu begitu dalam, begitu jujur — namun juga begitu samar. Ia ingin bertanya lebih banyak. Ia ingin bertanya: Lindungi dari apa? Siapa yang kau sayangi? Dan siapa kau sebenarnya? Tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokan. Karena ia takut mendengar jawaban yang tidak siap ia terima. Dan ia takut — takut jika ia menuntut kebenaran sekarang, ia akan kehilangan pemuda di hadapannya ini.
Sore itu, mereka berjalan pulang dalam diam. Hujan reda, namun udara masih lembap dan dingin. Daun-daun berguguran di sepanjang jalan, menandakan pergantian musim — sesuatu yang tak terelakkan, seperti perubahan yang terjadi pada hati mereka.
Di sebuah persimpangan jalan, Kenzy berhenti. Ia menatap Rania, dan untuk pertama kalinya, ia menatapnya tanpa keraguan, tanpa ketakutan yang biasa ia sembunyikan.
"Rania," katanya, suaranya mantap namun lembut. "Ada hal-hal yang belum bisa kukatakan padamu. Bukan karena aku tidak percaya padamu... tapi karena aku takut. Takut jika kau tahu kebenarannya, kau akan menjauh. Dan itu... adalah hal terakhir yang ingin kuterima."
Rania menatapnya, matanya berkaca-kaca. "Kenzy... aku tidak akan menjauh."
"Kau tidak tahu apa yang kau katakan," potong Kenzy pelan, namun tegas. "Ada hal-hal di masa laluku yang kelam. Yang menyakitkan. Dan aku tidak ingin kau terluka karena itu."
"Kau tidak akan menyakitiku," bisik Rania.
Kenzy tersenyum sedih. "Kau tidak tahu itu, Rania. Kau belum tahu semuanya."
Dan dengan itu, ia berbalik dan melangkah pergi — meninggalkan Rania berdiri sendirian di jalan yang sepi, dengan hati yang berdebar dan pertanyaan yang semakin banyak.
Malam itu, Rania tidak bisa tidur. Ia duduk di jendela, menatap bulan yang separuh tertutup awan. Pikirannya berputar tanpa henti. Kenzy menyembunyikan sesuatu — itu sudah pasti. Tapi apa? Mengapa? Dan yang paling penting — apakah sesuatu itu ada hubungannya dengan pahlawannya?
Ia teringat kembali kejadian di halaman belakang sekolah. Punggung itu. Gerakan itu. Kekuatan itu. Dan kemudian ia teringat Kenzy — refleksnya saat menahannya agar tidak jatuh, tatapannya saat menonton pertandingan tinju, kekuatan di tangannya. Semuanya begitu mirip. Namun wajahnya... wajahnya berbeda.
Atau apakah aku yang tidak pernah melihat wajah pahlawannya dengan jelas?
Pikiran itu menghantamnya begitu keras hingga ia tertegun. Pahlawannya memakai masker. Wajahnya tertutup sebagian. Ia hanya melihat mata, rambut, dan pelipisnya. Luka bintang itu. Tapi Kenzy... Kenzy menutupi pelipis kirinya dengan rambut poni. Selalu. Setiap hari. Tanpa terkecuali.
Rania menahan napas. Apakah mungkin? Apakah mungkin bahwa rambut itu menutupi sesuatu yang ia cari sepanjang ini?
Namun pikiran itu segera ia tolak. Terlalu mustahil. Takdir tidak mungkin begitu kejam — menyembunyikan kebenaran begitu dekat, namun menutupnya rapat-rapat hingga ia hampir gila mencarinya.
Tapi... bagaimana kalau bukan kejam? Bagaimana kalau takdir justru sedang menguji mereka? Menguji apakah cinta mereka cukup kuat untuk bertahan bahkan sebelum mereka tahu siapa mereka sebenarnya?
Di sisi lain kota, Kenzy juga belum tidur. Ia duduk di tepi tempat tidurnya, menatap jemarinya sendiri — tangan yang pernah ia gunakan untuk bertarung, untuk melindungi, dan kini... untuk menyembunyikan siapa dirinya.
Kata-kata yang ia ucapkan pada Rania tadi benar. Ia takut. Bukan pada masa lalunya — ia sudah berdamai dengan itu. Ia takut pada reaksi Rania. Takut Rania kecewa karena ia berbohong sejak awal. Takut Rania merasa dikhianati karena ia menyembunyikan identitasnya begitu lama. Dan yang paling ia takutkan — Rania membenci dirinya yang sebenarnya. Pemuda yang pernah bertarung, yang pernah terluka, yang pernah diusir dari sekolahnya.
Namun ada satu hal yang membuatnya bertahan. Satu hal yang membuatnya terus berjalan ke samping Rania setiap hari.
Karena bersamamu, Rania, batinnya lembut, menatap jendela yang sama dengan yang Rania tatap. Karena di sampingmu, aku merasa bukan lagi pemuda yang lari dari masa lalunya. Aku merasa... aku cukup. Sebagai diriku yang sederhana, yang menyembunyikan segalanya, tapi yang mencintaimu dengan segenap hatinya.
Dan di lubuk hatinya yang paling dalam, ada harapan kecil — harapan bahwa suatu hari nanti, saat waktunya tiba, Rania akan melihat siapa dirinya sebenarnya. Dan saat itu, ia tidak akan melihat pemuda yang ia sembunyikan... melainkan orang yang sama — orang yang selalu ada di sampingnya, orang yang mencintainya, orang yang akan melakukan apa pun demi melindunginya.
Mereka berdua tidak tahu — bahwa di hari yang sama, di jam yang sama, mereka berdua merasakan hal yang sama. Kerinduan. Ketakutan. Dan cinta yang tumbuh meskipun segala keraguan dan rahasia yang memisahkan mereka.
Takdir memang mempertemukan mereka. Tapi takdir juga memberi mereka pilihan — untuk bertahan dalam ketidaktahuan, atau berani membongkar kebenaran yang bisa menyatukan atau menghancurkan mereka.
Dan di antara dua pilihan itu, ada satu hal yang pasti.
Cinta mereka nyata. Bahkan tanpa mengetahui siapa mereka sebenarnya. Bahkan tanpa mengetahui bahwa mereka sudah saling dicari sejak lama. Bahkan tanpa mengetahui bahwa pahlawan dan gadis yang ditolongnya kini berjalan berdampingan, terpisah hanya oleh sehelai rambut dan sebuah kacamata.
Suatu hari nanti, kabut itu akan terangkat. Rambut poni itu akan tersingkap. Dan saat itu tiba — apakah mereka akan melihat kebenaran dan tetap bersama? Atau kebenaran itu justru yang akan memisahkan mereka?
Mereka belum tahu. Mereka hanya tahu satu hal — bahwa perasaan ini nyata. Dan itu saja, untuk saat ini, cukup untuk membuat mereka terus melangkah, menuju hari di mana takdir akhirnya akan tersenyum dan berkata: "Sekarang kalian boleh tah