BAB 5

1456 Kata
Hari-hari berikutnya, keraguan itu tidak lagi sekadar ada di pikiran Rania — ia kini menjadi bagian dari setiap detik yang ia lalui bersama Kenzy. Setiap kali mereka berjalan berdampingan, setiap kali mereka duduk bersebelahan di perpustakaan, setiap kali Kenzy menoleh ke arahnya — mata Rania tanpa sadar melayang ke sisi kiri wajah pemuda itu. Ke arah pelipis. Ke arah yang selalu tertutup rapat oleh rambut poni tebal itu. Mengapa selalu di sana? Mengapa tidak pernah sekalipun ia melihat bagian itu terbuka, bahkan sedikit saja? Apakah rambut itu memang sekadar gaya rambut? Atau... apakah ia menyembunyikan sesuatu yang tak boleh dilihat siapa pun? Pertanyaan itu menghantui Rania siang dan malam. Ia berusaha menahannya, berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia terlalu berlebihan. Tapi setiap kali ia melihat Kenzy menunduk, rambut itu jatuh menutupi pelipisnya sempurna — dan jantung Rania kembali berdegup kencang. Suatu siang, cuaca tiba-tiba berubah. Langit yang tadinya cerah mendadak kelabu, dan angin kencang mulai menerpa dedaunan di sepanjang jalan setapak menuju kampus. Rania dan Kenzy berjalan bersama, berusaha mempercepat langkah sebelum hujan turun deras. Angin semakin kencang, menerpa rambut mereka berdua. Dan saat itulah — hembusan angin yang lebih kuat dari sebelumnya menerpa dari arah samping. Rambut poni Kenzy tertiup ke samping, menyingkap pelipis kirinya sejenak. Detik itu terasa berhenti berputar. Mata Rania membelalak. Napasnya tertahan di tenggorokan. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia yakin Kenzy pun bisa mendengarnya. Di sana. Di pelipis kiri yang tersingkap itu — ia melihat seberkas bekas luka. Garis-garis halus yang menyatu membentuk pola yang begitu ia kenal. Sebuah bintang. Hanya sekejap. Kenzy segera menyadari, dan dengan gerakan cepat namun halus, ia menata kembali rambutnya menutupi pelipis itu. Namun bagi Rania, sekejap itu sudah cukup. Cukup untuk mengguncang seluruh dunianya. "Kenzy..." suaranya nyaris tak terdengar, gemetar hebat. Kenzy menoleh, dan Rania melihat kekhawatiran melintas di matanya. "Kau tidak apa-apa? Angin ini terlalu kencang, kan?" Rania menatapnya, bibirnya bergetar. Ia ingin bertanya. Ia ingin berteriak: Apa itu di pelipismu?! Tapi kata-kata itu mati di lidahnya. Karena saat ini juga, keraguan kembali menyerangnya. Tidak... tidak mungkin. Banyak orang punya bekas luka di pelipis. Banyak orang punya tanda lahir. Itu belum tentu dia. Tapi di lubuk hatinya yang paling dalam, ia tahu. Ia tahu bentuk itu. Ia tahu letaknya. Ia tahu setiap detail dari tanda yang selama ini tersimpan dalam ingatannya sebagai satu-satunya jejak pahlawannya. "Rania?" Kenzy berhenti melangkah, menatapnya lekat-lekat. "Ada yang salah? Wajahmu pucat sekali." Rania menggeleng perlahan, berusaha menenangkan dirinya. "Tidak... tidak apa-apa. Hanya... kaget dengan angin ini." Kenzy menatapnya lama, seakan berusaha membaca apa yang tersembunyi di balik tatapan gadis itu. Ada sesuatu di mata Rania yang membuatnya cemas — ketakutan, keraguan, dan sesuatu yang lain yang belum bisa ia namakan. "Kau yakin?" tanyanya lembut. "Ya," jawab Rania, namun suaranya tidak meyakinkan bahkan bagi dirinya sendiri. "Ayo... cepat sebelum hujan turun." Mereka melanjutkan langkah dalam diam. Namun keheningan kali ini berbeda. Ada sesuatu yang berat menggantung di antara mereka — sesuatu yang lebih tebal dari awan hitam di langit, lebih dingin dari angin yang menerpa wajah mereka. Rania menatap punggung Kenzy di depannya, dan untuk pertama kalinya, ia merasa takut. Takut akan jawaban. Takut pada kebenaran yang mungkin selama ini ada tepat di depan matanya, namun ia tidak berani melihatnya. Sore itu, hujan turun deras sepanjang hari. Rania duduk di kamarnya, menatap ke luar jendela tanpa benar-benar melihat apa pun. Pikiran terus berputar kembali ke momen itu — rambut yang tersingkap, pelipis yang terlihat, bintang yang samar namun nyata. Itu hanya kebetulan, katanya pada dirinya sendiri. Bentuk yang mirip. Itu saja. Tapi ia tidak percaya pada kata-katanya sendiri. Semakin ia mencoba menyangkalnya, semakin kuat perasaannya bahwa ia tidak salah. Bentuk bintang itu — lima sudut, letaknya tepat di pelipis kiri, ukurannya — semuanya persis sama dengan yang ia lihat hari itu. Lalu... mengapa Kenzy menyembunyikannya? Mengapa ia selalu menutupinya dengan rambut? Mengapa ia tidak pernah membiarkan siapa pun melihatnya? Pertanyaan-pertanyaan itu menumpuk, menciptakan tekanan yang hampir tak tertahankan. Ia ingin menghadapi Kenzy. Ia ingin menanyakan langsung. Tapi ia takut. Takut jika ia salah, ia akan terlihat bodoh. Dan lebih dari itu — takut jika ia benar, ia tidak siap menerima konsekuensinya. Konsekuensi bahwa pemuda yang lembut di sampingnya setiap hari adalah pahlawan yang ia cari selama ini — dan pemuda yang menyembunyikan identitasnya darinya selama ini. Di sisi lain kota, Kenzy juga tidak tenang. Sejak tadi siang, sesuatu terasa berbeda. Tatapan Rania... cara Rania menatapnya setelah angin menerpa rambutnya... ada sesuatu di sana. Keterkejutan. Keraguan. Dan juga ketakutan. Apakah dia melihatnya? batinnya berdebar cemas. Apakah dia melihat pelipisku? Ia berharap tidak. Ia berharap angin itu tidak cukup kuat, atau rambutnya cukup tebal sehingga tidak ada yang terlihat. Tapi ia tahu — ia merasakan tatapan Rania yang tertuju tepat ke sisi kirinya. Ia melihat wajah Rania yang pucat seketika. Dan ia tahu — ada sesuatu yang berubah di hati gadis itu. Kenzy duduk di tepi tempat tidurnya, menarik napas panjang. Ia menyadari bahwa waktunya semakin sempit. Rahasianya semakin tipis. Setiap hari, setiap momen, rahasia itu semakin terancam terbongkar. Dan ia belum siap. Belum siap kehilangan Rania. Belum siap melihat Rania kecewa padanya karena berbohong. Tunggu sedikit lagi, mohonnya dalam hati. Beri aku waktu sedikit lagi. Aku belum siap kehilanganmu, Rania. Namun ia juga tahu — waktu tidak akan berhenti menunggu. Suatu hari nanti, kebenaran itu akan keluar. Dan saat itu tiba, ia tidak tahu apakah ia akan siap menghadapinya. Keesokan harinya, suasana di antara mereka terasa canggung. Rania menatapnya, lalu cepat memalingkan wajah saat tatapan mereka bertemu. Kenzy merasakan keraguan itu — merasakan jarak yang tiba-tiba tercipta di antara mereka meskipun mereka berdiri berdampingan. "Kau menghindar dariku," kata Kenzy akhirnya, saat mereka duduk di bangku taman kampus di sore yang tenang. Tidak ada tuduhan dalam suaranya — hanya kesedihan yang dalam. Rania menatapnya, matanya berkaca-kaca. "Aku tidak menghindarimu, Kenzy. Aku hanya... bingung." "Tentang apa?" "Tentang segalanya," jawab Rania jujur. "Tentang siapa kau sebenarnya. Tentang apa yang kau sembunyikan. Tentang mengapa setiap kali aku merasa semakin dekat denganmu, aku juga merasa semakin jauh." Kenzy terdiam. Kata-kata itu menembus hatinya lebih tajam dari apa pun yang ia dengar. Ia ingin menjawab. Ia ingin mengatakan segalanya. Tapi kata-kata itu terasa berat di lidahnya. Bagaimana cara menjelaskan bahwa ia menyembunyikan identitasnya demi melindungi orang-orang yang dicintainya? Bagaimana cara menjelaskan bahwa ia takut jika Rania tahu siapa dirinya sebenarnya, ia akan pergi? "Rania..." mulainya pelan, memilih kata dengan hati-hati. "Ada hal-hal yang belum bisa kukatakan. Bukan karena aku tidak mau jujur padamu... tapi karena aku takut. Takut kehilanganmu." "Kau tidak akan kehilanganku karena jujur," bisik Rania. "Tapi kau mungkin akan kehilanganku karena terus menyembunyikan kebenaran." Kata-kata itu sederhana namun menghancurkan pertahanan Kenzy. Ia menatap Rania, dan untuk pertama kalinya, ia melihat air mata di mata gadis itu — air mata yang bukan karena kesedihan, tapi karena kerinduan akan kebenaran. Kerinduan untuk mengenalinya sepenuhnya. "Aku tahu," akui Kenzy pelan, suaranya bergetar. "Dan aku minta maaf. Aku hanya... butuh waktu. Sedikit waktu lagi." Rania menatapnya lama, lalu perlahan mengangguk. Ia tidak mau memaksanya. Ia tahu memaksa kebenaran keluar saat seseorang belum siap hanya akan mendorongnya semakin menjauh. Tapi di lubuk hatinya, ia tahu — waktu itu semakin menipis. Dan jawaban yang ia cari semakin dekat. Malam itu, Rania menulis di buku hariannya: Hari ini angin menyingkap sedikit rambut Kenzy. Dan aku melihat sesuatu yang membuat duniaku berhenti berputar. Sebuah bintang. Di pelipis kirinya. Tepat di tempat yang sama, tepat dengan bentuk yang sama. Aku ingin percaya itu kebetulan. Tapi aku tidak bisa. Semua hal — punggungnya, gerakannya, tatapannya, dan sekarang ini — semuanya menunjuk ke satu arah. Tapi aku takut. Takut jika aku bertanya, jawabannya akan memecahkan hatiku. Atau lebih buruk lagi — takut jawabannya benar, dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dengan kebenaran itu. Dan di halaman berikutnya, ia menulis satu kalimat lagi: Apakah kau dia? Atau aku hanya berharap kau dia? Sementara itu, di tempat lain, Kenzy juga terjaga. Ia menatap langit malam yang dipenuhi bintang — ribuan bintang bersinar terang, namun matanya hanya tertuju pada satu bintang yang tidak ada di langit, melainkan tersembunyi di balik rambutnya sendiri. Suatu hari nanti, batinnya berjanji pada dirinya sendiri. Suatu hari nanti aku akan menyingkap rambut ini dan memperlihatkan segalanya padamu. Aku akan membiarkanmu melihat siapa aku sebenarnya. Tapi belum sekarang. Tolong beri aku waktu sedikit lagi. Dan takdir di langit seakan mendengar permohonan itu. Namun takdir juga tahu — waktu yang diminta semakin sedikit. Dan kebenaran yang tersembunyi itu semakin tidak sabar untuk terungkap. Mereka berdua masih berjalan dalam kabut. Rania dengan keraguannya, Kenzy dengan ketakutannya. Namun satu hal yang tidak mereka ketahui — kabut itu semakin menipis. Dan cahaya kebenaran itu semakin terang, menunggu saat yang tepat untuk menyinari mereka berdua. Dan saat itu tiba... tidak ada lagi yang bisa menyembunyikan apa pun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN