Hari-hari berikutnya, Rania hidup dalam pertarungan batin yang tak pernah usai. Setiap pagi saat membuka mata, pertanyaan yang sama kembali menghantuinya — siapa sebenarnya pemuda yang berjalan di sampingnya setiap hari? Dan setiap malam saat menutup mata, bayangan rambut yang tertiup angin itu kembali muncul — seberkas detik yang mengubah segalanya, namun belum membuktikan apa pun.
Ia duduk di bangku teras perpustakaan, menatap ke arah halaman kampus tempat Kenzy berjalan mendekat. Seperti biasa, rambut poni itu jatuh menutupi sisi kirinya sempurna, seakan tak ada angin yang pernah meniupnya, seakan tak ada apa-apa di baliknya. Namun Rania tahu — ia tahu apa yang pernah ia lihat. Garis itu. Bentuk itu. Bintang itu.
Tapi cukupkah sekejap itu untuk memastikan segalanya? Cukupkah sepotong bayangan untuk mengubah seluruh dunianya?
"Kau menatapku seakan aku menyembunyikan sesuatu," suara lembut itu terdengar tepat di hadapannya.
Rania tersentak, pipinya memerah seketika. Kenzy sudah berdiri di depannya, tas tersampir di bahu, senyum tipis di bibir — senyum yang selalu membuat jantungnya berdebar, namun kini juga membuat hatinya sesak.
"Aku... hanya melamun," jawabnya buru-buru, mengalihkan tatapan.
Kenzy duduk di sampingnya, jarak di antara mereka cukup dekat untuk merasakan kehangatan tubuh satu sama lain, namun terasa jauh seperti dua dunia yang tak pernah benar-benar bertemu.
"Kau belakangan ini sering melamun," ucap Kenzy pelan. "Dan sering menatapku dengan tatapan yang... sulit kuartikan. Seperti kau mencari sesuatu."
Rania menelan ludah. Ia mencari sesuatu — ya. Tapi ia belum tahu apakah Kenzy memilikinya.
"Aku hanya... berpikir tentang masa lalu," jawabnya pelan, berani menatapnya. "Tentang siapa kita dulu, sebelum kita bertemu di sini. Apakah kita sama seperti sekarang? Atau apakah kita pernah menjadi orang yang berbeda?"
Pertanyaan itu sederhana, namun dampaknya pada Kenzy begitu nyata. Jemarinya yang bertumpu pada bangku langsung menegang. Wajahnya yang tenang seketika berubah pucat. Napasnya tertahan sejenak sebelum ia menjawab.
"Kita semua pernah menjadi orang yang berbeda," ucapnya akhirnya, suaranya rendah dan berat. "Dan tidak semua versi diri kita dulu... layak untuk dibanggakan."
Rania menatapnya lekat-lekat. Ada kesedihan mendalam di matanya — penyesalan yang begitu berat, seakan ia memikul beban yang tak terlihat oleh siapa pun.
"Kenzy... apa yang kau sembunyikan?" tanyanya lembut namun tegas. "Kau tidak pernah bercerita tentang sekolahmu dulu. Tentang teman-temanmu. Tentang keluargamu. Seakan kau muncul dari ketiadaan begitu datang ke kota ini."
Kenzy menunduk, menatap tanah di hadapannya. Ia menggigit bibir bawahnya, bergumul dengan kata-kata yang seakan terlalu berat untuk diucapkan.
"Aku datang ke sini sendirian," mulainya pelan, suaranya bergetar. "Karena aku tidak bisa lagi tinggal di kotaku sendiri. Aku diusir dari sekolahku. Ditolak oleh semua sekolah di kota itu. Tidak ada satu pun yang mau menerimaku."
Rania tertegun. Ia tidak menyangka akan mendengar kejujuran itu begitu cepat.
"Kenapa?" tanyanya lembut. "Apa yang terjadi?"
Kenzy menarik napas panjang, seakan setiap kata yang akan keluar menyakiti hatinya sendiri.
"Aku... pernah terlibat perkelahian," akui Kenzy, matanya berkaca-kaca namun ia menatap lurus ke depan, tidak berani menatap Rania. "Dan orang bilang... aku memukul seorang wanita lemah. Itu tidak sepenuhnya benar, tapi pada akhirnya... akulah yang disalahkan. Akulah yang diusir. Namaku dicoreng di seluruh kota. Orang tuaku malu. Aku melihat mereka menangis karena aku... dan itu lebih menyakitkan daripada segala hukuman yang diberikan padaku."
Suaranya pecah di akhir kalimat. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan sejenak, berusaha menahan emosi yang meluap.
"Aku merasa begitu bersalah pada mereka," lanjutnya pelan, suaranya teredam. "Aku telah mempermalukan mereka. Membuat mereka ditatap aneh oleh tetangga, oleh kerabat. Dan aku tidak sanggup melihat air mata mereka lagi. Jadi aku pergi. Ke kota ini. Ke sekolah ini. Berharap bisa memulai dari awal. Menjadi orang yang lebih baik. Yang tidak akan menyakiti siapa pun lagi."
Rania diam mendengarkan, hatinya terasa perih mendengar pengakuannya. Ia tidak menyangka beban yang dipikul pemuda ini begitu berat.
"Dan itu sebabnya kau takut?" tanyanya lembut. "Takut jika aku tahu... aku akan berpikir kau orang jahat?"
Kenzy mengangkat wajahnya, dan air mata menetes di pipinya.
"Karena aku tidak sebaik yang kau pikirkan, Rania," akunya dengan suara yang penuh kepedihan. "Kau melihatku lembut, tenang, tidak pernah menyakiti siapa pun. Tapi kau tidak tahu siapa aku dulu. Kau tidak tahu apa yang pernah kulakukan. Dan aku takut... begitu kau tahu semuanya, kau akan menjauh. Kau akan melihatku sama seperti orang-orang di kotaku dulu — seorang pemuda yang kasar, yang memukul wanita, yang memalukan keluarganya. Dan aku tidak sanggup kehilanganmu karena itu."
Rania menatapnya, hatinya terasa penuh oleh rasa iba dan kasih sayang yang lebih dalam dari sebelumnya.
"Kenzy... kau tidak memukul wanita tanpa alasan, kan?" tanyanya lembut.
"Itu tidak penting bagi mereka," jawab Kenzy getir. "Yang penting adalah tuduhan itu menempel padaku. Dan tidak ada yang percaya padaku. Termasuk guru, termasuk orang tuaku sendiri. Mereka hanya melihat apa yang terlihat, bukan apa yang sebenarnya terjadi."
"Dan kau takut aku juga akan sama?" tanya Rania pelan. "Menghakimimu tanpa mendengar ceritamu?"
Kenzy terdiam sejenak, lalu mengangguk perlahan.
"Kau begitu tulus, Rania. Begitu baik. Dan aku... aku merasa kotor di dekatmu. Seperti aku tidak pantas berdiri di sampingmu. Setiap hari aku bersyukur kau ada di sini... tapi setiap malam aku juga takut akan hari di mana kau mengetahui kebenaran itu. Hari di mana kau melihatku bukan sebagai Kenzy yang kau kenal sekarang, melainkan sebagai pemuda buruk yang ada di masa laluku."
Ia menatap Rania lekat-lekat, matanya penuh dengan ketakutan yang jujur.
"Itulah satu-satunya rahasia yang kusimpan, Rania. Bukan karena aku tidak percaya padamu... tapi karena aku tidak siap melihat tatapanmu berubah menjadi kebencian atau kekecewaan. Itu akan menghancurkanku."
Rania menatapnya lama, membiarkan kata-katanya meresap sepenuhnya. Ia mengerti sekarang. Selama ini Kenzy tidak menyembunyikan identitas pahlawan — ia menyembunyikan masa lalunya yang kelam. Ia takut Rania akan menilainya berdasarkan kesalahan masa lalu, bukan siapa dirinya sekarang.
Dan tentang tanda di pelipis itu? Tentang pahlawan yang ia cari? Kenzy sama sekali tidak menyebutkannya. Sama sekali tidak menyiratkan bahwa ia tahu Rania dicari-cari seseorang. Karena ia benar-benar tidak tahu. Ia tidak tahu bahwa Rania adalah gadis yang pernah ditolong seseorang dulu. Ia tidak menghubungkan Rania dengan kejadian itu sama sekali. Yang ia takutkan hanyalah satu hal — Rania akan pergi jika tahu siapa dirinya dulu.
"Kenzy..." Rania meraih tangannya, menggenggam lembut. "Terima kasih sudah jujur padaku. Dan ketahuilah — aku tidak menilaimu dari apa yang pernah terjadi di masa lalu. Aku menilaimu dari siapa kau hari ini. Pemuda yang lembut, yang sabar, yang baik hati padaku. Dan masa lalumu... tidak mengubah siapa kau sekarang."
Kenzy menatap tangan mereka yang bersentuhan, matanya berkaca-kaca.
"Kau benar-benar berpikir begitu?" tanyanya ragu.
"Aku yakin begitu," jawab Rania tegas. "Tapi... terima kasih sudah memberitahuku. Sekarang aku mengerti mengapa kau begitu tertutup."
Kenzy mengangguk pelan, namun ketakutan di matanya belum sepenuhnya hilang.
"Terima kasih," bisiknya. "Tapi tolong... beri aku waktu sedikit lagi sebelum aku menceritakan semuanya secara lengkap. Aku belum siap menceritakan detail kejadian itu. Aku belum siap mengingatnya kembali."
"Pelan-pelan saja," jawab Rania lembut. "Aku menunggumu."
Sore itu mereka berjalan pulang dalam diam yang berbeda dari sebelumnya. Rania kini mengerti alasan di balik kerahasiaan Kenzy — bukan karena ia pahlawan yang menyembunyikan identitas, melainkan karena ia pemuda yang terluka oleh masa lalunya dan takut dihakimi. Namun hal itu tidak menjawab pertanyaan terbesarnya: lalu siapa pahlawannya? Dan mengapa Kenzy memiliki tanda bintang yang sama di pelipisnya?
Pertanyaan itu kini terasa lebih membingungkan dari sebelumnya. Karena jika Kenzy bukan pahlawannya — lalu mengapa kemiripan itu begitu sempurna? Dan jika ia pahlawannya — mengapa ia tidak mengatakannya? Mengapa rahasianya hanya tentang masa lalu yang kelam, bukan tentang kejadian menolong seseorang?
Mungkin itu kebetulan, pikir Rania. Mungkin tanda itu memang ada di banyak orang. Dan aku hanya terlalu berharap sehingga melihat apa yang ingin kulihat.
Namun di lubuk hatinya, ia tahu — bentuk itu, letak itu, ukuran itu — terlalu spesifik untuk sekadar kebetulan. Tapi sekarang, setelah mendengar pengakuan Kenzy, ia tidak punya hati untuk menanyakan hal itu lagi. Pemuda di sampingnya itu baru saja membuka luka lamanya — dan menambah beban dengan pertanyaan tentang tanda di pelipis terasa tidak pantas untuk saat ini.
Di sisi lain kota, setelah berpisah dengan Rania, Kenzy duduk sendirian di tepi tempat tidurnya. Ia menghela napas panjang, tubuhnya terasa lelah seakan baru saja berlari berkilometer. Ia baru saja mengungkapkan rahasia terbesarnya — dan ia merasa lega, namun juga semakin cemas.
Aku belum menceritakan semuanya, batinnya. Tapi aku sudah mengambil langkah pertama. Dan jika Rania bisa menerima ini... mungkin suatu hari nanti aku bisa menceritakan sisa kebenarannya juga.
Ia sama sekali tidak teringat kejadian di halaman belakang sekolah itu. Ia sama sekali tidak menghubungkan gadis yang ia tolong dulu dengan Rania yang ada di depannya sekarang. Baginya, kejadian itu adalah masa lalu yang terpisah — sesuatu yang ia lakukan tanpa tahu siapa gadis itu, tanpa menanyakan namanya, tanpa melihat wajahnya dengan jelas. Ia tidak pernah menyangka bahwa takdir akan mempertemukannya dengan gadis itu di kota yang sama, di universitas yang sama.
Yang ia pikirkan hanyalah satu hal — Rania menerima dirinya. Setidaknya untuk sekarang. Dan itu sudah cukup membuatnya bersyukur.
Terima kasih, Rania, batinnya lembut. Terima kasih tidak menjauh. Aku berjanji... suatu hari nanti aku akan menceritakan semuanya. Semua yang tersisa.
Malam itu, Rania menulis di buku hariannya:
Hari ini Kenzy menceritakan sebagian masa lalunya. Ia diusir dari sekolahnya. Ditolak di mana-mana. Dituduh memukul wanita lemah. Orang tuanya menangis karena malu. Dan ia pergi ke sini untuk memulai dari awal. Ia takut aku akan menjauh jika tahu siapa dia dulu. Bukan karena ia menyembunyikan identitas lain... tapi karena ia takut aku melihatnya sebagai orang buruk.
Sekarang aku bingung lebih dari sebelumnya. Jika rahasianya hanya ini... lalu siapa pahlawanku? Apakah Kenzy memang bukan dia? Dan tanda di pelipis itu hanyalah kebetulan yang menyakitkan? Atau apakah Kenzy menyembunyikan dua rahasia sekaligus — masa lalunya yang kelam DAN identitasnya sebagai pahlawan?
Yang aku tahu — Kenzy tidak tahu bahwa aku mencari seseorang. Ia tidak tahu aku adalah gadis yang ditolong. Tak ada satu pun kata yang mengarah ke sana. Ketakutannya murni tentang masa lalunya, bukan tentang menolongku. Dan itu berarti... jika dia memang pahlawanku, ia sama sekali tidak tahu bahwa aku adalah gadis itu.
Rania menutup bukunya, menatap langit malam. Kabut belum terangkat. Justru sebaliknya — kini kabut itu semakin tebal, karena ia tidak tahu lagi apa yang harus ia cari.