Amelia menatap Leonardi dengan rasa takut dan benci yang bercampur aduk. Dia menggigit bibirnya, mencoba menahan isak tangis yang ingin meledak kembali. Dia tahu jika menunjukkan kelemahan di depan Leonardi, maka pria itu akan semakin berkuasa atas dirinya. Dan jelas Amelia tidak menyukainya. "Kalau Kakak pikir aku akan terus diam dan mengikuti permainan Kakak, itu salah besar," Amelia berbisik, suaranya bergetar namun penuh tekad. Leonardi menyeringai sinis. "Kamu tidak punya pilihan, Amel. Setelah apa yang telah terjadi di antara kita, suka atau tidak kamu adalah milikku." Kata-kata Leonardi membuat Amelia semakin terguncang. Air matanya mengalir deras, tapi dalam hatinya Amel tahu dia harus melawan bagaimanapun caranya. "Aku akan memberitahu Papa dan Mama mengenai kelakuan Kakak

