Amelia tiba di kantor dengan wajah kusut. Perdebatan tadi dengan sang ayah masih terngiang di kepalan, membuat mood-nya semakin buruk. Dia melangkah masuk ke pantry, disambut oleh senyum Raka yang sedang membuat kopi.
"Kenapa muka kamu kusut banget, Mel? Mau kopi?" tanya Raka yang segera mengambil gelas lain.
"Biasalah, Raka. Tadi ada sedikit perdebatan sama Papa," jawab Amelia seraya mengambil cangkir yang disodorkan oleh Raka.
Entah sejak kapan Raka selalu menjadi tempat Amelia melampiaskan semua keresahannya. Amelia juga merasa nyaman saat berbicara dengan pria itu.
Tatapan Raka yang selalu hangat dan penuh perhatian kepada Amelia, seolah ingin mengatakan bahwa pria itu akan selalu ada untuk Amelia, membuat gadis itu merasa tersanjung. Tapi hanya sebatas itu, karena perasaan Amelia hanya tertuju pada Leonardi, pria yang sebentar lagi akan menjadi tunangan orang lain.
Jadi tidak salah bukan, kalau Amelia ingin menjalin hubungan dengan Raka dan mencoba melupakan Leonardi. Dia ingin menghindari hubungan terlarang yang mungkin saja akan menghancurkan keduanya.
Amelia melangkah menuju divisi keuangan diikuti oleh Raka. Untung saja jam kerja baru dimulai 15 menit lagi, jadi kehadiran Raka di ruangan itu belum mengganggu aktivitas divisi keuangan.
Gadis itu meletakkan tasnya dengan kasar di meja, lalu menjatuhkan diri ke kursi. "Aku nggak tahu kenapa Papa selalu seperti itu. Dia nggak pernah mengerti aku!"
Raka mengambil kursi di seberang meja Amelia, menatapnya penuh perhatian lalu bertanya. "Kenapa? Apa yang Papamu katakan kali ini?"
"Papa terus memaksaku untuk kerja di perusahaan keluarga. Katanya aku buang-buang waktu di sini. Padahal aku cuma mau punya pengalaman dulu sebelum masuk ke perusahaan Papa," jawab Amelia setelah menghela napas panjang dan menatap Raka dengan frustrasi.
Raka tersenyum lembut, mencoba menenangkan Amelia.
"Amel, kamu tahu Papamu cuma khawatir. Dia ingin kamu sukses dan mungkin nggak sabar mau lihat kamu mengelola perusahaannya." Amelia menggeleng cepat saat mendengar perkataan Raka.
"Itu bukan soal khawatir, Raka. Meskipun Papa nggak bilang, aku tahu kalau Papa itu nggak rela kalau Kak Leo yang mengambil alih semua bisnisnya," ujar Amelia setelah menggeleng kuat, nada suaranya lebih pelan.
Raka mengernyit saat mendengar perkataan dari Amelia, mengapa ayah gadis itu seakan tak rela jika perusahaannya jatuh ke tangan Leonardi. Bukankah anak sulung pria memiliki kedudukan yang lebih kuat di mata hukum?
"Padahal aku merasa kalau Kak Leo lebih cocok yang mengambil alih usaha Papa daripada aku," kata Amelia dengan lirih.
Suara Amelia membuyarkan lamunan Raka, dia
menyentuh tangan gadis itu dengan lembut lalu berkata dengan lembut.
"Papa kamu mungkin ingin kedua anaknya sama-sama sukses mengelola perusahaan sendiri. Bukan malah jadi b***k korporat seperti ini."
Amelia lalu memandang Raka, setelah beberapa saat berbicara dengan pria itu, Amelia mulai terlihat lebih tenang. Dia menyandarkan tubuhnya di kursi dan memandang Raka dengan ragu.
"Raka ... ngomong-ngomong soal Kak Leo, kamu sibuk nggak malam ini?" tanya Amelia dengan pelan.
Raka mengernyitkan dahi lalu bertanya. "Malam ini? Kayaknya nggak deh. Kenapa memangnya?"
Amelia mengalihkan pandangan, memilin rambutnya dengan jari telunjuknya mencoba merangkai kalimat yang akan dia katakan selanjutnya.
"Aku mau ajak kamu ke pesta pertunangannya Kak Leo. Papa dan Mama pasti sibuk dengan tamu-tamu, dan aku nggak mau sendirian di sana."
"Pesta pertunangan Kakakmu? Kamu yakin aku nggak bakal canggung di sana?" tanya Raka dengan ragu.
"Aku 'kan tadi udah bilang kalau orang tuaku pasti sibuk dengan tamu-tamu undangan. Dan aku nggak mau sendirian di sana, garing banget tahu rasanya. Ayo lah Raka, temenin aku di sana, ya. Please," bujuk Amelia layaknya anak kecil yang menginginkan hadiah. dari orang tuanya
"Oke, Amel. Aku akan datang. Kalau itu bisa bikin kamu nyaman," ucap Raka dengan senyuman hangat.
"Thank you, Raka."
Saat Amelia tersenyum dan mengucapkan terima kasih, Raka merasa duniannya berpusat kepada Amelia seorang. Belum pernah pria itu merasa jatuh cinta sedalam ini pada seorang wanita.
Dalam hatinya Raka bertekad untuk cepat menjadikan wanita itu kekasihnya. Tak peduli jika harus menghadapi kakak laki-laki Amelia yang menurutnya agak gila itu.
"Amelia. Aku suka sama kamu," ucap Raka tanpa sadar.
Sayangnya tidak hanya ada mereka berdua sehingga pernyataan cinta mendadak Raka itu segera mendapatkan sorak sorai dari orang-orang yang sejak tadi berada di ruangan yang sama dengan keduanya.
Raka terkejut akan suara sorakan yang riuh itu dan merutuki sikap impulsifnya. Pria itu juga tidak tahu sejak kapan Amelia dapat memengaruhi kehidupannya sampai sejauh ini.
Sementara rona merah pada pipi Amelia sangat jelas terlihat. Dia tak menyangka jika Raka akan mengungkapkan perasaannya.
Tapi apa yang harus Amelia lakukan sekarang? Menerimanya dengan nama Leonardi yang masih bertahta di hatinya? Atau menolak dengan resiko hubungan mereka akan berubah menjadi canggung?
Raka menggigit bibirnya, mencoba menenangkan debaran di dadanya yang tak karuan. Dia tak pernah menyangka ucapannya barusan—yang keluar begitu saja tanpa disaring—akan mengundang sorakan dari teman-teman mereka yang sejak tadi berada di ruangan ini.
Dia melirik Amelia yang masih mematung di tempat duduknya, rona merah di pipinya membuat gadis itu terlihat semakin manis, meski ekspresi terkejutnya tak bisa ia sembunyikan.
Amelia menunduk, jari jemarinya saling bertaut. Dia tak tahu harus berkata apa. Kata-kata Raka tadi seperti petir di siang bolong, menyambar perasaannya yang masih rapuh.
"Amelia ..." Raka memanggil, suaranya sedikit bergetar. "Aku serius dengan apa yang aku bilang tadi. Aku ... aku menyukaimu."
Amelia mendongak perlahan, matanya yang berkabut membuat Raka merasakan sedikit sesak. Namun bukannya jawaban, yang keluar dari bibir Amelia hanyalah gumaman kecil. "Raka ... aku ...."
Raka menatap dalam ke mata Amelia, seolah berusaha mencari tahu apa yang tersembunyi di balik tatapan itu. Namun, Amelia justru menghindar, mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Amelia, aku nggak minta jawaban kamu sekarang," ujar Raka dengan nada lembut. "Aku tahu ini mendadak, tapi aku nggak bisa lagi pura-pura lagi."
Amelia mengepalkan tangannya erat. Nama itu—Leonardi—masih bertahta di benaknya. Padahal pria itu akan bertunangan malam ini. Cinta pertamanya yang tak mungkin berhasil, meskipun Leonardi menciumnya terlebih dahulu.
Seharusnya Amelia tersentuh akan ketulusan Raka. Kehadirannya seperti cahaya yang perlahan-lahan menghangatkan luka-luka di hatinya. Namun salahkah dirinya yang terlalu dalam mencintai Leonardi yang notabene-nya adalah kakak angkatnya?
"Tapi, Raka ... aku nggak tahu harus bagaimana."
Amelia akhirnya bersuara pelan, namun terdengar jelas. Dia balik menatap pria itu dengan pandangan penuh kebimbangan.
Raka terdiam, dadanya terasa berat. Namun dia memaksakan senyum tipis.
"Aku ngerti, Mel. Aku nggak akan memaksa kamu untuk menjawabnya sekarang. Take your time, Amelia."
Amelia menghela napas panjang, kemudian mengangguk kecil.
"Maafkan aku, Raka," bisiknya lirih, nyaris tak terdengar.
Raka tersenyum sebelum berbalik dan berjalan keluar dari ruangan divisi keuangan. Meninggalkan Amelia yang hanya bisa memandang punggungnya, sembari berusaha menenangkan gejolak di dadanya.
Para rekan Amelia menahan tanya pada tenggorokan, gadis itu masih terlihat bingung dengan pernyataan cinta mendadak dari Raka. Tapi mereka semua berharap Amelia dan Raka akan menjadi pasangan.
Di antara semua rekan Amelia yang nampak berbahagia, nampak seorang wanita yang memandang sinis. Tangannya mengepal kuat dan menatap Amelia dengan penuh kebencian.
'Aku nggak akan membiarkan Raka berpacaran dengan wanita itu,' gumamnya di dalam hati.