Leonardi duduk di tepi balkon dengan sebatang rokok di antara jarinya. Asap putih melayang di udara, sementara tatapan matanya tajam menatap langit malam.
Setelah melakukan beberapa kali pertemuan dengan Alena yang di luar dugaan cukup membuat Leonardi terkesan karena sikap atraktif wanita itu. Akhirnya pertunangan keduanya akan diselenggarakan pada besok malam
Pertunangan yang bagi orang lain tampak romantis, tetapi bagi Leonardi semua itu hanya permainan bisnis.
Dan di sudut hatinya, bayangan Amelia terus muncul. Apalagi setelah mereka berciuman untuk pertama kalinya, bibir manis dan merekah itu tak dapat enyah dari pikirannya.
Sementara itu, Amelia berada di dalam kamar menahan rasa pahit di dadanya. Gadis itu kecewa dengan keputusan Leonardi untuk bertunangan dengan wanita lain.
Karena tak dapat tertidur membuat Amelia memutuskan untuk ke kamar Leonardi dan melihat pria itu sedang duduk dengan santai di balkon.
"Kenapa Kakak belum tidur? Padahal besok Kakak bertunangan," tanya Amelia setelah melawan rasa kelu pada lidahnya.
Leonardi tersenyum miring seraya memainkan rokok di jarinya.
"Hanya memandang langit dan merenung sebelum kebebasanku hilang. "
Amelia menghela napas lalu mendekati Leonardi.
"Kalau begitu kenapa Kakak mau melakukan pertunangan ini jika merasa kebebasan Kakak terenggut?" tanya Amelia dengan sendu.
"Jadi apa masalahnya, Amel? Aku rasa ini tidak buruk juga, wanita itu cukup menyenangkan," ucap Leonardi menatap tajam Amelia.
Amelia menahan air matanya saat mendengarnya, hatinya remuk saat mendengarnya Leonardi memuji wanita lain di depannya.
Leonardi mematikan puntung rokoknya, mendekat ke arah Amelia lalu meraih dagunya. Sedetik kemudian Leonardi mencium Amelia, membuat gadis itu kembali terkejut.
Sensasi lembut dan manis berpadu, bibir Amelia lebih nikmat dari rokok yang baru saja dia hisap.
Hasrat Leonardi terpantik ingin merasakan lebih dari yang dia lakukan sekarang, ciuman yang biasa itu kini menjadi lebih menuntut.
Leonardi mengigit sedikit bibir Amelia dan gadis itu membuka bibirnya.
Meskipun ini ciuman Kedua mereka, Amelia masih terkesan amatiran dalam mengimbangi ciuman yang dilakukan Leonardi. Keduanya saling mencecap, terpejam merasakan gairah terlarang yang seharusnya tidak mereka lakukan.
Ciuman itu berakhir saat Amelia mulai kehabisan napas dan memukuli punggung Leonardi dengan kuat. Pria itu menggeram lalu melepaskan tautan bibir keduanya dengan perasaan tak rela.
Amelia menatap nanar Leonardi, dia berusaha tegar saat berbicara dengan pria itu.
"Kenapa Kakak menciumku? Kakak anggap aku ini apa. Kenapa Kakak egois sekali, tapi ... bodohnya aku tetap nggak pernah bisa berhenti mencintaimu meski Kakak akan bertunangan besok."
Amelia berkata dengan menahan air matanya. Pandangannya pun mulai kabur akibat air matanya yang menggenang.
Namun Leonardi hanya membalasnya dengan senyum yang membuat Amelia hanya terdiam, tenggelam dalam kebingungan antara rasa sakit dan pesona Leonardi yang tak terelakkan.
Amelia lantas berlari menuju kamarnya dengan berbagai perasaan yang berkecamuk. Dia benci untuk mengakuinya, jika sangat menyukai rasa nikotin dari bibir Leonardi saat menciumnya.
Tubuhnya memang lelah, tapi matanya tak mau terpejam. Kenyataan jika Leonardi akan bertunangan pada besok hari seakan menyiksannya. Amelia tak sanggup membayangkan melihat Leonardi akan bersanding dengan wanita lain.
Tak mau larut dengan perasaan menyiksanya membuat Amelia membuka laci meja riasnya dan menenggak 2 pil obat tidur. 15 menit kemudian, obat itu menunjukkan reaksinya. Amelia mengantuk dan segera menuju ke alam mimpi.
Amelia merasa bahunya diguncang keras dan saat membuka matanya, dia melihat Rina duduk di pinggiran ranjangnya dengan pakaian rumah. Merasa masih mengantuk membuat Amelia kembali memejamkan mata dan bergulung dengan selimut tebalnya.
"Cepat mandi, Mel. Sudah jam setengah 7 kurang 10. Mama masak nasi goreng kunyit kesukaan kamu."
Makanan kesukaannya yang disebut oleh Rina membuat Amelia seketika duduk dengan posisi tegak, semenit kemudian gadis itu segera menuju ke kamar mandi. Melihat tingkah laku sang putri yang masih kekanak-kanakan itu, membuat Rina hanya menggelengkan kepalanya. Wanita itu segera keluar dari kamar sang putri dan kembali ke dapur untuk mempersiapkan sarapan pagi
10 menit kemudian, Amelia sudah siap dan bergabung dengan ketiganya. Gadis itu tak berani menyela pembicaraan serius yang dilakukan oleh Reza dan Leonardi. Dia lebih memilih untuk sarapan.
"Kamu sudah siap untuk acara nanti malam, Leo?" tanya Reza
Leonardi menatap sekilas ayah angkatnya, lalu melanjutkan kunyahannya sebelum menjawab pertanyaan itu.
"Tentu saja aku sudah siap," jawabnya singkat.
"Tapi kenapa kamu santai sekali?" tanya Rina seraya menatap bingung Leonardi.
Leonardi menyemburkan tawanya, tawa yang membuat sepasang suami istri itu hanya mengerutkan dahi. Sementara Amelia memandang Leonardi dengan sendu, tak percaya jika pria itu dengan mudahnya dapat mempermainkan sebuah hubungan.
"Terus aku harus bagaimana? Aku ini 'kan cuma membawa diri untuk acara nanti malam. Jadi apa yang harus aku pusingkan," jawab Leonardi yang kini memilih untuk menghabiskan sarapannya.
"Pulanglah saat makan siang, Leo. Meski kamu cuma membawa diri, tetap saja kamu harus mempersiapkan diri dengan maksimal. Jangan mempermalukan kami dengan penampilan yang urakan," ucap Reza setelah membuang napas panjang.
"Kamu juga kalau bisa pulang cepat, Amel. Lagian Papa bingung sama kamu, Papa ini punya perusahaan, tapi kamu malah kerja sama orang lain," ucap Reza sembari menggelengkan kepalanya.
Amelia menyunggingkan senyum lebar, dia menjawab sang ayah setelah menghabiskan minum.
"Aku akan izin setengah hari, Pah. Ah ... kalau kerja di perusahaan Papa nggak seru, nggak ada tantangannya."
"Tapi perusahaan Papa ada banyak, masa kamu nggak tertarik untuk mengelola salah satunya?" tanya Reza dengan nada serius.
Suasana di ruang makan itu tiba-tiba terasa tegang, Amelia meringis di dalam hatinya. Dia akhirnya menghindari tatapan tajam ayahnya.
Sementara itu Rina, berusaha menjaga suasana tetap terkendali sambil menyajikan secangkir kopi untuk suaminya.
"Papa, aku mau belajar dulu. Aku juga nggak mau orang-orang bilang kalau aku cuma dapat posisi karena anak pemilik perusahaan."
Reza menaikkan alis, tersenyum sinis saat mendengarnya.
"Omong kosong. Kamu tahu Leonardi bisa sukses karena kerja keras, 'kan? Dia nggak pernah ragu mengambil tanggung jawab yang Papa berikan." Reza mencondongkan tubuh ke depan, menekan setiap katanya.
"Kamu juga bisa seperti Leonardi, Amel. Jangan buang waktu untuk membesarkan perusahaan orang lain!"
"Tapi Pah ... aku mau sukses dengan caraku sendiri. Bukan atas bantuan Papa atau Kak Leo," ucap Amelia sembari menunduk, merasa terpojok.
Reza mendengus keras, meletakkan sendoknya ke piring dengan bunyi keras.
"Papa cuma nggak mau lihat kamu buang-buang waktu dan tenaga untuk hal yang nggak perlu."
Rina akhirnya membuka suara, mencoba menenangkan suasana, sebelum perdebatan semakin memanas.
Rina tersenyum lembut, meletakkan tangan di bahu sang suami. "Sayang, Amelia sudah dewasa. Biarkan dia membuat keputusan sendiri. Kalau dia merasa butuh pengalaman, kita harus mendukungnya."
"Pengalaman? Apa gunanya kalau itu di perusahaan orang lain?" Reza mendengus lalu menatap sang istri dengan tatapan tidak setuju
Rina tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana. "Papa, dunia bisnis itu luas. Bukankah lebih baik Amelia punya pandangan yang berbeda sebelum dia masuk ke perusahaan kita? Siapa tahu itu malah jadi keuntungan buat kita nanti."
Rina lalu menoleh ke Amelia dan berkata.
"Kamu juga jangan terlalu keras kepala, Amel. Papa cuma ingin yang terbaik buat kamu."
"Aku tahu, Mah. Tapi aku butuh waktu. Selain itu di kantor ada Raka dan kami mulai dekat akhir-akhir ini. Rasanya aku belum siap kalau mesti berjauhan sama Raka," ucap Amelia memandang Leonardi sekilas.
Dia ingin memastikan reaksi Leonardi saat mendengarnya akan memulai hubungan dengan pria lain. Marahkah? Cemburukah? Atau apa?
Namun sayang Leonardi hanya menunjukkan ekspresi datar, membuat Amelia tak dapat menebak apa yang ada di dalam pikirannya. Amelia pun hanya dapat menghela napas kecewa.
Jadi apa arti ciuman yang telah mereka lakukan? Apakah itu tidak berarti bagi Leonardi? Kalau iya, kenapa Leonardi mencium Amelia seakan dia adalah seorang pria yang mendambakan Amelia sebagai tambatan hati?
"Sudah, sudah. Hari makin siang. Kalau kalian terus berdebat, kalian malah akan telat ke kantor.
Suara Rina yang kencang menyadarkan Amelia dari lamunannya. Saat menoleh sang ayah sedang menghabiskan kopinya, lalu berdiri dari kursi, Reza melirik Amelia sejenak sebelum melangkah pergi.
Amelia hanya dapat menghembuskan napas kasar saat melihat reaksi Reza yang cukup dingin. Tak lama gadis itu menoleh kembali ke arah Rina yang mengulas senyuman.
Dalam hatinya Amelia bersyukur setidaknya pagi ini berakhir tanpa konflik besar, meskipun ketegangan tetap tersisa di udara.