Cahaya matahari yang silau membuat mata Takumi menyipit ketika menatap anak perempuan yang sedang berjongkok dan mengorek-ngorek tanah bersalju dengan ranting di samping gedung sekolah. Sepertinya anak itu sedang mencari sesuatu. Sesekali ia meniup tangannya yang tidak bersarung tangan. Dan sepertinya ia juga sedang menangis. Takumi menoleh ke belakang. Teman-temannya belum keluar. Tadi mereka bilang mereka tidak akan lama, hanya akan memberikan hadiah ulang tahun kepada guru SD favorit mereka. Takumi tidak terlalu setuju dengan ide itu. Memang benar, guru itu guru favorit mereka semasa SD, tetapi kini mereka sudah menjadi murid SMP. Menurut Takumi mereka tidak pantas lagi bersikap sentimental dan kekanak-kanakan seperti itu. Namun teman-temannya tidak mau mendengar alasannya. Ia ikut k
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


