“Jadi polisi sudah tahu siapa yang menyerangmu waktu itu?” tanya Aiko dengan mata terbelalak. “Mereka benar-benar sudah tahu siapa orangnya?” Mereka duduk berhadapan di warung mi langganan mereka dengan dua mangkuk ramen panas di meja. Takumi baru saja bercerita tentang apa yang dikatakan pamannya tadi siang tentang kecelakaan yang menimpanya dan membuatnya hilang ingatan itu. Takumi mengangkat bahu. “Begitulah kata pamanku. Tapi pada tahap ini kurasa mereka hanya memiliki kecurigaan. Belum bisa dipastikan.” “Itu juga sudah bagus. Itu berarti polisi kita benar-benar sudah bekerja keras,” kata Aiko penuh semangat. Ia berhenti sejenak, lalu berkata dengan kening berkerut, “Takumi-san, mungkinkah orang-orang itu penagih utang?” “Aku tidak punya utang.” Aiko meringis. “Kau kan tidak ingat

