BAB 19

1635 Kata
Oh! Aiko merasa jantungnya berdebar kencang. Tangannya mencengkeram pegangan besi di ambang pintu gerbong kereta dengan erat. Ia mengerjapkan mata dan menatap Takumi. Laki-laki itu memang tersenyum, tetapi entah kenapa Aiko tidak merasa Takumi sedang bercanda. Tidak, laki-laki itu serius. Apakah Takumi berusaha mengatakan bahwa ia menyukai Aiko? Aiko menahan napas, matanya terbelalak, dan jantungnya berdebar kencang. Perasaan apa ini? “Kau tidak perlu mengatakan apa-apa sekarang,” kata Takumi sambil memasukkan kedua tangan ke saku jaket. “Aku tahu sekarang bukan waktu yang tepat.” Ia menoleh ke kiri dan ke kanan. Mereka sedang berada di stasiun kereta dan sebentar lagi kereta Aiko akan berangkat. Benar-benar pilihan waktu yang buruk. Aiko diam menunggu kelanjutan kata-kata Takumi. Ia merasa seperti disihir. Tidak bisa bergerak. Tidak bisa berkata-kata. “Sebenarnya ada hal lain yang ingin kukatakan padamu. Mengenai ingatan masa kecilmu. Tapi akan kuceritakan nanti saat kau kembali,” kata Takumi perlahan. Lalu ia tersenyum dan melanjutkan, “Saat kau kembali nanti, aku akan ada di sini.” Setelah itu pengumuman terakhir terdengar melalui pengeras suara dan pintu gerbong tiba-tiba bergerak menutup, membuat Aiko tersentak mundur selangkah. Takumi mengangkat sebelah tangannya untuk melambai sementara kereta mulai bergerak perlahan. Aiko terus menatap Takumi yang tetap berdiri di tempatnya. Kemudian sosok Takumi pun semakin kecil dan akhirnya menghilang dari pandangan. Ini aneh. Aiko menutup mulut dengan sebelah tangan dan perlahan berjalan ke tempat duduknya. Dengan agak lemas ia menyandarkan punggung ke sandaran kursi. Pemandangan di luar sana berlalu dengan cepat, silih berganti, tetapi Aiko tidak peduli. Kata-kata Takumi tadi membuat jantungnya berjumpalitan. ‘Kau bisa melupakannya dan mulai benar-benar ... benar-benar melihatku?’ Sebenarnya, kalau dipikir-pikir, selama ini Aiko sudah melihat Takumi. Selalu melihat Takumi. Hanya saja ia tidak menyadarinya sampai ... sekarang? Atau semalam? Kata-kata Takumi kemarin sore terngiang-ngiang di telinganya. ‘Berhati-hatilah, Aiko-chan. Setelah kencan ini, kau mungkin akan jatuh cinta padaku.’ Jatuh cinta pada Takumi? Aiko tidak pernah memikirkan hal itu. Ia belum tahu bagaiman perasaannya, tapi saat ini suatu perasaan aneh yang menyenangkan timbul dalam hatinya. Di samping perasaan senang yang terbit di hatinya, ada juga perasaan janggal. Aiko merasa agak tidak tenang. Mungkin seharusnya ia mengatakan sesuatu tadi. Sesuatu apa? Yah, apa saja, selain diam mematung menatap Takumi. Kalau tadi ia mengatakan sesuatu, mungkin ia tidak akan merasa resah seperti ini. Mungkin saja ... Tiba-tiba saja Aiko tidak sabar ingin segera tiba di Kyoto dan menunggu telepon dari Takumi. *** Takumi melajukan mobil di sepanjang jalan raya yang cukup ramai, sibuk berpikir dan menyusun rencana. Ia memang ingin mengungkapkan perasaannya kepada Aiko, tetapi pilihan waktunya tadi payah sekali. Aiko membuatnya merasa gembira, tenang, dan ... hidup. Memang masih banyak yang ingin dikatakannya kepada gadis itu, tetapi kali ini ia harus memilih waktu yang cocok sebelum mencoba menjelaskan semuanya. Tiba-tiba suatu pikiran terbesit dalam benak Takumi. Mungkinkah Aiko akan mengira Takumi hanya menganggapnya sebagai tempat pelampiasan karena wanita yang dulu pernah disukainya akan menikah dengan sahabatnya? Takumi terpekur dan mengangguk-angguk. Mungkin saja. Kalau begitu Takumi harus meyakinkannya. Ia terlalu sibuk memikirkan masalah itu sampai tidak menyadari keberadaan mobil hitam di belakangnya. Sebenarnya mobil hitam itu sudah mengikutinya sejak Takumi berangkat dari apartemen tadi siang untuk mengantarkan Aiko ke stasiun. Ketika Takumi membelokkan mobil ke jalan sepi yang merupakan jalan pintas ke apartemen pamannya, mobil hitam yang selama ini tetap menjaga jarak di belakang Iangsung melesat maju melewati mobil Takumi. Kaztuo buru-buru menginjak rem ketika mobil hitam itu berhenti di depannya, menghalangi jalan. Kening Takumi berkerut. “Apa-apaan ini?” Ia melihat ke belakang dan menyadari mobil hitam lain sudah berhenti di belakang mobilnya. Sebelum Takumi sempat memahami apa yang sedang terjadi, sekitar lima pria berjaket hitam dan bertampang seram keluar dari kedua mobil di depan dan belakangnya. Mereka terlihat seperti yakuza*. Takumi mencium adanya bahaya, tetapi tidak ada yang bisa dilakukannya sekarang kecuali mencari tahu apa yang diinginkan orang-orang aneh itu. Dengan perasaan waswas ia membuka pintu mobilnya dan melangkah keluar. Ia menatap kelima orang yang berdiri di depannya, lalu mengangkat kedua tangannya ke depan. “Dengar siapa pun yang sedang kalian cari saat ini, saya yakin kalian salah orang.” “Tidak. Tidak salah.” Takumi berbalik cepat dan berhadapan dengan pria berpenampilan rapi yang berumur tiga puluhan, atau mungkin lebih tua dari itu. Sebatang rokok terselip di antara bibirnya yang tipis. Rambut di atas kepalanya sudah mulai menipis, tetapi alisnya lebat. Dan hidungnya agak bengkok. Takumi mengerutkan kening. Ia pernah melihat orang itu. “Kau tidak ingat lagi padaku?” tanya pria itu dengan nada sinis. Mulutnya melengkung membentuk senyum mengejek. Takumi teringat pada orang aneh di gedung pertunjukan balet kemarin. “Anda yang ada di gedung pertunjukan kemarin?” tanyanya dengan nada ragu. Alis lebat pria itu terangkat, masih tersenyum sinis. Ia mengepulkan asap rokoknya dan berkata puas, “Ah, rupanya kau ingat juga.” “Tapi aku ...” “Coba ingat-ingat lagi,” potong pria itu tajam. “Sebelum itu kita sempat bertemu.” Takumi kembali memutar otak. Siapa pria ini? Apa yang diinginkannya? “Kau sama sekali tidak ingat?” Mata kecil pria itu menusuk mata Takumi. “Bagaimana kalau kukatakan padamu bahwa masih ada masalah yang belum selesai di antara kita?” tanya pria itu. Ia mengangguk-angguk dan melanjutkan, “Harus kuakui pukulanmu cukup keras, tapi kurasa sekarang saatnya kau menerima balasan dariku.” Tiba-tiba Takumi teringat. Pria ini adalah pria yang mengganggu Okada Hikari di tengah jalan malam itu. Takumi memang sempat meninjunya dan sekarang ia ingin membalas dendam? Apakah pria itu salah satu anggota yakuza? Sial! Ia sama sekali tidak ingin terlibat dengan yakuza. Takumi memandang berkeliling, mengamati anak buah pria itu, mempertimbangkan kelemahan situasinya saat itu. Ia tidak yakin bisa mengalahkan lima orang bertampang garang itu. Tetapi bagaimanapun juga ia harus mencobanya. Tidak ada cara lain. “Sepertinya kau mulai ingat, bukan?” tanya pria itu. Ia menyeringai, membuang sisa rokoknya ke tanah, dan menginjaknya. “Mungkin sekarang kita bisa mulai mengajarimu supaya tidak ikut campur urusan orang lain.” Ia melambaikan tangannya dan kelima anak buahnya bergerak maju menyerang Takumi. Takumi sempat menghindar dari beberapa tinju yang melayang ke arahnya dan sempat meninju rahang beberapa orang pria. Tetapi mereka terlalu banyak dan terlalu ganas. Sementara Takumi sibuk menghindar, ia tidak menyadari salah satu dari pria itu mengambil tongkat bisbol dari dalam mobil dan menghampirinya dari belakang. Takumi berputar dan terkejut melihat tongkat bisbol yang diayunkan ke arahnya. Ia menghindar secepat yang ia bisa, namun ujung tongkat sempat mengenai pelipisnya. Dengan langkah terhuyung, Takumi bergerak memasuki mobilnya. Menginjak pedal gas dengan sekuat tenaga dan memutar kemudi tanpa mempedulikan para pria yang mencoba menghalangi laju mobilnya. Hingga tiba-tiba dari arah berlawanan, sebuah SUV melaju cukup kencang dan keduanya tidak sempat lagi menginjak pedal rem. Suara benda keras berbenturan menggema sangat keras, diikuti pecahan-pecahan kaca yang berhamburan. Hal terakhir yang terlintas dalam benaknya adalah ia harus menelepon Aiko sore itu. Lalu kepalanya serasa meledak, diikuti percikan cahaya menyilaukan, lalu segalanya berubah gelap. *** Sudah hampir jam tujuh malam. Aiko mengalihkan pandangan dari jam dinding ke ponsel yang tergeletak di meja dan mengembuskan napas. ‘Kenapa belum menelepon?’ Lagi-lagi Aiko melirik jam dinding. Ia sudah tiba di Kyoto sekitar tiga jam yang lalu, tetapi Takumi belum menelepon sampai sekarang. Bukankah laki-laki itu bilang akan meneleponnya? Aiko tidak tahu kenapa ia bisa seresah itu. Tetapi ia memang resah. Ia menggigit-gigiti kuku dan kembali menatap ponselnya. Akhirnya ia meraih ponselnya dan mulai memencet beberapa tombol, lalu menempelkan ponsel ke telinga. “Moshimoshi? Hikari Oneesan?” Ia mendengarkan sesaat, lalu melanjutkan, “Ya, aku sudah di Kyoto. Oneesan ada di mana sekarang? ... Oh, begitu. Oneesan, ngomong-ngomong Oneesan sudah bertemu dengan Takumi-san?” Aiko kembali menggigit kukunya. “Belum? Oh ... Ah, tidak apa-apa. Ponselnya sedang rusak jadi aku tidak bisa meneleponnya. Ya ... Ya, tidak apa-apa ... Kalau Oneesan bertemu dengannya ... Ya ... Ya ... Terima kasih. Ya.” Aiko menutup telepon dan mengembuskan napas panjang. Ia menggigit bibir dan menatap ponsel yang ada dalam genggamannya. Apakah ia harus mencoba? Hanya untuk memastikan? Ia kembali memencet beberapa tombol di ponselnya dan menempelkan ponsel ke telinga. Setelah menunggu sejenak terdengar suara operator telepon yang menyatakan bahwa ponsel yang dituju sedang tidak aktif. Aiko menutup ponsel. Ia menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan keras. “Kenapa melamun sendiri di sini?” Terdengar suara berat ayahnya dari belakang. “Kau tidak membantu ibumu menyiapkan makan malam?” “Ya,” sahut Aiko cepat dan segera bangkit. Tidak apa-apa. Takumi mungkin memang sedang sibuk saat ini. Ia pasti akan menelepon Aiko nanti malam. Pasti. *** Dua jam yang lalu ... Kobayashi Hiroshi baru saja akan meninggalkan apartemennya untuk menghadiri pesta Natal yang diadakan salah seorang rekan bisnisnya ketika telepon di apartemennya berdering. Ia bermaksud mengabaikannya karena sebelah tangannya sudah membuka pintu depan, tetapi akhirnya ia menyerah dan masuk kembali ke apartemen. “Moshimoshi?” katanya dengan nada agak kesal. Ia melirik jam tangan Rolex yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Semoga saja ini tidak memakan waktu lama. Ia tidak ingin sampai terlambat menghadiri perayaan itu dan memberikan kesan buruk. “Apakah saya sedang berbicara dengan Kobayashi Hiroshi?” tanya suara seorang pria di ujung sana. Nada suaranya resmi dan kaku. Kening Kobayashi Hiroshi berkerut samar. “Benar. Saya sendiri.” “Kobayashi Hiroshi-san,” lanjut pria di ujung sana, “Kami dari kepolisian.” Kerutan di kening Kobayashi Hiroshi bertambah. Kepolisian? “Maaf, ada masalah apa? Apakah ada yang bisa saya bantu?” Ia mendengarkan sejenak, lalu mengangguk dan berkata, “Benar, itu mobil saya. Saat ini keponakan saya yang memakai mobil itu.” Jeda sesaat sementara Kobayashi Hiroshi mendengarkan katakata polisi itu. Tiba-tiba rahangnya menegang dan wajahnya memucat. Ia mencengkeram gagang telepon lebih erat dan suaranya terdengar tegang ketika ia berkata, “Anda serius? ... Seberapa parah keadaannya? ... Saya segera ke sana.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN