“Saya minta maaf, Dek.” Entah ini permintaan maaf Anggoro yang keberapa kali pagi ini. Ya, Bapak Dosen satu ini, pagi-pagi sekali sudah menungguku di pasar pagi. Membantuku dan Mbak Sum mendirikan stand, juga merapikan kue-kue, sembari terus memohon maaf. Aku belum menanggapinya, karena jujur saja aku masih sangat kesal, karena Anggoro rupanya bersekongkol dengan Ayu. Mereka pikir aku barang, yang bisa diestafet dari satu orang ke orang lainnya. Sialan memang mereka! “Silakan, Kak, mau yang mana kuenya?” tanyaku menawari pembeli yang baru saja datang, mengabaikan Anggoro yang belum juga beranjak dari stand milikku, meski sejak tadi aku abaikan. “Kak, besok saya pesan bubur campur 20 porsi ya,” ucap pembeli yang barusan kutawari. “Boleh, pesanannya untuk jam berapa, dan atas nama siap