Sudah setengah jam berlalu, dan Pram masih bertahan dengan diamnya. Aku sudah mencoba bertanya, apa yang sebenarnya terjadi dengan pria ini, namun Pram sama sekali tidak berniat untuk menjawab pertanyaanku. Kutatap lagi, pria yang masih terpejam dan menyandarkan tubuhnya pada punggung sofa. Pram terlihat kelelahan dan sepertinya juga kurang tidur. Namun aku jelas tidak akan menawarinya untuk tidur di kamar tamu, untuk menghindari hal yang tidak-tidak. “Pram,” panggilku lagi. Aku tak tahan lagi, karena Pram sejak tadi hanya diam, tanpa berniat berbicara denganku, padahal aku sudah sangat penasaran. “Hmm.” Pram hanya bergumam lirih, namun bisa kudengar dengan jelas, karena suasana rumah yang begitu sunyi. Mbak Sum pasti sedang beberes di belakang. “Tapi nggak seharusnya kamu ke sini, saa