Enam Puluh

211 Kata
*Author Pov* Permainan semakin seru di babak terakhir ini, mereka hanya terpaut selisih angka yang tidak jauh. Sena terlihat menggeram saat lagu-lagi tim lawan bisa mencuri angka pada mereka. "Fokus! jangan sampai mereka bisa mengambil angka lagi!" teriak Sena memberikan semangat pada teman-temannya. Tetapi sepertinya dewi keberuntungan tidak ada di samping mereka, saat bola yang di lempar oleh tim lawan tidak berhasil di terima oleh Sena. Lalu bunyi pluit pertandingan berakhir pun berbunyi. Sena juga teman-teman satu timnya terlihat syok dengan kekalahan mereka, sedangkan tim lawan ber eforia karena kemenangan mereka. Juna meneguk ludahnya menatap Sena yang begitu terpuruk. Padahal ini baru pertandingan awal mereka tetapi mereka harus kalah sampai di sini. Juna melirik Rio yang sepertinya terlihat khawatir pada Sena. Diam-diam Juna jadi berpikir, bagaimana kalau mereka juga kalah di babak penyisihan awal ini? pasti Rio akan sangat sedih. Walaupun Juna yakin Rio pasti tidak akan mengatakan hal-hal buruk jika itu terjadi. Tetapi membayangkannya saja membuat Juna merasa tidak suka. Sembari menunggu pertandingan selanjutnya di mulai, Rio pamit pergi ke kamar mandi. Juna melihat kakak kelasnya itu pergi semakin menjauh dari tempat duduk mereka. Mungkin bukan hanya Juna tetapi juga Haqi dan anggota yang lain yang tahu jika Rio pasti bukan pergi ke kamar mandi namun pergi menghampiri Sena. *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN