“Jadi, Nyonya mau bertemu dengan Tuan, tapi sebagai Ava?” “Iya. Nanti datanya akan saya kirim. Kasih waktu untuk saya membuatnya.” “Baik, Nyonya. Kalau begitu, saya permisi dulu.” Aira mengangguk. Ia biarkan Brian pergi dari hadapannya. Langkah pria itu terdengar makin menjauh hingga akhirnya menghilang di balik koridor mansion. Suasana mendadak terasa sepi. Perempuan tersebut berdiri diam beberapa saat. Tatapannya kosong mengarah ke depan, tetapi pikirannya berjalan ke mana-mana. Mungkin, hanya dengan cara ini Aira menunjukkan siapa dirinya. Lagi pula, nama masa kecilnya tidak diketahui oleh siapa pun. Tidak oleh keluarga panti maupun oleh Respati. Bahkan, Lina sekalipun tidak pernah mendengarnya. Nama Ava selama ini terkubur jauh bersama masa lalu yang berusaha ia lupakan. Perempua

