Sepanjang perjalanan, Aira hanya diam. Perempuan itu duduk tegak di jok belakang sambil berusaha menenangkan dirinya sendiri. Angin sore menerpa cadarnya tanpa henti, membuat ujung kain tersebut berkibar ke belakang. Di tengah lalu lintas yang mulai padat, motor yang dikendarai Kallandra tetap melaju dengan kecepatan tinggi. Kedua tangannya sesekali meremas sisi pinggang Kallandra ketika laju kendaraan itu makin meningkat. Motor tersebut membelah jalanan dengan lincah, melewati deretan mobil yang bergerak lebih lambat. Beberapa kali Kallandra memanfaatkan celah sempit di antara kendaraan untuk menyalip. Hal itu membuat jantung Aira berdebar tidak nyaman sejak beberapa menit terakhir. “Bawa motornya pelan-pelan saja, Mas!” Aira berujar dengan suara sekeras mungkin. Suaranya nyaris teng

