Napas Aira tertahan selama beberapa detik. Dari mana pria itu bisa tahu? Kapan Kallandra melihatnya? Sungguh, berbagai pertanyaan menghantamnya satu demi satu. Ia langsung menunduk, menatap tanah yang ia pijaki. “Itu ... hukuman dari suamiku, Mas.” Aira menjawab ragu. “Jadi, kamu sering pulang ke rumah suami kamu?” Kallandra menebak cepat. “Rumah kamu di sekitar Jakarta saja?” Aira mengangguk. Ia menghela napas panjang. Perlahan, wajahnya terangkat. Tatapannya lurus ke depan, seolah mencari sesuatu yang selama ini hilang. Perempuan tersebut seperti menginginkan sebuah ketenangan, menghindar dari berbagai hal buruk yang sudah menimpanya selama hidup dengan Respati. “Kenapa kamu masih bertahan, Aira?” Kallandra bertanya dengan nada khawatir. Aira menoleh. Tatapannya pada Kallandra

