Kallandra mengerjap takjub dengan wajah Aira. Perempuan di depannya benar-benar membuatnya terhipnotis. Mata hitam bulatnya berbinar, kulit putih bersih seperti s**u, bibir merah ranum, dan berhidung mancung. Untuk beberapa saat, pria itu seperti lupa caranya berkedip. “Cantik,” gumam Kallandra. Tanpa disangka, suara itu masih bisa didengar Aira. Ia tertegun beberapa saat, sebelum akhirnya menutupi sebagian wajahnya sendiri dengan telapak tangan. Jantungnya berdegup tidak nyaman. Sudah terlalu lama ia menyembunyikan wajahnya di balik kain cadar. Dan ketika mendengar pujian itu justru membuatnya canggung. Apalagi yang mengucapkannya adalah kembaran suaminya sendiri. “Maaf, Tuan. Saya permisi dulu.” Tanpa menunggu jawaban Kallandra, perempuan itu segera pergi untuk mengambil kain cad

